Thursday, September 14, 2017

Menyiapkan Generasi Multitalenta Sejak Dini




Cerdas menurut ayah-bunda apa sich? Menonjol di kelas? Angka 90 yang memenuhi rapot? Selalu menjadi andalan di kelas? Selalu menjadi kutu buku? eits jangan baper dulu ayah-bund kalau anak belum menonjol di kelas, kalau anak sering ‘dinyinyirin’ tetangga. Percaya saja bahwa anak hebat pada masanya. Beneran loh, anak hebat itu ada timmingnya. Yang perlu kita persiapkan adalah ‘ILMU’untuk menjadikannya hebat. 

Friday, September 8, 2017

Menyerupai Masji Nabawi Madinah




            Namanya adalah masjid NAMIRA berlokasi di Mantub-Lamongan. Dekat dengan alun-alun Lamongan. Sempat baca salah satu cerita di facebook bahwa pas Ramadhan kemaren masjid ini menyediakan buka puasa 1000 porsi.  WOW amazed. Dan alhamdulilah rabu kemarin diberi kesempatan untuk mengunjungi masjid ini. apakah direncakan sebelumnya untuk berkunjung? Tentu saja tidak. 

Tuesday, August 29, 2017

Cewek Labil




            Mentari masih sayup-sayup di peraduan. Menyiratkan sinar yang menawan. Mereka menyebutnya fajar. Sedetik kemudian mentari berubah menjadi terik yang menyengat. Suasana dikota berbeda jauh dengan desa yang sunyi senyap. Tak lagi kudengar kokok ayam tetangga, hanya bising kendaraan yang memenuhi cuping ini. Apapun kondisinya, mau tak mau, betah maupun tidak harus terus kujalani dengan sepenuh hati. Tekad  itu masih menyala untuk menyelesaikan study di kota metropolis ini. “Bisa itu karena biasa, Nduk.” Masih teringat pesan ibunda saat kuceritakan kondisi yang sangat berbeda dengan kampung halaman. Apalagi yang mampu menguatkan hati, jika tidak melihat kerutan tipis di wajah teduh wanita yang usianya mencapai setengah abad ini.


            Masih soal yang sama, tentang perubahan kondisi yang membuatku kurang nyaman. Berteman dengan kesunyian dan terbuai dengan sepoi angin adalah kemewahan yang tak lagi kudapat dikota metropolis ini. Tapi tak begitu lama, aku pun membuka diri untuk berkawan dengan siapapun. “sama-sama merantau pasti butuh teman.” Pikirku. Gayung pun tersambut. “Azalea, kamu?” sembari menyodorkan tanganku untuk menjabat tangannya. “Kayla.” Tangan kita bertautan.  Perkenalan singkat terjadi antara kami. janjiann untuk ketemu di taman kampus pun sudah disepakati. Satu alasan lagi untuk terus menetap di kota metropolitan telah kudapatkan. “Semoga menjadi awal yang baik.” Tuturku dalam diri. Bahwa masih banyak hal yang pantas disyukuri, daripada mengeluh pada keadaan yang tak sesuai dengan keinginan hati. 

***
“Semua cowok sama ternyata.” Up date statusnya muncul diberandaku. Dengan emoticon sedih dan marah tentunya. 
“Apakah dia cowok yang baik? Apakah dia jodohku.” Selang beberapa detik muncul lagi. Seminggu ini saat asyik mementengi beranda Facebook karena kuliah belum padat, iseng aku mengikuti perkembangan zaman. Agar tak lagi dibilang kuper. 
“Nggak gaul banget sich.” Itulah salah satu penghakiman terhadapku kala perkenalan dikelas Aljabar beberapa waktu lalu. Tapi dengan serentetan keluh kesah yang memenuhi beranda kayak gini, sia-sia saja pikirku. 

Selang beberapa jam deru motor matic memenuhi halaman kosku. “Aku benci!” teriaknya sembari membuka paksa pintu yang sengaja tak terkunci. “Apalagi?” selang pertemuan kita beberapa waktu lalu, Kayla dan aku sudah menjadi teman dekat. Dan kejadian seperti ini tidak sekali dua kali. Tetiba datang, dan teriak-teriak tentang masalah yang dihadapi. “Udah baca status fbku kan?” tanyannya dengan bibir manyun 2 cm. “Daffa? Kenapa lagi? Bosen tahu, mendengarkan cerita yang sama berulang-ulang.” Aku pun tak acuh, dan masih tetap mentengin facebook, mengahlihkan pandanganku untuk tak melihat bibir manyunnya itu. “Kamu sich belum pernah pacaran, jadi tak pernah merasakan sakit yang kurasa saat ini. “ menaruh kepalanya diatas punggungku, sambil selonjoran diatas kasur. 

“Enak mungkin ya kayak kamu, tak punya beban pikiran. Setiap hari hanya focus ke pelajaran dan pulang.” Akupun hanya berdehem. “Eh tapi, kalau hidup kayak kamu gitu, lempeng-lempeng aja. Tak ada tantangan tahu. Tak ada yang bisa membuatmu bergairah. Coba sesekali kamu berubah, pasti seru.” Aku yang masih setia dengan androidku pun mencoba tak menggubris khayalan temanku ini. Tapi jauh dilubuk hati terdalam, aku punya keinginan yang sama. Betapa bahagiannya jika bisa menjadi cewek popular kayak Kayla. Bahkan tukang kebun pun tahu kebiasaan Kayla di kampus. “Bagaimana kalau kamu berubah penampilan saja, minimal lebih stylish and fashionable gitu. Kamu denger aku nggak?” cubitnya dipinggangku. “Sakit tahu,” teriakku. 

            Dan sekenariopun berjalan tanpa ada komando. Bagai bangau yang dicucuk hidungnya, akupun mengikuti semua yang disarankannya. beberapa menit, aku terkalahkan olehnya. Dengan syarat bahwa hanya jalan-jalan saja, tak lebih. Ia pun mengangguk tanda setuju. Tak butuh waktu lama untukku mandi dan sedikit memoles mukaku dengan bedak tabur. “Kamu polos banget sich?” ia pun mengeluarkan 'alat tempurnya' dan memberi banyak sentuhan di wajahku. “Meskipun kita masih remaja, kita harus tahu make up, siapa yang nggak seneng kalau kita dibilang cantik?”. Akupun mematuk diri didepan cermin, Ada bahagia menjalar ketubuh, menjadi bagian dari cewek metropolitan yang cantik dan modis adalah salah satu keinginanku, dan itu terwujud sekarang.
   
         Tak perlu waktu lama untuk Kayla merubahku dari upik abu ke Cinderella. Dan parahnya aku masih menikmati perubahan, dengan sesekali manyun kedirinya. tanpa sadar aku membayangkan bagaimana reaksi teman-teman sekelas besok waktu melihat perubahan diriku yang ‘cantik’ kata Kayla. 

***
            Seharian berbelanja dengan berbagai make up, pakaian, sepatu. Tak ada yang terlewat dari ujung kaki sampai ujung rambut. Meskipun uang yang kupunya tak tersisa, masih ada Kayla yang mengulurkan bantuan materi sampai aku dapat kiriman jatah dari ibunda dikampung. “Tenang, yang penting kamu cantik dan bahagia.” Seperti itulah jika aku sungkan menerima uluran tangannya.

Keesokan paginya, aku sudah mematung diri didepan cermin. Mencoba semua hal pernak-pernik ‘cewek’ yang aku dapatkan dari beberapa mall kemarin. “Kamu harus mencoba warna-warna yang menantang. Kuning, merah, hitam. It’s OK baby.” Nasehat yang sama dari orang yang sama. Jadilah aku memakai hem merah, dengan celana langging motif tribal. Serta tak lupa kerudung yang dibulet-bulet kayak di youtube.“Perfecto,” tetiba suara khas Kayla memekikkan telingaku. “kok nggak denger suara motormu sich?” tanyaku mengalihkan perhatiannya. “Barusan diantar, tuh dia depan dengan gadgetnya.” Lanjutnya.

            Jarak kosku dengan kampus tak terlalu jauh, maka mereka –Kayla dan Daffa—memutuskan untuk naruh motornya di kosku dan kita berjalan kaki bertiga. Sepanjang perjalanan kami, hanya ungkapan kekaguman dan sederet pujian dari mereka berdua. Membuatku tersipu malu. “Kok ndak dari dulu sich kamu berubahnya? Kalau kayak gini, kamu akan kukenalin dengan teman-teman basketku.” Begitulah Daffa ngunkapin pujiannya. Lagi-lagi aku hanya tersenyum simpul. “Gak salahkan aku merubah kamu kayak gini? Besok sore ikut aku nemenin Daffa latihan basket ya?” tanya Kayla. Seperti cerita-cerita di televise, tayangan-tayangan remaja dengan tingkah polahnya ternyata ada juga dikehidupan nyata.
           
        Dari hanya sekedar ikut-ikutan, lambat laun aku pun mengikuti gaya hidup mereka. Beberapa cowok terlihat mendekatiku, tak hanya satu bahkan lebih dari itu. teman basketnya Daffa, teman sekelas, dan ada lagi teman organisasi mahasiswa. “I am a  happy girl.” Aku seperti tertular virusnya Kayla, menjadi salah satu cewek popular di kampus bahkan diluar kampus. Setiap saat selalu up date status, dan selalu saja ada yang ngelike dan commentar. “What a wonderlfull live is it” berkali-kali aku menikmati setiap perubahan yang terjadi. Layaknya cewek metropolis yang gaul.    

“Dasar cewek labil,” Seseorang seakan berteriak ditelingaku. Dia adalah Sandra. Seorang gadis yang ditinggal pacarnya gara-gara terpesona denganku –gossip yang beredar—entahlah, aku tak ambil pusing. Kuanggap semua haters adalah makhluk yang paling tahu aku. Gimana tidak coba, setiap aku up date status melalui facebook, twitter, path, atau mengunggah foto melalui instagram selalu ada yang sewot. Aku pun masa bodoh dengan semua comentar miring lainnya. “Biarlah anjing menggong-nggong, kafilah tetap berlalu.” Kayla tiba-tiba menjejari langkahku.

“Tunggu saja akibatnya.” Dengan nada tak kalah sengit. Sandra yang hanya berjarak 1 meter dibelakangku, seakan menguliti tubuhku. Bergidik tengkuakku, tanpa merespon apapun yang ia lakukan terhadapku.

***

“Hang out yuk?”
“Kemana?” Kayla yang ditanya hanya menggeleng kepala. “Terserah angin yang akan membawa kita berkelana, menemukan pangeran berkuda yang siap sehidup semati.” Ucapnya sambil menirukan gaya penyair tersohor. “Ngayal,” candaku dengan menyetarter motor matic miliknya. 

BRAKKKK 

***
            “Ketahuilah nak, bahwa menjadi orang yang apa adanya itu jauh menggembirakan. Jauh menentramkan. Tak perlu menjadi orang lain untuk menjadi terkenal dan dikenal orang. Menjadi apa adanya itu jauh lebih mulia dari apapun. Tengoklah kisah suri tauladan kita. Adakah pakaian mewah yang beliau kenakan? Adakah harta benda yang beliau wariskan? Adakah sepercik keinginan untuk menjadi legenda diseantreo pelosok dunia? Tentu jawabnnya adalah TIDAK. Beliau adalah sebaik-baik teladan yang pantas kita tiru. Menjadikan idola yang menuntun kita menuju jalan yang panjang ini. Karena hakikatnya hidup dan kehidupan adalah sebuah perjalanan. Berada dimanapun jalan kita saat ini, tetap Nabi Muhammadlah sebaik-baiknya tauladan.” Sambil terus menyuapiku dengan tangan getirnya. Ada yang diam-diam menyelinap masuk, panas dan terasa semakin panas. Sebagai anak tunggal dari seorang janda yang tinggal didesa, aku telah mencoreng namanya. Melemparinya dengan kotoran. Anak macam apa aku ini? Anak tak tahu balas budi. 

            Akupun tak menyalahkan Kayla yang menjadi sahabat dan saudaraku. Karena dia pula yang merubahku menjadi cewek metropolitan dengan tingkah lakunya. Karena dia pula yang membuatku menjadi cewek labil, memberi sejuta harapan kepada banyak pria. Memberi banyak peljaran penting bagiku, bahwa menjadi cewek metropolitan dengan segala kelabilannya itu bukan merupakan tuntunan agama. 
               
             Selamat jalan Kayla. darimu aku pernah 'mencicip' nikmatnya mnjadi cewek metropolitan dengan segala kelabilannya. dan semua itu membawa banyak pengalaman berhaga untuk hidupku kedepannya. Maafkan aku yang tak bisa menjadi wanita yang kau impiankan, minimal setara denganmu. Karena aku tidak bisa, dan tidak mau. Aku hanyalah gadis desa dengan segala kepolosannya. tanpa dibuat-buat. dan beginilah adanya. semoga kau tenang disana. 

#ODOP29
#BloggerMuslimah

Monday, August 21, 2017

Anak Belum Jalan Diusianya yang Menginjak 1 tahun? Jangan BAPER, Lakukan 4 Hal Ini.




            Salah satu parameter, orang tua dikatakan sukses itu adalah bisa mengantarkan anak agar lebih mandiri dari tahapan usianya. Dari mulai tengkurap, duduk, merangkak hingga jalan. Dan saat usia si kecil udah menginjak setahun, tanda-tanda untuk berdiri saja tidak terlihat? Bagaimana perasaan Mama melihat buah hati tercinta belum mampu berjalan ditambah pertanyaan kanan-kiri dari tetangga yang mengarah kejudge daripada memberi saran? Baper kah? Stress? Nangis dipojokkan? 

            Jangan ya Ma! Yang perlu kita tahu adalah pengetahuan itu sendiri. Up grade diri dengan membaca sebanyak apapun artikel tumbuh kembang anak, membaca buku-buku parenting, dan lebih banyak sharing dengan orang tua maupun mertua demi tumbuh-kembang anak yang lebih baik. 

            Berdasarkan studi terini menjelaskan bahwa ada rentang waktu anak untuk berjalan. Yaitu antara usia 12 bulan hingga 24 bulan. Jadi tidak serta-merta anak harus bin wajib bisa berjalan di usianya yang menginjak 12 bulan. Dan mama bisa melakukan beberapa hal berikut ini guna merangsang si kecil untuk berlatih berjalan. 

1.      Pakaikan Baby Walker. Ada beberapa pakar tidak menyarankan untuk pemakaian baby walker. Karena ada beberapa dampak negatif dari penggunaan baby walker ini. Salah satunya adalah keamanan baby walker ini diragukan. Artinya, banyak kejadian yang mengakibatkan keselamatan si kecil sendiri. Seperti terjungkal, terpeleset dan lain hal. Ternyata ada baby walker yang di desain khusus agar meminimalisir kejadian diatas.yaitu baby walker yang bentuk penyangga bawahnya berbentuk segiempat. 

2.      Semangati baby sat ia merambat di dinding. Beri permainan kesukaan beberapa meter dari tempat ia berdiri. Hal ini untuk memancing minatnya agar mengambil si permainan itu. 

3.      Embun-embun kan saat pagi hari. entah ini mitos atau fakta. Tapi based on my experience sich ya, setelah 2 hari saya embun-embunkan di lapangan sepak bola. Labib makin berani tuk melangkah. Dan saat balik ke rumah utinya, mereka surprise karena si cucu udh bisa jalan. #yaeayyy. OMG gini ya rasanya melihat anak mandiri. Amazing. 

4.      Berdoa. Setiap anak punya milenstone masing-masing. Sesuai dengan tahapan usianya. Oleh karenanya jangan putus semangat untuk menstimulasi kemampuan si kecil ya emak. Tentunya sesuai dengan usianya. Dan lengkapi dengan doa. Sekeras apapun usaha kita dalam membersamai si kecil, hanya Alloh yang mampu menggenapkan atas ikhtiar kita. 

Happy Trying Moms! 

NB: ini foto labib saat usianya 4/5 bulan. baru dibelikan uti. Sengaja saya memberinya *utinya prambon* baby walker sejak dini, karena saat itu labib masih rewel. maunya di gendong terus. Alhamdulilah sejak adanya baby walker ini mengurangi jatah gendongnya. Dan inilah penampakan baby walker yang tidak recomended itu. baby walker seperti ini rentang jatuh. makanya jaganya harus ekstra. Sehat dan sholeh selalu ya, Nak. *KISS* 
 

#ODOP28
#BloggerMuslimahIndonesia

5 Cara Mencegah anak terhindar dari Napphy Rash





            Napphy rash adalah pantat bayi yang bebas luka dari Diaper. Pernah mengalaminya nggak, ma? Kalau saya pernah tapi alhamdulilah tidak sering. Dulu sebelum melahirkan anak pertama, saya ‘berguru’ kepada kaka perempuan yang sudah terlebih dahulu berpengalaman dalam urusan perbayian (ada istilah lain nggak?). ia cerita bahwa kelak saat anak lahir mending diajari untuk memakai popok plastik. Ada banyak di toko-toko perlengkapan baby. Tentunya popok ini sebuah popok yang berbahan plastik lembut, dijahit sedemikian rupa menyerupai celana katok pendek. 


            Keuntungan si popok plastik ini adalah mudah sekali nyucinya plus cepet keringnya (perbedaan mencolok antara popok plastik dan clodi). Karena intensitas pipis si kecil yang nggak bisa diprediksi inilah membuatnya (popok plastik) jadi primadona dirumah. Bahkan popok kain yang sudah saya persiapkan jauh-jauh hari, masih tergeletak manja di sudut lemari. Tak tersentuh and like new. Sampai usia berapakah anak saya memakai popok plastik ini? Kurang lebih 4-5 bulan. Karena pada umur itu, anak sudah mulai aktif gulang-guling, kaki di ayun-ayunkan dan secara otomatis tuh popoknya akan lepas dengan sendirinya. Apakah selama itu tidak pernah mengalami napphy rash? Pernah. Cuma dikasih salep, sorenya udah tak berbekas. 

            Setelah besar usia 7-8 bulan, si baby udah saya biasain dengan clodi. Fungsinya sama kayak pook kebanyakan. Yaitu sebagai penadah kencingnya si baby. Tapi kalau malam, tetap diapers jadi andalan. Alasannya klise, agar tidak repot gonta-ganti popok. Dan untuk mencegah si napphy rash ini meyerang balita kita, lakukan 5 hal ini:

1.      Jangan malas mengganti diapersnya segera saat dia kotor/ basah. Capek sich, iya. Tapi semua itu kalah oleh bahagia saat melihat lesung pipit si baby embul. Benarlah kiranya bahwa saat memiliki bayi itu 99% bahagia. 1% nya capek. So, terbukti kan kalau capek kita tergantikan oleh bahagianya. *teori ngasal* wkwkwkwkwk 

2.      Bersihkan pantat bayi dengan tisu basah yang bebas alkohol/ pewangi, atau bisa juga dengan kapas yang dibasahi dengan air hangat. Kulit sensitif bayi membuat kita harus benar-benar ekstra hati-hati. Oleh karenanya usahakan apapun barang miliknya harus steril dari kuman dan bau. Salah satunya dengan membersihkannya terlebih dahulu with hot water.  

3.      Setelah pantat bayi dibersihkan, lalu tepuk-tepuk dan keringkan dengan handuk bersih. Diamkan terbuka/ tanpa memakai diaper/ celana/ popo agar mendapat udara segar untuk beberapa saat. Bahasa jawanya diangin-anginkan. Jangankan bayi, kita yang dewasa aja saat terkena ruam saat haid aja risih ya?  

4.      Gunakan krim jika ada tanda-tanda kulitnya memerah karena iritasi. Cream andalan saya yaitu dari c*ss*ns. Warnanya kuning. Tapi better tanya ke dSA yang lebih kompeten ya. Karena setiap kulit bayi berbeda. So better mencegah daripada mengobati kan?  

5.      Jangan memakaiakan diaper terlalu kencang, harus ada sisa ruangan di lingkaran pinggang sebagai sirkulasi udara. Saat usia labib 7-8 bulan, saya memilihkan diapernya ukuran L meski tubuhnya belum memenuhi standart yang disarankan. Pikiran saya klise, agar ia punya banyak ruang untuk beraktivitas. 

Happy trying Mom!

Nb: Ini foto labib usia 6/7 bulan. ini popok plastik  asli buatan mbah utinya. makanya dia punya banyak sekali koleksi popok kain ini. just info, kalau dalemnya ada plastiknya. jadi aman tidak tembus. dan cepat kering.

#ODOP27
#BloggerMuslimahIndonesia

Sunday, August 20, 2017

Tips Menuntaskan ODOP




Akhirnya tantangan ODOP di blog www.atiqoworld.id ini tuntas. Adapun tips dan trick apa saja yang bisa saya bagi adalah: 

1.      List tema yang akan kita tulis sebelumnya. Saya dapatkan tips ini saat mengikuti RWC (Ramadhan writting Challnge) tahun lalu.  oleh seorang penulis muda, berbakat. Rezky firmansyah. Dan alhamdulilah aku pun bisa menuntaskannya, meski menulis by phone. Karena tidak ada target harus sekian words. Ini juga yang saya lakukan setelah mendaftarakan diri mengikuti ODOP di Blogger Muslimah Indonesia.  


2.      Bikin lebih dari satu tulisan, kalau mood sedang bagus. Tak setiap hari mood kita bagus untuk menulis. Dalam 30 hari kemarin, saya benar-benar merasakan up and down. Ada kalanya saya bersemangat untuk menulis, ada kalanya tak ada energi atau tema yang bisa dituangkan dalam tulisan. Meski udah pantengin laptop berlama-lama. Akhirnya pencet tombol shut down *lap keringat*

3.      Lempar pertanyaan ke sosmed. Pernah pada saat buntu tema, iseng menulis status di facebook “Kasih ide menarik untuk postingan di blog dunk, emak!” tak lama kemaudian ada seorang teman facebook yang menanggapinya. “Mba kasih postingan tenatang time management untuk stay at home moms yang bisa me time, selonjoran dan tugas negara terselesaikan dengan rapi.” Tulisnya di kolomkomentar. YES, pekik saya girang. Feed back postifi berupa request, saran dll dari pembaca itu ngaruh banget loh. Akhirnya detik itu juga eksekusi, lalu posting di blog. Tak lupa tag sang pembaca juga. Kalau ada yang pengen baca juga, bisa dilihat disiniyaa.
  
4.      Komitmen dan konsisten. Saya berkomitmen dulu kepada diri saya sendiri untuk menuntaskan challnge ini. berusaha dengan sekuat tenaga untuk menuntaskannya. Dan konsisten up grade diri dengan memperbanyak Blog Walking, agar ide terus mengalir.
  
5.      Time management ini termasuk fleksible bagi saya. Saya menulis saat anak lanang tidur. Entah siang, malam atau pagi hari. Time managemant itu erat hubungannya dengan komitmen. Kalau sudah komit, pasti ada waktu untuk menuntasknnya. Walau hanya 45 menit, tulisan minimal 300 words loh udah jadi. Meski isinya berupa curhatan semua #eaaa wkwkwkkw.  
6.      Cari waktu yang pas untuk menulis. Dulu saya meluangkan waktu khusus untuk menulis pas malam hari. tapi makin kesini ternyata kurang efektif. Ada aja gangguannya. Meski tidak setiap hari. seperti pillow talk bersama suami. Atau ada film keren di TV, kan sayang dilewatin. Atau anak rewel dan tidak tidur sampai larut malam, alhasil saat anak tidur emak ikutan nyusul ke alam mimpi bhwahahahah. Akhirnya waktu nulis saya fleksible. Kalau malam capek, ya besok pagi setelah subuh. Kalau subuh masih ingin membereskan urusan domestik, ya pindah siang. Pokoknya harus nulis sehari itu.
  
7.      Rewrite dari file-file di document. Saya punya stock file yang belum pernah publish di document. Jadi kalau udah mentok, nggak ada tema untuk besok. Saya rewrite tuh yang ada di document. Yang sebagian besar adalah berupa fiksi (cerpen), dan udah tayang disini.
8.      Blog walking. Tema-tema menarik juga kadang saya pakai setelah terinspirasi oleh seorang blogger. Misal, habis baca tentang review clodi. Lha setelah itu muncullah tulisan saya tentang clodi vs pospak. Karena berdasarkan pengalaman pribadi,maka mengalirlah ide tulisan.
9.      Berdoa. Sebesar apa pun effort dan kerja kerasmu, tanpa doa semua itu tiada berarti. Karena menulis adalah cara saya menasehati diri sendiri, maka semoga tulisan ini juga membawa berkah bagi siapa pun yang membacanya. Mengiringinya dalam sebuah doa insyalloh akan membawa berkah. 
Dengan berakhirnya ODOP ini pada tanggal 31 Agustus 2017, saya semakin mantab untuk konsisten menulis. Terbukti dengan mengikuti challange ini, saya mampu dan saya BISA. Semoga setelah berakhirnya ODOP ini, saya bisa menantang diri sendiri untuk menyajikan postingan yang bermanfaat. Dan meminimalisir curhatan. Teringat petuah seorang blogger “Postinglah yang membawa manfaat, bukan yang penting posting”. Tuh kan jadi kesindir wkwkkwwk. 
Terima kasih untuk semua pembaca setia blog saya ini. Yang masih banyak kesalahan dan curhatan yang tiada habisnya. Terima kasih untuk blogger muslimah indonesia karena telah mengadakan challange ini. jadi me time saya lebih bermanfaat. Mungkin setelah ini, saya akan hibernasi. Menyepi dari hiruk-pikuk dunia online. Bukan untuk pergi, tapi pergi untuk kembali #uhuk. Karena saya merasa gelas saya sudah mulai kosong. Butuh ilmu lagi untuk mengisinya. Butuh bacaan lagi untuk nanti dituangkan lagi dalam sebuah postingan. Tentunya dalam postingan yang lebih bermanfaat. 
Saran dan kritik saya buka lebar-lebar. Maafkan atas kicauan yang bikin panas telinga. Maupun hati yang bergemuruh. Tiada maksud apapun. Hanya sebagai kontrol diri dan tantangan yang butuh postingan wkwkwk *jadi kambing hitam*. Sekian dari saya, kurang lebihnya mohon maaf sebesar-besarnya.

Sampai jumpa .....

See u next postinga yaa ....

*dadah, dadah ala miss universe*
        
           *lalu semua pingsan* 

#ODOP31
#BloggerMuslimahIndonesia