Family and Finansial

by - May 25, 2016

Ujilah cinta anda. Dalam bukunya I Married You, Walter Trobisch menyarankan 6 macam tes untuk menguji cinta sebagai berikut :
◆ Tes Berbagi:  Apakah Anda dapat saling berbagi? Apakah Anda ingin membuat pasangan  Anda bahagia atau anda ingin membahagiakan diri sendiri saja?
◆ Tes Kekuatan. Apakah cinta Anda memberi kekuatan baru dan memenuhi Anda dengan energi kreatif? Atau sebaliknya, cinta Anda itu justru menguras kekuatan dan energi Anda?
◆ Tes Kehormatan. Benarkah Anda saling menghormati? Banggakah Anda dengan pasangan Anda?
◆ Tes kebiasaan. Apakah Anda hanya sebatas saling mencintai atau juga saling menyukai dan menerima satu sama lain dengan segala kebiasaan dan kekurangan masing-masing?
◆ Tes Pertengkaran. Mampukah Anda saling mengalah dan mengampuni? Kemampuan untuk berdamai setelah pertengkaran hebat harus diuji sebelum pernikahan.
◆ Tes Waktu. “Jangan pernah menikah sebelum anda mengalami ‘musim panas’ dan ‘musim hujan’ dengan pasangan Anda.” Sudahkah cinta Anda mengalami “panas dan hujan”? Sudah cukup lamakah Anda saling mengenal sehingga dapat saling memahami dengan baik?

Berikut ini ada 4 tes tambahan ( H.Norman Wright: So You’re Getting Married)
◆ Tes Perpisahan. Apakah Anda merasakan sukacita yang luar biasa saat bersama-sama? Adakah kesedihan ketika Anda berdua berpisah?
◆ Tes Memberi. Cinta dan pernikahan adalah memberi, bukan menerima. Apakah dalam mencintai Anda suka memberi? Apakah Anda cakap memberi diri? Adakah sikap memberi diri ini selalu bisa dilihat secara nyata?
◆ Tes Pertumbuhan. Apakah cinta Anda selalu bertumbuh dinamis? Apakah cinta Anda semakin dewasa? Apakah karakteristik dari cinta kasih berkembang di dalamnya?
◆ Tes Seks. Dapatkah Anda saling memberi kenikmatan tanpa selalu membutuhkan ungkapan fisik? Jika Anda tidak bisa berduaan tanpa petting, anda tidak memiliki kedewasaan dan tidak memahami hakekat cinta untuk pernikahan.

Usaha untuk membuat kedua pasangan bekerja, belum tentu menjadi jalan keluar terbaik. Family DISCovery mengumpamakan keluarga sebagai sebuah bangunan dan keuangan sebagai atapnya. '' Atap adalah bagian penting dari bangunan yang melindungi isinya dari hujan. Demikian pula keuangan yang dikelola dengan baik dapat melindungi keluarga dari kehancuran''.
Berikut adalah hal-hal yang dapat kita lakukan untuk membuat ‘atap’ pernikahan kita kuat dan dapat melindungi keluarga dari kebocoran:
★ Penetapan Prioritas Keuangan Keluarga.
Manajemen keuangan yang baik akan mengurangi resiko konflik dan pertengkaran dalam keluarga, sehingga mengeliminir kemungkinan perceraian dalam keluarga tersebut. Perbedaan cara suami istri mengalokasikan keuangan dan menentukan mana yang menjadi prioritas keuangan mereka menggambarkan perbedaan prioritas kehidupan mereka. Inilah cikal bakal ketidaksepakatan yang bahkan bisa berakhir dengan perceraian.
Pemberian kepada orang tua
Pengalokasian untuk hobi, gaya hidup, fashion, gadget
Pertemanan dan acara keluarga/komunitas
Tingkat pemahaman tentang urgenitas
Cara pandang apa yang terpenting untuk anak  dan keluarga

Membuat perencanaan tertulis sejak awal hubungan tentang planning bersama di masa depan.

“Keseimbangan dalam keuangan adalah kunci kesuksesan dalam mengelola keuangan keluarga” Sangat penting untuk membangun sebuah struktur atap yang tepat. Atap yang kurang tepat, hanya akan membuat aliran air menjadi tidak baik dan rumah menjadi bocor.
Jika bentuknya seimbang kiri dan kanan (segitiga sama sisi), maka aliran air hujan akan baik. Ini menggambarkan keseimbangan andil suami istri dalam hal menghasilkan income bagi keluarga. Kendala yang terjadi jika pola ini dilakukan adalah kurangnya waktu bersama, juga apabila ikatan suami istri kurang kuat, maka justru akan menimbulkan bocor di tengah-tengah atap yang menyebabkan terpisahnya keuangan keluarga. Bukan hal yang mustahil bahkan bisa berakhir dengan perceraian.
Bentuk yang berat sebelah, menggambarkan porsi yang besar pada salah satu pasangan sebagai penyumbang income. Biasanya adalah sang suami. Beban yang berat di satu sisi bisa menjadi masalah jika yang lain kurang berempati dan mendukung, selain itu di sisi pemberi income akan merasa bahwa dia lebih berhak atas banyak hal.
Jika dilihat bentuk apapun akan memiliki celah apabila atap tersebut tidak punya ikatan yang kuat antar kedua sisi bagiannya. Dalam hal inilah perlu ikatan kuat dalam bentuk kesatuan system keuangan terpadu yang disepakati bersama sebelumnya, transparansi dan diikat satu control bersama.

Perlu kesepakatan..rumah tangga seperti apa yg akan dibangun nanti.
Desain sebuah rumah tangga atau keluarga bukan dibuat saat setelah menikah, bukan pula saat persiapan pernikahan. Tapi saat kedua calon sepakat untuk menikah...atau saat pertunangan

Mau tinggal di mana, siapa yg bekerja, anak berapa, siapa yg kelola uang .
Apakah rekening masing2 atau rekening bersama.

Bagaimana mengenai pemberian, untuk orang tua sendiri dan pasangan-keluarga sendiri dan pasangan.

Jika belum...inilah saatnya duduk bersama pasangan.
Cari waktu yg tepat...ciptakan suasana yg tepat dan menyenangkan. Santai, tenang...mungkin di tempat favorit. Lalu mulailah bicara u membuat perencanaan bersama.

Sampaikan dengan baik dan clear dari hati ke hati.
Ingat komunikasi dan hubunganlah yg penting dan perlu terus dibangun selama pernikahan

Pertanyaan 1: Apakah wanita harus bekerja?
Bu Sri...apakah harus? Siapa yg mengharuskan?
Kadang keadaan..tp yg lebih tepat adalah KERELAAN. Pernikahan ibarat naik di perahu yg sama..Anda dan pasangan sama2 berusaha membuat perahu sampai ke tujuan.
Apa fungsi tiap orang dlm keluarga...itu yg perlu dibicarakan dan ingat tetap saling melengkapi. Maksud saya tidak bisa dibuat 'saklek' kaku. Jika ada di masa salah seorang tdk bs menjalankan fungsi dgn baik maka itulah sebuah KESEMPATAN untuk sang pasangan membuktikan cinta

Saya garis bawahi. Tidak ada keharusan melainkan KERELAAN u bersama menanggung beban jika diperlukan.

Pertanyaan no.2 kenapa pasangam orang dulu kakek-nenek bisa awet-awet?
Betul...kondisi yg ada saat itu mengarahkan orang untuk fokus pada pasangan. Kearifan para leluhur dan minimnya degradasi nilai memungkinkan hal itu. Ingat cinta bukan tiba2...cinta ibarat benih yg perlu dipupuk..dijaga...dirawat agar bertumbuh. Jika seperti itu saja bisa bagus. Apalagi dengan perencanaan tentu hasilnya lebih luar biasa..

Yess...pertanyaan ke 4: kenapa orang tua masih ikut campur keuangan rumah tangga anaknya?
Banyak kasus seperti itu. Biasanya karena kita blm dianggap mampu oleh mertua atau blm dipercaya bisa mengelola sendiri.
Itu muncul karena rasa sayangnya sang mertua
Bagaimana cara menghadapinya. Jika bagus kenapa tdk...bicara baik2 ke beliau..waah ma, mama tuch kalo ngatur uang benar2 teliti yaa..boleh ajari saya yaa..

Orang tua perlu rasa tenang dan pasti bahwa anaknya aman dan di posisi yg tepat
Bisa dikomunikasikan..disinilah pentingnya maaf sy pinjam istilah 'rapport'. Membangun hub dan frekuensi..pahami, rasakan, andai saya di posisi dia.

Pertanyaan no.5 bagaimana menyikapi pasangan yg tidak suka perencanaan?
Andai suatu saat naik mobil dan di tengah perjalanan ban pecah apa yg Anda lakukan jika tdk ada ban cadangan?
Hal2 spt menyiapkan ban cadangan, cek oli, dll merupakan perencanaan? Pentingkah?
Demikian jg jika tanpa perencanaan..apa yg akan dilakukan saat terjadi sesuatu yg tdk diharapkan?
Mungkin mmg perlu agak fleksibel tdk terlalu kaku...itu maksud pasangan
Baik...terima kasih u kesempatan sharing yg luar biasa ini. Keluarga dan keuangan dimensi yg sangat luas.

Closing:
Komunikasi adalah kunci indahnya hubungan dlm keluarga, termasuk dalam masalah keuangan semua perlu dibicarakan dan direncanakan bersama.
Sehingga Selalu ada kesempatan bagi Anda. Ingat cinta bukanlah bicara perasaan sesaat..tapi berawal dari kata PEDULI. Belajar mulai memperhatikan pasangan Anda...mulai lihat dan perhatikan hal2 positif sekitar dan mengenainya.
Kenangan indah bisa jadi pengikat. Nostalgia...couple time..kejutan2 kecil sangat diperlukan dalam membangun keharmonisan keluarga.

By: coach Helmi F.W
﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏

Membina rumah tangga memang tidak semudah membalikkan tangan. Ada banyak proses yang sebaiknya kita lakukan. Salah satunya adalah TES yang telah dipaparkan diatas. Jangan terburu-buru dengan sesuatu yang belum pasti (belum sreg) mantabkan hati untuk seseorang yang mendampingi kita suka maupun duka.

Sedangkan bagi kita yang sudah mempunyai keluarga. Yuk belajar lagi, intropeksi lagi dan saling memahami dan mengerti pasangan. Komunikasi yang baik adalah awal kunci kehormanisan rumah tangga. Sehingga sakinah, mawaddah wa rohmah yang kita dapatkan. Amin ya robbal alamin.

You May Also Like

0 comments

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.