Footprint Malang

by - June 27, 2016

Bernostalgi tentang my ex job. Ini tentang pekerjaan freelance. Tetapi bukan freelance yang bisa disambi dengn job yang lain. Masih teringat waktu itu saat pertama kalinya bergabung menjadi tim footprint Malang. Sekitar bulan november 2014. Dari my besties kudapatkan loker itu. Dia juga menjadi bagian dari footprint Malang sejak Oktober. Beda satu bulan.

"Ini pekerjaanmya berat loh Mbak. Yang putih jadi hitam, yang hitam jadi tambah muanis. Gimana masih mau gabung?" Pertanyaan saat  wawancara yang terlihat lebih rilex. Sempat canggung juga. Masak wawancara kayak gini. Dan setelah bergabung ternyata pekerjaannya mengasyikkan. Namanya juga kerja lapangan, kesolidan tim itu yang menjadi patokan utama.

Ada pengalaman baru saat memasuki dunia lapangan. Bahwa disana tempat orang yang loyal. Loyal pada teman dan tak pelit informasi. Beda banget dengan kerja kantoran yang dituntut untuk individu. Berat sich tipe pekerjaanya, tetapi selalu ada jalan untuk keluar dari tantangan itu. Hal ini terkaut dengan pimpinannya juga. Koordinasi dengan pimpinan itu wajib hukumnya, soalnya dia yang bertanggung jawab atas keberhasilan timnya.

Dalam satu tim, aku tergolong muda banget (kebalikannya ). Karena timku tergolong dari sekerumunan anak muda yang keren abizzzz. Dalam menunggu masa wisuda, mereka membunuh waktu dengan part time job. Kebanyakan sich mahasiswa UB Malang.

Job disk dari pekerjaan ini adalah memdatangi merchant (pemilik usaha) untuk didaftarkan ke google map. Dijamin free, malah marchant diuntungkan. Secara tidak langsung usaha mereka akan tertera di google map. Tanpa modal promosi. Hanya cukup kami sebagai walker di izinkan untuk meminta keterangan selengkap-lengkapnya. Serta diizinkan untuk memotret setiap sudut toko tersebut. Namanya juga orang, ada yang berbaik hati menyilahkan dan tak jarang juga mereka mengusir kami secara halus maupyn terang-terangan. Dengan alasan takut dikenakan tarif, pajak dll. Padahal sudah ribuan kali menjelaskan tidak ada biaya sepersenpun. Orang-orang kayal gini biasanya hidup di desa dan para pedagang c*n*. Suka sebel dan langsung lewatin aja toko kayak gitu ( kabur)

Lelah iya, capek apalagi. Sudahkah pekerjaan kita? Hanya keliling area malang dan sekitarnya? Oh tentu tidak. Saat malam menjelang, kesibukan pun dimulai lagi. Setelah seharian berpeluh keringat mencari data, malamnya kita buat laporan tertulis. Mereka menyebutnya BISPET. setelah itu difoto lalu diuplod. Beres. Sederhana bukan? Iya, tetapi tidak dalam pelaksanaanya. .

Para supervisor dan kisi adalah orang-orang dari jakarta. Namanya juga orang lapangan jadi banyak cowoknya daripada ceweknya. Tetapi it's not the value. Kita menikmati sekali persaudaraan ini. Hingga tak jarang banyak yang cinlok

Banyak pelajaran berharga setelah 3 bulan bergabung menjadi footprint Malang. Kalau kita jadi orang lapangan usahakan untuk Fokus. Tunda kesenangan sesaat untuk menikmati hasil dikemudian hari. Jangan tunda - tunda pekerjaan yang didepan mata. Karena dosa paling besar ketika kita jadi walker adalah belum Bispet lalu diuplod. Dan godaan untuk jalan-jalan menikmati keindahan kota malang yang terkenal dengan wisatanya.

3 bulam usai sudah pekerjaan kita. Map kota Malang sudah penuh dengan catatan merchant.

Selamat tinggal malang
Selamat tinggal kenangan
Selamat tinggal tim suksesku

Terima kasih atas pelajaran hebatnya
Terima kasih atas hangatnya kekeluargaan ini
Terima kasih atas jalan-jalannya.
Terima kasih atas canda tawanya
Terima kasih teruntuk supervisor, meta kisi, kisi dan para sesama walker.

Mungkin pertemuan kita hanya sekejap, hanya hitugan bulan dan hari. Tetapi kenagan yang tertoreh akan mengedap disini, dihati kita masing-masing. Semoga kelak takdir membawa kita untuk berjumpa dan bertegur sapa dalam keadaan sukses masing-masing. Aamiin ya robbal alamin ☺

#Daiwriting
#RWC23

You May Also Like

0 comments

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.