Hanya Soal Selera

by - June 09, 2016

"Sesekali bacalah karya penulis luar, maka tulisanmu akan lebih berbobot." Ucap seorang penulis yang sudah melahirkan banyak karya.

Tak hanya sampai disitu, actionlah saya. Berburu buku terjemahan. Saat itu buku ernest hamigway yang telah mendapatkan  nobel.

Satu halaman
Dua halaman
Tiga halaman

Resmi kututup. Tak ada daya tarik untuk meneruskan membaca. Apa saya yang 'dodol' karena tidak bisa melihat karya hebat sang maestro? Atau mungkin efek terjemahan? Entahlah, sampai saat ini saya masih belum menemukan ketertarikan untuk membaca buku - buku dan novel-novel terjemahan. Saya masih menyukai karya dalam negri. Penulis-penulis hebat yang mendatangkan hikmah dan renungan setelah membacanya. Siapa lagi yang tak kenal kang Abik dengan Ayat-ayat cintanya, tere liye dengan kisah inspiratifnya, andrea hirata dengan mimpinya, asma nadia dengan tema cinta islaminya dan masih banyak lagi yang memepengaruhi gaya tulisan saya.

Semua kembali tentang selera. Pembaca punya selera masing-masing untuk menentukan genre bacaan. Non-fiksi atau fiksi. Horor atau komedi. Karya luar atau dalam negri. Tidak ada yang salah atau benar. Hanya soal selera, dan yang salah itu yang tidak berselera. Nah loh. Yang tidak berselera membaca, maksudnya.

"Jangan batasi bacaanmu jika ingin menjadi penulis." Tuh kan baper lagi. Akhirnya saya berjuang untuk menamatkan 2 novel terjemahan. Hadiah dari ikutan GA penulis senior. Dan benar-benar berjuang mengalahkan kantuk setiap membuka lembar demi lembarnya. 
Adakah teman yang mengalami 'rasa' yang sama? Adakah trik untuk menarik diri agar menyukai karya penulis luar negri?

#Daiwriting
#RWC2

You May Also Like

0 comments

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.