#JanganMudahMenyerah

by - June 26, 2016

"Ayo semangat, Alloh mboten sare (tidak tidur). Shalat malam dan doanya digencer." Berkali-kali ibu menyemangatiku. Memberi pelukan yang memang itu adalah satu-satunya yang kubutuhkan saat itu.
"Ibu memang tidak punya apa-apa tapi Alloh Maha Segalanya, nduk."

Dunia itu laksana bola, kadang berada di atas dan terkadang berada dibawah. Menggerus semua minpi, angan dan asa. Tapi beruntungnya aku yang punya ibu hebat. Dari beliau aku yakini satu hal bahwa selalu ada harapan untuk bangkit dari keterpurukan.

Ayah yang menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga, jatuh sejatuh jatuhnya. Ujian kehidupan yang sampai saat ini masih terekam jelas.

"Mondok aja ya, Nak? Ayah ndak punya uang untuk menyekolahkan kamu."
Terasa seperti belati menusuk. Ada perih yang menghujam diri. Detik itu juga aku lari keluar rumah. Menuju rumah sahabatku. Menginap disana. Tumpah ruah kesedihan yang terpendam.
"Apa aku benar-benar tidak bisa kuliah?" Tanyaku dengan isak tangis yang tiada henti. Sahabatku hanya mampu mendengar dan memelukku. Dan memang itulah yang kubutuhkan, dukungan.

Kukantongi 2 dukungan saat mendaftar dibeberapa kampus tujuan. Dan Alhamdulilah salah satu nyantol juga. Sujud syukur. Plus dapat beasiswa setahun. Alhamdulilah. Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan?Alloh maha segalanya. Dibalik kekecewaan dan kesedihan, terselip sebuah hikmah. Kita sebagai hamba dituntut untuk lebih bersabar. 

"Tuh kan Alloh mboten sare." Ucapan ibuku kembali terngiang. Terus berjuang, ukir prestasi. Jadikan cobaan sebagai batu loncatan yang membuat kita melompat lebih tinggi. Jadikan buku #JanganMudahMenyerah sebagai bacaan wajib saat kesedihan dan kesempitan semakin menghimpit. sejatinya Alloh menguji setiap umat-Nya sesuai dengan kemampuannya.

Yuk naik level dengan selalu menanamkan diri untuk #JanganMudahMenyerah disegala kondisi.

#Daiwriting
#RWC20

You May Also Like

0 comments

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.