Menulislah dengan hati

by - June 11, 2016

"Mbak masih mau menjadi penulis di blog kami?" Pesan whatsapp dari seorang yang kukenal lewat dunia maya.

"Temanya apa, Pak?" Balasku.
"Gadget, gimana?'' Balasnya.

Lama termenung dalam diam. Bisakah aku menjadi penulis blog? Tentunya ada  'bisyaroh' yang beliau tawarkan.

''Inilah kesempatan emas untuk unjuk diri, come on. Ambil saja.'' Selip hatiku
'' tapi temanya aku belum menguasi, bagaimana?'' Renung sisiku yang lain.
"Learning by doing. Lakukan sambil belajar.''

Perdebatan dalam diri semakin membuat baper. Bagaimana tidak, menulis adalah hobi yang ingin kuseriusi. Disaat kesempatan datang, keraguanlah yang menghampiri. 

"Maaf Pak, saya belum mampu untuk menulis one day one post dengan tema gadget." Terkirimlah penolakan itu. Aku meyakini bahwa menulis itu datang dari hati. Meski ada sesal menolak tawaran yang datang tiba-tiba. "Tidak baik menolak rizki." Teringat wejangan dari ibu. Berkali-kali kutepis keraguan yang menyelimuti. 

Bach to the topic. Aku mulai mencintai tulisan baru saja. Dan ingin naik level menjadi penulis pun bisa dihitung dengan jari. Oleh karenanya tak ingin menodai 'kesucian tulisan' dengan menulis yang tidak dari hati. Aku meyakini bahwa sesuatu yang ditulis dengan hati akan sampai dihati pembaca. Akan ada saat dimana ada hasil yang tak mengkhianati usaha. Keep writting. 

#daiwriting 

#rwc4

You May Also Like

0 comments

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.