Ekspektasi

by - July 02, 2016

Saya sudah tidak mau berangan-angan. Ingin seperti ini, seperti itu. Buat ini, buat itu. Jadi ini, jadi itu. Yang ada malah SAKIT HATI. contohnya nih ya saya pengen jadi penulis. Jadi saya harus selalu nulis dan baca. Sudah terdaftar di to do list apa yang harus saya lakukan untuk menjadi penulis. Ekapektasinya adalah dalam kurun waktu sebulan, naskah sudah rampung dan tinggal melamar penerbitan. SEKALI LAGI EKSPEKTASI. tetapi kenyataanya setiap yang saya lakukan adalah menunda-nunda dan selalu menunda.

"Ah entar aja dech."
"Belum dapat ide.''
"Mulai dari mana ya?"
"Capek banget hari ini si kecil aktif sekali. Besok aja dech nulisnya."
Dan seabrek alasan yang muncul secara konstant. Memiliki ekapektasi itu benar-benar melelahkan. *abaikan tangan ke kamera

Jadi sekarang aku hanya fokus nulis aja. Entah apa saja bisa jadi bahan tulisan. Dari yang garing banget kayak rengginang gorengan emak di rumah. Mending rengginang gurih, lah kalau tulisan yang garing kan gak ada soulnya and nggak asyik. Tapi setidaknya rasa bersalah itu terlamapaui. Karena entah kenapa kalau sehari nggak nulis itu serasa ada yang kurang #ciyeeee

Sama halnya dengan riya ke orang lain. Apa-apa yang dilakuin agar mendapat simpati dan sanjungan dari orang lain. Kalau kita terus-terusan melakukan hal yang sama, maka kita sendiri yang capek hati. Karena EKSPEKTASI TIDAK SESUAI KENYATAAN.

let it flow. Biarkan mengalir. Mungkin saat ini hanya diizinkan untuk menghabitkan kebiasaan nulis. Jadi tulis.tulis.tulis. semoga kelak air mengalir ini mempunyai ujung yang disebut sebagai DREAMS COME TRUE.

yuk mulai membiasakan diri untuk aktivitas yang baik. Buang semua ekspektasi yang mengganjal. Biar tiada beban dan menikmati setiap episode. ☺

#Daiwriting
#RWC28

You May Also Like

0 comments

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.