HAM atau Manja?

by - July 01, 2016

Beranda sosial media lagi ramai tentang seorang guru olahraga yang dituntut oleh anak didiknya lantara ia dicubit.

Astagfirulloh
MasyAlloh
Innalilahi wa inna ilaihi rojiun

Hanya Alloh semata kebaikan tertuju. Hanya kepadaNya jua lah segala pinta terlangitkan. Entah apa yang membuat saya 'geram' sekali terhadap tindak-tanduk generasi saat ini (tidak semuanya) khususnya yang 'menye-menye manja' selalu berdalih tentang HAM. senggol dikit HAM, sentil dikit HAM, de el el.

Saya yang mempunyai pengalaman mengajar, meski saat ini duduk cantik di rumah. Merasakan bagaimana geramnya melihat tingkah polah anak didik yang rewel tur bawel. Nggak bisa diam walau semenit, dan rata-rata anak seperti ini bisa diprediksi bagaimana nilai akademisnya di sekolah.
Bukan maksud saya melabeli kalian anak-anak. Bukan, tetapi ingatlah bahwa di tangan ibu-bapak guru kalian didik menjadi generasi penerus yang mempunyai dedikasi dan kredibilitas. Dari tangan mereka kelak tumbuh pemimpin yang insyAlloh adil bagi rakyatnya.

Nak, sebelum kalian terlampau jauh dengan kemenye-meyean kalian lihatlah peluh ibu-bapak guru saat bel tanda pulang berdering. Lihatlah bagaimana bapak-ibu guru kalian menjelaskan dengan urat-urat nadi yang hampir keluar, agar semua siswa dapat mendengarnya sedangkan kalian sedang berhahaha-hihihi di pojok kelas. Sadarilah bagaimana berjasanya mereka yang mengantarkan kalian kedepan pintu gerbang kesuksesan. Karena sejatinya guru adalah orang tua kalian jua. Mendidik dengan sepenuh hati guna melihat indonesia lebih bersinar kelak. Sadarilah nak bahwa ketegasan sang bapak-ibu guru adalah semata-mata demi kebaikan kalian, kalau bukan sekarang mungkin suatu hari di masa depan.

Kepada para orang tua, dampingi buah hati untuk selalu bersopan-santun terhadap guru. Ajarkan kepada mereka bagaimana adap terhadap guru. Jangan jejali mereka dengan doktrin-doktrin yang malah membuat mereka cengeng dan bermenye-menye manja. Karena tempat utama anak belajar adalah di rumah, dan yang mereka contoh adalah ibu-bapaknya di rumah. Memang saya belum pada tahap ini 'mengajari' anak sendiri tapi kelak yang harus ditanamkan oleh anak-cucu saya adalah adap dan sopan-santun. Karena itu lebih utama dari sekadar nilai akademis berupa angka. bahwa studi menjelaskan anak yang pintar secara akademis belum tentu pintar dalam kehidupan nyata. 

#Daiwriting 

#RWC26



You May Also Like

0 comments

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.