Wacana Fullday School

by - August 10, 2016



            Dimulai dengan pergantian mentri pendidikan, Anis Baswedan dan diganti oleh rector universitas muhammadiyah Malang (Muhadjir Effendy) adalah satu hal yang masih menjadi tanda tanya. Padahal kredibilitas Pak Anis pun tidak diragukan lagi. Entah itu dengan guyonan  “Pak Metri lupa untuk mengingatkan para orang tua tak hanya mengantar anak saat pertama kali memasuki sekolah tapi juga harus menjemputnya” atau ada hal lain tentang lengsernya Anis sebagai mentri pendidikan? Entahlah. Saya sebagai ibu dan rakyat biasa hanya mampu melihat dan mengikuti serba-serbi pemerintahan dari layar 21 inch. Tak lebih.


            Dan saat ini berkenaan dengan wacana fullday school dari mentri baru pun makin membuat saya mengernyitkan dahi. Why? Kenapa harus fullday school? Tak afdol rasanya jika langsung ‘judge’ tanpa pernah tahu apa dibalik wacana itu. tetapi lagi-lagi, sepertinya pak mentri hanya mandang satu sisi, bahwa dikota besar anak seringkali ditinggal kerja oleh orang tua (mama-papa) alhasil ia akan membunuh kebosanan dengan pergi ke warnet, rental tak lain untuk bermain PS, tawuran dan perilaku negative lainnya. Memang sich, ada benarnya, tapi tak mutlak semuannya benar. Karena sejatinya Indonesia itu luas, dari Sabang sampai Merauke. Dan tak semua orang tua lalai akan tanggung jawabnya sebagai teladan utama bagi anak. Bahkan ada yang rela resign dari perusahaan guna mendampingi anak di masa-masa sekolahnya saat ini.
            Meski saya belum mempunyai anak seusai sekolah, tapi saya bisa membayangkan bagaimana frustasinya mereka jika seharian di sekolah. kesempatan untuk bermain, dan bercengkrama dengan keluarga semakin sempit. Apa gunanya? Sedangkan barat sudah mengacangkan untuk fun dalam belajar. Dan menekuni satu bidang yang paling diminati anak, bukan banyak bidang.

            Terkait dengan wacana iu, semoga bapak mentri kembali uji kelayakan. Apakah ada nilai tambah yang diperoleh dalam wacana itu? antara kelebihan dan kekurangan, manakah yang dominan? Yakinkan kami sebagai orang tua untuk terus berkhusnudhon tentang kebijaka-kebijakan yang Bapak putuskan.  karena ditangan merekalah, cita-cita kami sebagai orang tua tergantungkan. Karena ditangan merekalah, mimipi kami sematkan. Agar jayalah Indonesia, agar jayalah Negri tercinta ini. Dimulai dari hal pertama dan utama PENDIDIKAN.    

You May Also Like

0 comments

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.