Akar Menulis adalah Membaca

by - September 07, 2016




            Sudah ada niat untuk menonaktifkan gadget untuk beberapa hari. Guna ingin serius menulis. Ada target yang ingin saya capai. Agar tak tumpulotak ini. Lama mempelajari suatu tulisan, berkali-kali kubaca tanda titikkomanya. Lalu kucoba kutuangkan dalam sebuah tulisan. Tak lupa untuk membuat outline. Kataya –para penulis hebat- outline adalah sebuah rancangan agar fokus kita tak berubah. Artinya outline adalah sebuah keharusan. Ada pembuka, konflik dan kesimpulan. 

            Tapi setelah melewati satu halaman, tetiba mandek ditengah jalan.
“Kok nggak ada ‘feel’nya ya?”
“Kayak cerita anak SD.”
“Ngebosenin.” Dan sederetan cercaan yang mencokol dalam pikiran. “Apa aku tidak punya bakat menulis? Ah iya, nyatanya aku tidak pandai menulis. “

baca juga: Ayo Mendongeng 
 
            Itulah kesimpulan malam itu. Karena hanya malam aku bisa bercengkrama ddi depan laptop. Menuangkan isi kepala yang ingin keluar. Ada sebuah candu yang kurasa jika sehari saja tidak menulis. Alhamdulilah. Setidaknya aku produktif dan menikmati me time dengan bahagia. Ayo naik level? Masak gitu-gitu aja. Anak SD juga bisa. Itulah yang mencokol dalam sanubari. Candu menulis, insyalloh sudah kukantongi. Tapi naik level ini yang membuatku ciut nyali. Aku sendiri masih dalam kebingungan, sebenarnya aku ini suka nulis fiksi atau non-fiksi? 

            Nyatanya dengan fiksi aku bisa menghabiskan berlembar-lembar halaman dalam sekali duduk. tapi saat ada keinginan untuk menulis cerpen dengan maksimal 8 halaman saja, sudah membuatku lemah tak berdaya. Tidak puitis lah, tidak ada feelnya lah dan sederetan alasan yang mampu membuatku berhenti di tengah jalan. Why?

            Setelah melakukan riset kecil, ketidakmampuanku dalam mengeksplore kata adalah kurangnya sumber bacaan. Saat keinginan untuk naik level itu tidak dibarengi dengan naik level dalam hal membaca, kukira itu adalah sebuah kemustahilan. Seperti anak sekolah yang ingin naik kelas/ naik tingkat. Maka akan ada ujiannya, nantinya akan dapat dibuat parameternya tentang kelayakan untuk naik tingkat. Dan uji kelayakan ini bersumber dari pengetahuannya dalam menjawab soal ujian. Kalau keinginan menulis itu semakin menggebu tanpa diimbangi dengan gila baca, maka sama halnya ingin naik kelas tapi tidak ada upaya dalam bentuk upgrade diri, belajar. Jika setiap doa terlantunkan untuk menjadi penulis, tapi tak ada upaya untuk gila baca, itu sama artinya dengan tong kosong nyaring bunyinya. 

baca juga: Family and Financial  
 
            Akhirnya akar menulis adalah membaca. Maka dengan ada evaluasi diri, semoga ketertinggalan untuk haus ilmu ini akan semakin membuatku sadar akan pentinya membaca. Mengurangi intensites di sosial media. Karena kawan yang baik untuk menulis adalah membaca, bukan pegang gadget yang hanya kepoin si A, B dst.
            Semoga Alloh memampukanku untuk gila baca, baca, baca dan akhirnya gila menulis, menulis dan menulis. Ibarat komputer, bagaimana akan mengeluarkan output jika input tak pernah ada. Jika suatu hari sudah gila baca, semoga kemampuan menulis akan semakin terasah. Bagaimana moms sudah mulai membacakah? Tentunya membaca selain buku tagihan ya? Hehehhehe

You May Also Like

0 comments

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.