KOMPOR AREK SOERABAIA

by - September 30, 2016



                                                                         Gambar

Apa yang ada dibenak kalian tentang tanggal 1 Juni?
Yang pasti bukan:
#TanggalAnniversaryKalian
#TanggalPacarKalianUlangTahun
#TanggalKalianDisunat
#TanggalKalianDisiramTepungDanKopiBesertaTelurPecah
#YakinGakAdaYangBisaJawab???
#Nyeraho wae, ben saya jawab :D (Senyum Pepsodent)


            Tanggal 1 juni biasanya diadakan pekan seni festival atau biasa disingkat FSS (Festival Seni Surabaya) di selenggarakan di gedung Balai Pemuda, tepatnya di Jl. Gubenur Suryo Surabaya. Acara seni dengan berbagai penampilan apik disuguhkan di khalayak ramai. Masyarakat Surabaya di manjakan dengan tampilan seni yang memukau, seniman-seniman hebat berkumpul menjadi satu untuk memeriahkan acara festival ini. Biasanya diadakan sepekan sampai dua pekan.

            Membudayakan seni untuk generasi ‘Arek-arek Soroboyo’ kian digerakkan. Agar kita tidak lupa bagaimana jati diri bangsa ini sebelumnya, apalagi budaya ini sedikit banyak ikut serta memperjuangkan kemerdekaan (Mbh biyen wis tuwok dijajah nduk, mangkane sak iki nek iso jogoen budaya-budaya tinggalane mbah-buyutmu biyen). Teringat akan pesan Mbah uti yang tak pernah bosan mendongengkan cerita yang sama berulang kali. Sama halnya dengan tekad dan niat dari Arek Soroboyo siji iki, tak lain dan tak bukan adalah Cak Kadaruslan. Terwujudnya FFS ini atas peran serta Arek Soerobo asli iki.

“Bagi saya Cak Kadar adalah bapak dari semua orang. Merangkul semua arek-arek suroboyo yang mempunyai tekad untuk membudayakan budaya mereka ini.” Kata Luhur, seorang seniman yang penulis temui di bengkel seni Surabaya pekan lalu.   

            Sebelum tercetusnya FFS (Festival Seni Suraya) dalane wadoh lan gronjal-gronjal. Festival seni khoirul anwar, Surabaya 700, festival seni pemuda dan akhire bertemulah dengan jodoh yang mengakar kuat, menjadi cerminan arek suroboyo yang pantas untuk dibanggakan.

            Bapak 7 anak ini semangat juangnya tak perlu di ragukan lagi. Apês beliau adalah menjadi saksi hidup bagaimana kejamnya penjajahan 69 tahun silam. Menjadi bagian sejarah perjuangan telah mengakar kuat di tubuh ringkihnya. Di usia yang tak lagi muda (79 tahun) semangat kompornya masih berkobar. Membakar mereka yang berdiri di garda terdepan.

            Perjalanan hidupnya telah membawa banyak perubahan pola pikir dalam bertindak. Terutama dalam berseni. Seni menjadikan beliau sosok yang digemari dan di segani bahkan dikenang sampai sekarang. FFS adalah anak terakhir yang beliau lahirkan sebelum kepulangannya menghadap Sang Maha Seni.

            Selamat jalan anak bangsa yang begitu gigih membela bangsa dan melestarikan budaya. Karena dari budaya kita ada, dari budaya kita dikenal, dari budaya kita yakin satu hal bahwa seni mengajarkan kita untuk hidup berdampingan dengan orang lain, bangsa lain, dan bekerja sama menonjolkan apa yang kita punyai. Warisan dari nenek moyang. Dari budaya kita merdeka, menyulut api semangat revolusioner dari para ‘Kompor-kompor’ hebat, semangat juang yang tak perlu diragukan lagi. Bahkan nyawa adalah taruhannya.

            Mari lestarikan budaya kita, mempelajarinya pun bukan sesuatu yang dianggap kuno bahkan lebih jauh lagi Keren Broo!!!. Kalian tahu bahwa sejatinya orang keren itu adalah orang yang berani berbeda, punya tujuan dan tentunya bisa diterima oleh masyarakat. Kita tidak lagi mengekor budaya orang lain, lirik budaya K-pop yang menjamur di seantreo Indonesia khusunya. Alahkah kerennya kita jika suatu saat nanti, K-pop akan digeser oleh tari jaipong misalnya. Betapa bangganya kita, seolah cak kadaruslan melambaikan tangan dari kejauhan sambil berkata “Good Job” dengan dua jempol yang tak lupa mengapresiasi apa yang telah kalian lakukan.  

NB: Artikel yang tidak lolos di meja Redaksi :( daripada ngendon di file komputer, mending post disini.

You May Also Like

0 comments

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.