Wannbe Writer Bersama FLP Surabaya

by - September 12, 2016





                                                                      Source

 Kamu tahu apa yang membuatku bahagia?
Kamu tahu apa yang mampu membuatku tersenyum dalam duka?
Kamu tahu apa yang membuatku kuat?
Kamu tahu apa yang membuatku bersemangat?
Satu jawabannya
M E N U L I S 

 

Kisah ini berawal dari kesendirian. Sepi menghujam diri saat tak ada kawan yang mampu menjadi pelipur lara. Tak ada hiburan yang mampu membuatku betah berlama-lama bercengkrama dengannya. Mungkin kamu, dia, dan mereka pernah mengalami rasa yang pernah kurasa. Merasa sendiri dikeramaian. Merasa sendiri dalam hingar-bingar panggung sandiwara. Pelan namun pasti, kuusir sepi itu dengan bercengkrama dengan gadget. Tak bisa benar-benar lega, masih saja ada yang kurang. Hingga terdengar kabar tentang sebuah komunitas kepenulisan. Open recruitment pun digelar. Mungkinkah ini solusi? Tak banyak pikir, langsung kuhadiri open recruitment di sebuah gedung di kota Surabaya.

“Kenapa nggak dari dulu sich bergabung di FLP?” hanya membatin saja. Toh nyatanya saya dipertemukan dengan FLP dipenghujung tahun 2014. 4 tahun sebelumnya, tinggal di Surabaya tapi belum pernah mendengar komunitas ini, lebih tepatnya tak mau mencari tahu. Setelah bergabung di komunitas ini barulah tahu kabarnya, memang sempat fakum beberapa tahu dengan berbagai alasan. Alhamdulilah sekarang sudah ‘bangun dari tidur panjang’.  Setelah lulus dan berkarir dirumah, baru berjodoh dengan flp. Itulah jodoh, saat dicari menghindar. Saat tak dicari, eh tiba-tiba nongol aja.

***

            “Ceritakan satu kata untuk menggambarkan FLP dalam benakmu?” tanya seorang teman yang sama-sama suka menyukai kepenulisan. Ada keraguan yang tersirat dalam tannya saat kuceritakan bagaimana hebatnya FLP dimataku. Dalam ceritaku. 

FLP itu adalah sebuah rumah kreasi. Kita bebas berkreasi apa saja, asal menuai manfaat. “ kerutan di dahinya terlihat begitu banyak. Mungkin saja ia sedang berfikir untuk turut serta mendaftarkan diri bergabung di komunitas ini. Tak banyak harapan, toh tak ada hasil yang ingin kucapai. Hanya sekadar bercerita bahwa di zaman ini, saat gadget menjadi central of life, ada kok cara untuk mengubah maind set bahwa back to book adalah salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan gadget.

“Apa yang harus kulakukan, then?”

“Tunggu tanggal open recruitmennya dulu ya?”Yes. akhirnya ada satu kata yang manjur untuk mengajak temanku ini dijalan yang benar, insyAlloh. Hanya Alloh yang mampu membolak-balikkan hati. Karena kepada-Nyalah semua bermuara.

***
           
            Jarak Sidoarjo-Surabaya memang tidak bisa dianggap dekat, tapi hal itu tak menyurutkan langkah untuk terus mengikuti kelas-kelasnya 2 minggu sekali. Lewat flp aku bertemu bunda Wina Bojonegoro, cerpenis yang karyanya melanglang-buana di koran-koran nasional. Lewat flp aku bertemu dengan bunda Shinta Yudisia, seorang psikolog, novelis, aktivis, dan tokoh perempuan. Lewat flp aku bertemu dengan novelis yang telah melahirkan karya tapi beliau tak mau dipublish oleh media, beliau adalah Vannya Chrisma W. Lewat flp aku bertemu dengan writerpreuner yang selalu bersemangat dan berapi-api. Seakan ingin menularkan semangat berkarya untuk generasi pejuang pena, beliau adalah Bapak Dukut Imam Widodo ((Novelis, Sejarawan. Penulis buku Hikajat Soerabaja Tempo Doloe Dll.)). Seorang writerpreunership yang telah melahirkan banyak karya. Betapa bangganya saya telah menjadi bagian keluarga ini. Menjadi bagian yang punya tujuan mulia. Kami menyebutnya pejuang pena. Karena di zaman teknologi kini, pena sudah ditinggalkan. Terkalahkan oleh banyaknya games-games yang melenakan, tontonan melalui youtube yang bikin ketagihan, alih-alih menjerumuskan. Naudzubillah. Kami berjuang melalui literasi. Membangkitkan semangat iqra’ (membaca) bagi masyarakat. 

***

            This is my passion. Apapun akan kulakukan untuk memuaskan dahaga. Dan lewat flp semua menjadi nyata. Tak hanya dalam angan yang selalu dilamunkan. Syukurku bertubi telah menjadi bagian dari keluarga flp. Bahagia itu berlipat tatkala ikut serta dalam penerbitan sebuah buku. What a wonderfull is this? Kebanggaan yang tidak bisa diungkap.

            Hanya bermodalkan nekat. Kudatangi majelis-majelis yang bertebaran ilmu. Mencari sesuap hikmah. Pembelajaran bagi diri untuk terus memperbaiki yang salah dan mengasah kemampuan untuk bermanfaat bagi orang lain. Salah satu majelis itu adalah rumah FLP Surabaya. Hingga suatu project besar ada dipundak kami. Project bikin buku itu terlintas saat kelas writerpreuner oleh Bapak Dukut Imam Widodo. Beliau menantang kami tak hanya pandai berteori tapi juga terjun langsung. Toh nyatanya teori menulis sudah banyak bertebaran di internet. Kini saatnya melakukan langkah nyata. ACTION.

“Saya harus naik level. Tidak sebatas ingin tapi juga berusaha mewujudkannya.” Teriakan hati itu menggema. Mencabik-cabik batin saya untuk ikut serta project tersebut. Saya tahu project itu tak hanya kumpulan antalogi semata. Tapi nama besar FLP ada di dalamnya.

“Apakah saya bisa?”

“Apakah saya mampu?”

“Apakah nantinya saya bisa memuaskan para panitia dengan tarian jemari saya?” sederet kegelisahan dan keraguan kerap muncul. Menciutkan nyali. Tapi akhirnya telunjuk ini pun terangkat. Menyerahkan diri untuk ikut serta dalam project besar. Bismillahirohmanirohim, semoga Alloh menuntun saya dalam mengemban tugas besar ini.

            Akhir tahun 2014 adalah awal dimulainnya project. Tugas awalnya yaitu mencari narasumber sejarah kota pahlawan. Narasumbernya sebaiknya diatas umur 60 tahun. Karena buku yang akan kita terbitkan adalah buku sejarah kota Surabaya. Apa sejarah?? Jangan parodi dulu tentang sejarah, toh kita bisa hidup dan menikmati kebebasan juga dari para pahlawan. Bagaimana mereka menyerahkan hidup dan matinya demi kebebasan NKRI. Darimana kita tahu semua itu, kalau bukan dari sejarah. 

Tapi buku yang sedang dalam pengerjaan itu bukan sembarang buku sejarah yang membuat mata kita terpejam karena merasa di dongengi. Buku sejarah yang bisa bikin kita betah berlama-lama membaca lembar demi lembarnya. Buku sejarah yang teksnya berupa bahasa sehari-hari arek Suroboyo. Jadi tidak kaku seperti buku sejarah yang bertebaran dibangku-bangku sekolah. 

Mboten … mboten Mbah, sangken pengen tangglet asal-muasal selapan ini.” Jawabku sekenanya, sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Nyengir-nyengir sendiri sambil melihat ke bentuk badan apa sudah menyerupai orang hamil ya, entahlah.
Ket biyen yowes onok, zamane kerajaan Majapahit kuwi. Tapi ketika wali songo datang dengan syiar islamnya itulah sedikit demi sedikit ada perubahan. Tentunya yang mengarah akan kualitas keimanan kita sebagai kaum yang beragama. Selama tradisi itu tidak diharamkan oleh agama, sah-sah saja.”   (cuplikan Artikel saya tentang selapan di buku Prejengan Kutho Suroboyo)

            Saat dimulainnya riset data yang nantinya akan dibuat artikel ada sesuatu yang menghambat saya. It’s about my job. Karena saat itu bertepatan dengan pekerjaan saya yang berada di Malang. Saya bekerja menjadi walker di PT. ISM. Perusahaan ini bekerjasama dengan google map untuk mendata setiap usaha/toko yang nantinya kita masukkan ke dalam google map tanpa ada biaya sama sekali. Bekerja dengan pihak luar itu harus disiplin dan bertarget –etos kerja yang seharusnya kita tiru-.  Ada target yang harus kita capai setiap harinya. Inilah yang menjadi penghambat saat akan melakukan riset sebagai bahan penulisan artikel.

            Benarlah para pujangga bahwa disetiap cinta, harus ada pengorbanan yang harus dilakukan. Karena saya cinta menulis, cinta FLP, dan juga bentuk keprofesionalan saya maka hujan-badai kuterjang. 

“Mbak kerja di Malang?”tanya ketua panitia saat itu. Akupun mengangguk. Dan aku tahu resikonya. Lagi-lagi jarak yang mengharuskanku untuk membuktikan kecintaan saya pada FLP, pada dunia kepenulisan.

            “Ya udah, khusus untuk yang tidak berdomisili di Surabaya tidak wajib mengirim 5 artikel. Minimal 3 artikel.” Lega rasanya mendengar keputusan ketua yang bijak itu. Dan pencarian narasumber kucari bersama salah satu anggota Flp juga. Beberapa tujuan saat melakukan riset di kota Surabaya. 

Tujuan Pertama ke MONKASEL (Monumen Kapal Selam)

                           gambar: wawancara dengan pramugari kapal selam Surabaya (dok.pribadi)


           Artikel pertama yang mengupas asal-muasal tentang monumen kapal selam ini. Ternyata kapal selam ini berumur puuhan tahun silam. Dan dinonaktifkan, hingga sekaang menjadi obyek wisata yang laris –manis di kota ini. 

Tujuan Kedua ke Balai Pemuda 


                        gambar: wawancara dengan Pak Luhur di Bengkel Pemuda (dok. pribadi)
           
          Disini saya bertemu dengan bapak Luhur, seorang seniman yang hari-harinya di bengkel pemuda ini. Beliau adalah sahabt dekat Cak Kadaruslan. Seorang sastrawan yang merelakan rumahnya tergadai demi mendanai sebuah pertunjukan seni di kota surabaya. Pengorbanan yang tak bisa dianggap sebelah mata.

Tujuan ketiga ke balai cak durasim 

                                                             gambar dok. pribadi

        Disini kita tak menemukan narasumber yang valid. Jadi disini kita hanya berfoto dan menikamti beberapa pertunjukan yang digelar didepan gedung vak durasim ini. Cak durasim adalah setali tiga uang dengan cak kadaruslan. Seorang seniman yang memperjuangkan budaya agar tidak tergerus oleh zaman. 

          Menjadi penulis memang tidak sekadar menulis. Butuh riset, baca referensi, wawancara narasumber, mengabadikannya dalam satu potret kamera. Adalah sederetan langkah untuk menunjang keorisinal tulisan kita. Tapi aku bahagia, karena dasarnya udah cinta. Walau ada harga yang harus saya bayar saat kembali ke Malang. Pengalaman inilah yang tidak bisa saya dapatkan jika tanpa ada yang menjembatani. Yaitu FLP

            Kini setelah 2 tahun menanti, genaplah bahagia itu saat peluncuran buku dengan judul Prejengan Kutho Suroboyo. Ini adalah potret bahagia sebagian penulis di buku PKS. Bahagia itu semakin nyata sejak bertemu kalian.

                                              gambar: sebagian penulis buku PKS (dok. pribadi)


          Satu buku telah lahir dari kita. Buku yang InsyAlloh memberi manfaat untuk masyarakat. Buku yang juga menjadi tolak ukur bahwa kita mampu untuk menerbitkan buku. Buku yang juga menjadi penyemangat untuk tetap pada satu jalan, berkarya di bumi aksara. Terima kasih FLP atas semua ilmu kepenulisan, atas hangatnya ukhuwah yang terjalin antara kita. Ini adalah langkah awal untuk terus berjuang dengan pena. Menanamkan untuk cinta ilmu, dan gemar membaca. Hayo siapa yang penasaran baca bukunya? :) 

                                gambar: penampakan buku Prejengan Kutho Suroboyo (dok. pribadi)


            Kini anggota FLP Surabaya makin bertambah, semoga bertambah pula semngat dan dedikasinya untuk terus berjuang dengan pena. Jayalah FLP. Jayalah Indonesiaku. Bahwa dengan menulis saya mampu menemukan diri ini seutuhnya. Seperti yang tertera dalam simbol FLP Surabaya. Kami mata pena yang tajam menulis kebenaran.’Santun berucap, Berkata dan Berkarya’. Teruslah berbakti, berkarya dan berarti untuk negri kita, Indonesia.
  


 NB: Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba essay dengan tema "Aku dan FLP"


You May Also Like

4 comments

  1. Jadi teringat pepatah. Kalau mau jadi orang mahsyur, maka jadilah penulis. Hehe ... Namun, selepas itu, menulis juga kegiatan mengasyikkan yang mendatangkan banyak manfaat kalau digeluti secara serius. :)

    ReplyDelete
  2. Betul Mba, sepertikata teh pipit senja"Menulis adalah terapi jiwa" dan membuahkan banyak manfaat.

    terima kasih sudah mampir :)

    ReplyDelete
  3. Dulu saya juga pernah di Surabaya mb, tp gak sempet ktemu sama FLP-nya, hehehe

    Tetep nge-blog mb! Salam dari FLP Banjarmasin

    ReplyDelete
  4. Maaf kak saya ingin sekali bergabung di komunitas tulis menulis dan dapat memberikan manfaatnya nyata bagi saya. saya sebenarnya sudah belajar menulis melalui blog dan juga sudah banyak judul. Tapi karena tidak adanya motivasi saya vakum, padahal tulisan saya masih sangat kurang sekali dan akhirnya saya dan tulisan saya tidak berkembang. Saya mencari sebuah komunitas penulis khususnya di wilayah Surabaya. Mohon dibantu mbak agar saya dapat bergabung dengan flp Surabaya

    ReplyDelete