Ajak Anak Ke Museum, Yuk!

by - October 05, 2016

                                                                    Gambar

               “JASMERAH, jangan sekali-kali melupakan sejarah” adalah sebuah quote dari sang revolusioner, bapak negeri loh jinawi. Yang kekatanya menyiratkan jiwa kepahlawanan. Beliau adalah Ir. Soekarno. Masih meraba-raba bagaimana hebatnya beliau, merenggut merah-putih dari segerombolan tentara jepang, kala itu. Tentunya dengan semangat menggebu.


             Nyawa adalah taruhannya. Mampukah saya berjuang seperti beliau? Menyatukan yang retak? Merebut dari orang yang terkenal ke-bengisannya? Mengobarkan semngat kepahlawanan ke seantreo penduduk indonesia? Siapalah diri ini yang tak sanggup membandingkan dengan sang pahlawan, Soekarno.

            Meski saya bukan pahlawan selayaknya beliau, Soekarno. Tapi saya punya rasa patriotisme yang tinggi untuk Indonesiaku. Meski bukan berperang dengan penjajah, tapi saya berperang melawan diri. Berperang melawan hal-hal yang sering ditinggalkan. Berperang melawan rasa malas yang bergelantungan. Berkoar-koar untuk ikut serta melestarikan budaya yang ditinggalkan nenek moyang, meski tiada upah di dalamnya. Karena tak semua hal pantas dihargai oleh bilangan rupiah, oleh karenanya saya memilih untuk mengedukasi orang sekitar saya.

           Keluarga saya, terutama anak saya. Bukankah anak adalah generasi penerus bangsa? Oleh karenanya saya kerap menyisipi jiwa patriotisme dalam setiap cerita yang saya dongengkan, meski dia belum mengerti saat ini. Lambat-laun dia pasti mengerti, bahwa melestarikan budaya adalah salah satu jiwa patriotisme yang dulu orang tuanya tanamkan.

             Beruntungnya saya yang tinggal di kota udang, Sidoarjo. Ada museum yang dirawat oleh pemerintah daerah sekitar, Museum Mpu Tantular. Adalah museum yang lumayan dekat dengan tempat tinggal saya sekarang. Museum yang terletak di bawah jembatan layang, Sidoarjo ini adalah museum lanjutan dari Stedelijk Historisch Museum Surabaya yang didirikan oleh Von Faber, pada tahun 1933.

                Sepeninggal Von Faber, museum ini di kelola oleh Yayasan Pendidikan Umum yang didukung oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Akhirnya kami sekeluarga bisa mengenalkan anak pada museum ini. Dari mulai yang terdekat, dari mulai yang terkecil, dan dari mulai sekarang, semoga untuk kedepannya makin banyak budaya yang kami eksplor (amiin).

               Barang-barang yang ada di museum ini cukup banyak, yang berjumlah kurang dari 14956 buah. Tentunya ada beberapa barang yang mempunyai nilai historical yang tinggi. Diantaranya adalah :
  • HIASAN GARUDEYA : Hiasan dada ini dibuat dari emas 22 karat dengan berat keseluruhan 1.163.09 gram. Dihiasi 64 batu permata yang disusun secara simetris berdasarkan warna di bagian kiri dan kanan.
                                                                        Gambar
  • SEPEDA TINGGI: Sepeda Tinggi ini diciptakan oleh orang Inggris James Starley dan William Hillman yang mendapat hak patent tahun 1870. Sepeda Tinggi ini sering disebut "Ariel" yang berarti sepeda yang dibuat dari metal, roda bagian muka berukuran besar dan roda bagian belakang berukuran kecil, untuk mengendarai sepeda ini diperlukan keterampilan yaitu dengan jalan melompat atau memanjat.
    Sepedah Tinggi
                                                                          Gambar
        
  • SEPEDA MOTOR (UAP): Dinamakan Sepeda Motor Uap karena dijalankan dengan tenaga uap yang dihasilkan dengan memanaskan tabung yang berisi air, namun setir sepeda motor uap ini seperti sepeda biasa, pada pegangan sebelah kanan dilengkapi dengan rem depan, dan ada alat lain yang dihubungkan dengan silinder di bawahnya yang merupakan alat pengatur gas.

    Sepedah Motor Uap
                                                                        Gambar

  • SEPEDA KAYU: Sepeda Kayu merupakan bentuk sepeda paling awal yang dirancang oleh Michel Kesler dari Jerman pada tahun 1766. Sepeda ini dibuat dari bahan kayu yang dilengkapi tempat duduk, alat kemudi, tidak memakai pedal, dan hanya dikendarai di jalan yang datar atau menurun. Agar dapat bergerak maju ,kaki si pengendara harus ditekan ke tanah. Sepeda ini dapat menempuh jarak 15 kilometer per jam.


    Sepedah Kayu 
                                                                         Gambar
                
                  Rasa ingin lebih dekat dengan budaya itu tak serta-merta muncul. Ada sebuah kisah perjalanan yang mungkin juga bisa menjadi inspirasi. Berawal dari sebuah proyek penulisan buku yang bertemakan sejarah oleh suatu komunitas yang saya ikuti. Seorang penulis hebat, menantang kami (anggota komunitas) untuk langsung terjun bagaimana membuat sebuah artikel bertemakan sejarah. Lalu kita kemas sebagus mungkin, agar tidak terkesan menggurui. Dalam perjalanan mencari narasumber dan benda-benda peninggalan. Banyak hal yang saya alami. Diantaranya:
    • Pentingnya Sejarah Sejarah membuat kita bangga. Kalau tidak ada sejarah, mana mungkin kita bisa menghirup kebebasan sampai saat ini? Jasa pahlawanlah yang membuat semuannya menjadi indah. Bahwa indonesia dahulu dalam kerajaan Majapahit, pernah menguasai hampir semua daratan Asia.

      Pentingnya Narasumber: 
      Narasumber yang otentik adalah mereka yang pernah mengalami peristiwa. Dan umumnya mereka berumur diatas 70 tahun. Pernah kejadian pada suatu hari, teman saya mewanwancarai seorang nenek-nenek yang setelah diwawancara, seminggunya meninggal dunia. What a socked moment? Untungnya udah diwawancara, jadi ada data otentiknya.Diturunkan ke anak-cucu bagaimana rasanya hidup tanpa cerita? Benarlah kiranya saat Seokarno berkata JASMERAH (jangan sekali-kali melupakan sejarah). Tak akan ada rasa memiliki, tak akan ada jiwa patritisme. Dan hidup akan datar-datar saja. Dengan adanya sejara, kita miliki cerita yang bisa diturun-temurunkan ke anak-cucu kita

      Menambah rasa cinta tanah air
      : Salah satu kolesi museum Mpu Tantular yang menjadi masterpiece adalah sepedah motor uap. Sepeda Motor Uap ini merupakan barang langka, karena di dunia hanya beberapa dan salah satunya ada di museum ini. Sepeda motor ini segala peralatannya masih asli, tidak ada yang diubah. Kendaraan ini dahulu dapat mencapai kecepatan 30 Km/Jam.

    •         Tidak mudah memang mengenalkan keluarga dengan sesuatu yang ‘membosankan’ dibanding dengan gadgetnya. Sejarah kerap kali dianggap dengan sesuatu yang menina-bobokkan, (hal yang sama, yang saya alami saat masih menjadi murid SMP hingga SMA). Tapi kini saya lebih concern terhadap budaya. Setidaknya meminimalkan ketergantungan anak terhadap media sosialnya.

               Di era digital ini, hal-hal yang berbau sejarah kerap ditinggalkan, terlihat dari sepinya pengunjung di museum mpu tantular ini. Meski harga tiket dibandrol dengan harga Rp. 2000 rupiah, tetap saja pengunjungnya hanya hitungan jari. Inikah tanda-tanda punahnya sebuah peradaban? Betapa menyedihkannya jika hal itu sampai terjadi.

               Sebelum semuannya terlambat, yuk saling berpegang tangan. Menyingsingkan lengan untuk turut serta melestarikan budaya, dan benda-benda antik yang ditinggalkan oleh nenek moyang. Mulai dari hal terkecil, dan dari yang terdekat. Siapa lagi kalau bukan si kecil, anak-anak kita sebagai agent of change. Ada beberapa hal yang saya lakukan saat mengenalkan museum kepada anak yang mungkin juga bisa dilakukan oleh ibu-ibu hebat. Tentunya memasuki dunia anak itu harus fun. Tidak serta merta kita suruh. Bebrapa tips yang saya lakukan untuk mengenalkan mereka pada budaya indonesia:

      1. Mendongeng sebelum anak tidur. Sebelum jam biologisnya tertidur dalam buaian mimpi, saya kerapkali mendongengkan cerita untuk si kecil. Studi mengatakan bahwa banyak sekali manfaat mendongeng sebelum anak benar-benar tertidur. Salah satunya adalah menciptakan bonding antara ibu-anak. Menanamkan nilai-nila yang tersirat dalam cerita. Disinilah saya biasanya menyisipi jiwa-jiwa patriotisme ke anak dengan mencintai dan melestarikan budaya peninggalan nenek moyang.
      2. Mengajak anak untuk mengunjungi museum secara berkala. Weekend adalah quality time bersama keluarga. Tak jarang saya mengajak anak dan suami untuk mengunjungi tempat-tempat yang punya historical tinggi. Salah satunya adalah museum mpu tantular ini. Seorang anak itu terlahir unik, hal itu terbukti saat berkunjung banyak sekali hal-hal yang dia tanyakan. Itu patung apa, ma? Siapa yang buat? Kapan dibuatnya? Dan masih banyak lagi.  
      3.  Memotivasi anak agar juga mengenalkan museum ke teman-temannya disekolah. Tahapan selanjutnya akan lebih mudah lagi. Jika anak menunjukkan ketertarikannya di tempat-tempat bersejarah yang kita kunjungi, maka secara otomatis cerita itu akan ia ceritakan ke teman-temannya. Baik di sekolah maupun di TPA (Tempat Pendidikan Al-qur’an)
      4.  Menyampaikan saran ke dewan guru agar lebih mengenalkan anak ke budaya. Menyampaikan saran ke bapak/ibu guru di sekolah juga bisa menjadi alternatif yang bagus untuk terus menanamkan jiwa patriotisme. Mendekatkan anak-anak ke budaya. Ikut serta menlestarikannya. Merawat dan menjaganya.        

                 Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk lebih dekat dengan warisan budaya. Seharusnya dengan kecanggihan digital seperti saat ini, akan mempermudah informasi yang kita lakukan sebagai wujud pengenalan untuk anak-anak kita. Tiada yang lebih membanggakan sebagai orang tua, kecuali melihat anak-anak kita tumbuh dan berkembang dalam sebuah rasa cinta Indonesia yang mencokol di dalam dadanya.

                   Dan kita sebagai orang tuanyalah yang menumbuhkan rasa cinta itu. memupuknya setiap saat. menumbuhkannya setiap waktu, hingga saatnya nanti apa yang kita tanam,akan kita panen.

        Salam,
        Zummatul Atiqo #BuktiCinta_Blog

        Diikutkan sebagai Blog Competation dengan tema: Love or Lost Warisan Budaya Indonesia

        NB: Untuk Informasi Lebih Lanjut Hubungi
        web
        : http://www.museum-mputantular.com/koleksi-indoor/
        Lokasi : Jl. Raya Buduran - Jembatan Layang, Sidoarjo-61252
        Telp. (031) 8056688, Fax. (031) 8056688

You May Also Like

4 comments

  1. Terlebih di zaman modern gini ya, Mbak? Anak-anak harus lebih mengenal akan sejarah dan warisan budaya yg ada di tanah air.

    ReplyDelete
  2. Wah, ternyata museum itu tidak semenyeramkan yang selama ini dibayangkan, ya ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga hanya kuburan saja yang menyeramkan hihihihihi

      Delete

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.