Andaikan Waktu Bisa Kembali!

by - October 24, 2016




Andai


Andai waktu bisa kembali
Andai masa remja kembali kurenguk
Andai waktuku masih panjang
Andai semua aku tahu lebih dahulu
Takkan kusesali waktu 
Takkan kusesali kenangan 
Takkan kusesali perjumpaan dan berakhir perpisahan  

Akan kugapai angan dan asa
Akan kugengam mimpi dengan sekuat jiwa 
Akan kugengam dunia dan kuraih akhirat 

Dengan Kuasa-Mu
Dengan Kehendak-Mu
Atas seijin-Mu 
Atas takdir-Mu


            Di usia seperempat abad ini, banyak hal yang membuatku bengong dan berkata “Selama ini gue kemana? Selama ini gue dimana? Selama ini apa aja yang gue lakukan?” banyak hal yang tanpa kusadari telah memperdayaku hingga tak menyadari bahwa waktu terus bergulir, dan terus menggerus semua kenangan yang telah lewat. Dan parahnya 25 tahun kemarin seakan buangbuang waktu. Bukan tidak mensyukuri 25 tahun selama ini kepada Maha Kuasa, tetapi hanya menyesalkan diri bahwa selama ini tak ada kebermanfaatan yang kulakukan untuk diri sendiri dan orang sekitar. Andai aku tahu lebih awal, pasti sekarang aku lebih optimis untuk brjalan. Meraih semua hal yang kuimpikan, menikmati waktu yang tersisa dengan melakukan apa yang kulakuan, bukan melakukan apa yang harus kulakukan. 5 hal itu adalah:
  1. Andai Aku Punya Banyak Buku

    Keinginan untuk mempunyai perpustakaan pribadi itu terlintas pada awal-awal memasuki kuliah. Ah mudahnya jika mempunyai perpustakaan pribadi, tidak perlu repotrepot antri dengan dengan teman sekelas saat ada tugas. Tidak perlu copy-paste materi dari internet, yang pada akhirnya ketahuan dosen *membuka aib *tutup muka. Andai aku punya banyak buku dan membuat perpustakaan mini, maka sempurnalah hidupku.

  2. Andai Aku Menekuni Hobi Sejak Dulu
    “Hobi yang dibayar itu sangat menyenangkan” itulah kutipan pepatah yang membuatku semakin bersemangat untuk menekuni hobi di dunia tulis-menulis. Andai aku lebih serius lagi 5 tahun yang lalu untuk menekuni hobi ini, insyAlloh akan lebih mudah untuk melangkah lebih jauh. Dan mungkin saat ini aku bisa menjadi penulis dengan melahirkan karya yang bermanfaat untuk pembaca. 
  3.  Andai Aku Bisa Masak
    Kewajiban seorang istri memang untuk membahagiakan suami. Andai aku bisa masak, tentunya aku bisa lenbih mudah membahagiakan suami dan betah berlama-lama di rumah. Dan mewujudkan baiti jannati. Semoga seiring berjalannya waktu, kemampuan memasakku semakin meningkat dengan terus belajar, belajar dan bereksperimen.
  4.  Andai Aku Punya Skil
    Suatu hari adik perempuanku bertanya “Mbak, sebaiknya aku nanti kalau kuliah ambil jurusan apa ya?” aku lalu terdiam. Termenung dengan tanyanya yang serta-merta. Kalaupun boleh jujur menjadi mahasiswa dengan sebuah gelar di belakang namanya bukanlah sebuah jaminan untuk bisa sukses sedini mungkin. “Jurusan apa saja boleh, asal kamu senang dan menikmatinya tentunya tidak ada paksaa. Tapi kalau boleh memberi saran, pilihlah jurusan yang meningkatkan skil, bukan teori semata. Karena di dunia moderen seperti saat ini butuh orang yang kreatif. Tidak hanya mengandalkan selembar ijasah.” Jawabku mantab.  Skill (ketrampilan) seolah lebih menjanjikan dalam dunia kerja. Karena mereka sudah ahli di bidangnya. Andai dahulu saya memperkya diri dengan skill yang kupunya, insyAlloh hidup lebih mudah.
  5. Andai Aku Memperdalam Ilmu AgamaAgama adalah pondasi. Memperkokoh pondasi itu lebih penting untuk mendirikan sebuah bangunan. Karenanya aku ingin lebih memperdalam ilmu agama. Dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena iman adalah meyakininya dalam lisan dan mengamalkannya melalui tindakan nyata. Disaat usia tidak lagi muda. Makin mendekatkan saya akan sebuah tujuan akhir kehidupan ini. Kematian adalah sebuah kepastian. Maka untuk membekalinya adalah dengan terus belajar ilmu agama. Karena tidak ada kata terlambat untuk belajar. Andai saya dahulu lebih memprioritaskan ilmu agama, insyAlloh saya lebih siap untuk menjadi istri dan ibu di keluarga kecil saya.
          Berandai-andai bukan mengkufuri nikmat yang telah Alloh berikan kepadaku. Tujuanku hanya untuk reminder (pengingat) bahwa usia tak lagi muda. Bukan saatnya berfoya-foya, nongkrong sana-sini dengan teman sejawat. Tetapi lebih kedalam. Bahwa ada keluarga yang membutuhkan sebagai istri dan ibu. Ada suami yang harus kulayani, ada anak yang harus kulimpahi kasih-sayang setiap saat.
         Semoga reminder ini sekaligus membuat saya bersyukur atas tamparan-tamparan kecil agar senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah kuhirup dan kesempatan untuk belajar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Amin ya robbal alamin.  


NB: Tulisan ini diikutkan dalam Give Away oleh Habib Asrafy

You May Also Like

0 comments

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.