Sakit Campak

by - November 25, 2016






            Selasa, 1 november 02.00

            Saat hendak menyusui Danil, kurasakan suhu tubuhnya tinggi. Aku udah agak terbiasa dengan suhu si kecil yang mulai panaslah. Berbekal pengalaman yang dulu, “nanti aja, kupijatkan lalu diolesi dengan bawang merah dan minyak telon. Karena, sakit Danil bukan yang pertama”. Menjelang subuh, akhirnya utinya kuberitahu bahwa cucunya panas lagi. Belum genap seminggu yang lalu, Danil juga mengalami panas. (dilain kesempatan saya akan bahas sakit danil pada tanggal 23 Oktober, 2016. Sakit yang tidak biasa. What is tha? Tunggu tanggal mainnya yaa! hehehe)

 

            Subuh itu, danil tidak saya mandikan. Hanya saya usap dengan kain lap. Untuk menghilangkan keringatnya saja. Agak khawatir juga karena panasnya agak tinggi, beda dengan panas yang minggu sebelumnya. 

            “Dipijatkan saja ke Mak Ali.” Suruh ibu mertua. (Mak Ali adalah ibu mertua paman yang tetanggan dengan rumah mertua. Memang sich beliau bukan tukang pijat, tapi Danil cocok dengan pijatannya) 

            “Dibawa ke bidan saja.” Timpal Abah mertua. Kadang geli juga, yang repot saat Danil sakit bukan hanya orang – tuannya, tapi eyangnya juga. Inilah anugrah lain yang saya dapatkan saat seatap dengan mertua. Anak saya berlimpah kasih sayang. Terima kasih Alloh. Selayaknya mantu, saya pun hanya mengangguk. Karena sebenarya udah ada niatan untuk mijetnya nanti agak siangan.
09.00
            Akhirnya kupijatkan ia di Mak Ali. Tak ada firasat apapun, mungkin kelelahan karena diusiannya yang menginjak  9 bulan ini, ia aktif sekali. Merangkak kesana-kemari. Tak jarang juga, ndelosor karena sangat antusias. Dengan berbagai drama-melankolis. Nangis jerit-jeritlah. Usailah pijat-memijat itu. Hingga sore tiba, panasnya juga belum turun. Hingga rewe sekali. Minta di gendong terus. Maklumlah ya, namanya juga sedang tidak enak badan.

            Hingga malam menjelang. Aku nanti-nanti suami. Biasanya ia pulang sekitar pukul 22.00 “Mungkin hujan.” Hibur batinku. Akhirnya saat pukul 01.00 ia baru ke kamar. Kuceritakan kejadian yang menimpa anaknya.

“Belum genap seminggu, udah sakit lagi.” Keluhku kepadanya. Memang sich siapa juga yang mau sakit. Tapi bukankah penyakit itu datangnya dari Alloh. Kalau Alloh ridho, insyalloh dalam keadaan merawat anak yang sakitpun akan terasa nikmat dan bersyukur. Bersyukur karena nikmat sehat anak masih lebih banyak daripada sakitnya. Bersyukur karena hanya Fira’un yang tidak merasakan sakit, kecuali saat akan menjemput ajal.

“Ya nanti belikan Madu aja. Insyalloh Danil akan lebih kebal”. Salut dech sama pak suami yang selalu kepala dingin dalam menyelesaikan semua masalah. Nggak kayak aku yang selalu tergopoh-gopoh.

2 November, 2016.

Pagi hari, kurencanakan untuk pergi ke bidan langganan Danil. Namanya juga sudah langganan, ia cocok. Beberapa kali ketempat bidan itu, danil sembuh. Berhubung pak suami masih kelelahan, kupending. Sore aja dech. Mencoba berdamai dengan keadaan. Karena tak semua harus sesuai dengan rencana dan ekspektasi.

Karena Danil masih masih rewel, dan maunnya di gendong melulu. Kuajak dia ke teras depan rumah. Lalu ada tetangga yang menghampiri, dan ngendongnya. “Iya Mbak,panas sekali.” Ucapnya. Lalu aku permisi untuk menyiapkan sarapannya Danil. Belum selesai menyelesaikkanya, tangisannya pun pecah. 
“Sayang sekali kau nak, dengan amakmu ini.hingga tak bisa jauh.”hiburku dalam letih yang amat sangat.
“Gabagen mungkin mbak, ini bentol-bentol. Biasanya anak saya juga gitu. Kalau suhu badannya tinggi, disertai bentol-bentol tandanya gabagen atau campak. Dikasih degan hijau saja. “ terang mbak Ukh, anak tetangga samping rumah.

“Owalah, saya tidak tahu mbak. Cuman suhunya memang tinggi, tidak seperti biasanya. Rencannya sore nanti baru saya bawa ke bidan. “

“Kalau gabagen, jangan bawa ke luar rumah. Jangan diangin-anginkan. Biar gabagnya keluar semua. “ Mak Ali inkutan nimbrug. “nggak usah mandi, matanya saja dioles dengan kain lap. Pokonya jangan dikenakan air. “ nasihatnya lagi.

Setelah mengetahui prediksi awal tentang penyakit Danil. Langsung kubawa kedalam rumah sambil membuatkannya sarapan. Meski hanya beberapa sendok yang masuk ke mulutnya. Tidak apa-apa. Karena masih belum sreg dengan prediksi pertama, kucoba tanya second opini. Kulanjut dengan tanya ibu di sebrang telepon. Usut punya usut, nasihatnya pun serupa dengan Mak Ali. “NGGAK BOLEH KENA ANGIN, NGGAKBOLEH KENA DINGIN. BIAR PANASNYA YANG BERUPA BENTOL-BENTOL CEPAT KELUAR, LALU DINGIN ANAKNYA. “ that’s the poin.

Akhirnya kuurungkan niat untuk ke bidan. Mungkin mereka benar. Bahwa gabag adalah sebuah penyakit yang diserang oleh virus. Nah untuk melawan virus itu, tubuh membentengi diri dengan menaikkan suhu tubuh. Itulah beberapa penjelasan dari mbah google dalam pencarian. Pun sempat blogwalking ke blogger yang mempunyai cerita serupa. Dalam cerita mereka, kutandai bahwa penyakit gabag ini memang agak lama, sekitar seminggu. Dan tidak ada obatnya. Hanya obat pnurun panas, dan penghilang nyeri. Gunanya agar segera menurunkan panas bayi, dan meredakan nyeri-nyeri ditubuhnya. Setelah nanti gababgnya yang berupa merah-merah dan merintis keluar maka tidak lama akan sembuh sendiri.
Siangnya dibelikan obat SANMOL, penurun panas. Oleh utinya. Berharapsegera reda tuh panas. Karena tidurnya tidak nyenyak. Berkali-kali bangun. Dan nafsu maknnya turun drastis.



03 oktober, 2016

Akhirnya kami sepakat membawanya ke bidan. Karena kekata “Jarene” itu tidak valid.hanya tenaga medis yang mampu mengidentivikasi penyakit yang menyerang si kecil.

“Suhunya 39,8 celcius mbak. Tinggi banget. Terus kena radang juga. Diberi makanan gorengan?”

“Hanya kerupuk gorengan wedi.”

“Jangan Mbak, radang ini akibat gorengan. Ini saya kasih obat dan anti biotiknya yang bagusan. “

“nggak gabagen mbak?”

“Ndak, merah-merah ini hanya akibat dari suhu yang panas. “ yach sudahlah. Namanya saya hanya seorang ibu yang berbicara soal insting, tanpa ada ilmu dibaliknya. Instingnya mengatakan bahwa danil tetap gabagen. Dari google pun diberi penjelasan, bahwa virus gabagen ini menyerang radang tenggorokan. Jadi wajarlah kalau mereka menyebutnya radang.

Setelah dari bidan dan meminum obat yang disarankan. Tak kulihat perubahan yang berarti. Anaknya juga masih tetetp rewel. Obatnya juga dimuntahin beserta makanannya. Sabar. Sabar. Hanya itu yang terlintas dalam pikiran dan hati. Anak sakit itu memang capek. Capek hati, pikiran dan tenaga. 

4 november 2016

Demam yang belum turun. Rewelnya semkin menjadi. Baru ngerasain bagaimana pentingnya menjaga kebersihan. Karena berdasarkan stalking di mbah google, campak adalah sebuah virus yang tertempel ditempat-tempat yang kotor, lalu terkena tangan dan akhirnya sampailah ke mulut. Dan berakhir di peradangan, yang menyebabkan demam tinggi. Jadi asisten bidannya juga nggak sepenuhnya salah karena di tenggorokan juga terjadi peradangan yang diakibatkan oleh virus. Bukan karena gorengan dan sejenisnya. Karena sampai saat ini Danil belum pernah saya kasih gorengan dan sejenisnya. MPASInya hanya seputar sayur dan buah.

Sorenya bintik-bintik merah keluar di punggunya, leher dan sebagian wajahnya. “Semoga segera sembuh, dan ceria seperti sedia kala.” Hanya itu yang terselip dalam do’a. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana panasnya dan gatel, beserta nyeri yang menyerang putra saya. Andaipun bisa, sakitnya itu limpahkan saja pada saya.

Sampai saking rewelnya, mbah utinya berkesimpulan bahwa penyakit yang seminggu lalu datang lagi. Akhirnya suami memanggil ‘orang pintar’ itu, hanya untuk memastikan benarkah firasat sang ibu (mba utinya Danil)? Dan jawabannya NIHIL. Murni karena sakit, dantenaga medis yang mampu menanganinya. ALHAMDULILAH. *tariknafas *lega

5 november 2016        

Jumat pagi, Danil masih rewel dan bintik-bintik merah tambah banyak. inilah kenapa 2 hari ia selalu rewel. Panas bercampur nyeri. Seperti halnya orang dewasa pada umunya, kalau mereka sakit yang serupa pasti juga merasakan kesakitan yang sama. Oleh karenanya bayi kecil saya rewelnya sampai dipuncak. Karena ia belum bisa mendeskripsikan apa yang ia rasa. Maka bentuknya berupa rewel siang hingga malam.

Obat dari bidan juga masih saya kasihkan. Tetapi kebanyak obat yang ada 3 jenis itu ia muntahkan seketika. Bagaimana nggak muntah, lah dikasih maem aja susah. Padahal fungsi makananya adalah sebagai alas di lambungnya.

6 November 2016

Alhamdulilah, semalam tidur nyenyak. Meski sesekali ada rengekan, cukup di nenenin Danil udah pules lagi. Panasnya juga udah turun. Bintik-bintik merah juga mulai menghilang. semoga ini bertanda yang baik. Dan segera dipulihkan lagi seperti sedia kala.

Setelah saya lap pakai waslap seluruh badannya, ia lalu ceria lagi. Merangkak kesana-kemari. Meski tubuhnya masih lemas. It’s much better than yesterday. Genap 5 hari akhirnya campak deases itu pergi. Meninggalkan hikmah yang besar bagi saya agar lebih menjaga kebersihan Danil dan sekitarnya. Menjadi lebih bersabar lagi dalam merawat anak, terlebih saat penyakit datang melanda. Harus bisa berdamai dengan keadaan. Berfikir positif selalu. Satay happy.

Ini penting untuk tetap bahagia. Karena mengurus anak dibutuhkan energi ekstra. Jadi bahagia adalah kunci utama dalam mendampingi tumbuh-kembang mereka. Selalu sehat terus ya, Nak! Jangan sakit-sakit lagi. Love u as always.  

You May Also Like

0 comments

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.