Belajar dari cerita PAY IT FORWARD

by - January 25, 2017




            Mak ingatkah sebuah cerita inspirasi dengan judul diatas? PAY IT FORWARD. Pertama kali mendengar cerita ini,kurang lebih 6 tahun yang lalu. Masih teringat dengan jelas bagaimana siaran radio Trijaya FM mengundang para motivator untuk mengisi motivasi setiap pagi. Ba’da subuh, pukul 05.00-06.00. 1 jam berharga itu tidak pernah saya lewatkan, kecuali hari minggu. Acara motivasi seperti itu, 80% mengubah mind set saya kala itu. Dan salah satunya yang masih teringat adalah cerita PAY IT FORWARD. 

            Ada yang masih ingat ceritanya, mak? Sekilas saya ceritakan. Suatu hari ada seorang anak muda yang ingin mengubah dunia. Dia mulai membantu orang-orang disekelilingnya. Yang pertama adalah ibunya. Anak ini kasihan melihat ibunya yang tiap hari minum-minuman keras, begadang dan terlihat frustasi. Dan anak ini berencana membuat kencan romantis untuk ibunya dengan salah satu guru di sekolahnya. Dan rencana itu berhasil. Hasilnya bisa ditebak, ibunya terharu atas apa yang anaknya lakukan. “Pay it forward, mom!” ucap anak laki ini.
            Atas inspirasi dari anaknya itu, ibunya mengunjungi ibunya (nenek dari anak inspirasi). Ibunya sudah bertahun-tahun memendam amarah kepada sang nenek karena satu dan lain hal. Ia akhirnya meminta maaf kepada sang nenek. Melupakan semua kejadian yang telah berlalu, dengan tak lupa mengucapkan hal serupa seperti ananknya lakukan. “Pay it forward, Mom!”
            Kebaikan itu terus mengalir hingga salah satu orang yang ditolong itu adalah seorang wartawan. Akhirnya ia menelusuri kebaikan PAY IT FORWARD. Dan bertemulah dengan si anak inspirasi ini. Dann.... mak2 pasti tahu kelanjutannya. Berita anak itu viral kemana-mana. Mecem meme-meme cantik kala itu *jangan remehin ibu berdaster, karena kalau udah make up kelar hidup LO *ngelantur
***

            Back to the topik
            Hal yang saya ingin sharingkan adalah sebuah kebaikan serupa yang saya dapatkan siang tadi. Bersamaan dengan mendung, datanglah seorang Pak Pos. Memberi saya sepucuk surat dari perak, Jombang. Surat itu berisi perintah untuk segera mengambil dompet saya yang hilang 10 hari yang lalu. Tepatnya tanggal 14 januari 2017.
            Yupz, 10 hari berlalu dan seorang ta’mir masjid yang saya singgahi itu meminta saya untuk mengambil dompet yang tanpa sengaja saya jatuhkan. Dalam rentang waktu 10 hari setidaknya ada banyak hal yang bisa dilakukan selain menunggu sang empunya datang kan? Misalnya
1.      Diambil duitnya yang nggak seberap itu, lalu membuang surat-surat penting di dalamnya.
2.      Dijarno. Lha wong bukan punya dia, sang empunya pun woles-woles saja tidak berusaha mencari. Pak.. bu... bukannya saya malas mencari, tapi emang saya nggak ngeh kalau tuh dompet jatuh di Masjid. Firasat saya mengatakan tuh dompet hanya keselip ditumpukan baju atau popoknya Labib. Just it. Tapi nyatanya dompet itu benar-benar jatuh di masjid. *nah loh
3.      Ngapain juga capek-capek ngirim surat via pos yang tentunya berbayar itu. Sedangkan keluarga juga membutuhkan uang serupa untuk keperluan rumah tangga.

Tapi kelembutan hati pak ta’mir itu merubah semua mind set saya tentang orang, dan masyarakat pada umumnya. Ya, seolah pak ta’mir itu adalah anak kecil inspirasi itu. Pak ta’mir itu menginspirasi saya untuk melakukan kebaikan-kebaikan serupa. Bahwa dengan tangan kita, tak perlu muluk-muluk ingin merubah dunia. Rubahlah diri kita sendiri agar senantiasa menjadi baik. Remeh memang tapi lihat dampaknya. Cerita Pay It Forward telah berlalu 6 tahun yang lalu. Dan kini saya mengalami kebaikan yang seolah membawa saya ke cerita inspirasi itu.   
Bisa dibayangkan bagaimana ribetnya ngurus surat-surat kecil tapi penting itu. Andai saja pak ta’mir acuh. Andai saja pak ta’mir masa bodo dengan dompet saya. Dengan kejadian ini, saya semakin tertampar bahwa banyaaaaakkkk sekali nikmat Alloh yang telah dberikan untuk saya.
Jadi malu atas kewajiban saya yang itu-itu saja. Jadi malu atas keluhan,umpatan yang terlontar dari bibir ini. Jadi malu dan berkedok dibalik alasan atas hal-hal baik yang senantiasa saya tunda, tunda dan tunda. Inilah cara Alloh untuk kembali mengingatkan saya untuk selalu bersyukur. Inilah caraNya menegur saya untuk tak lagi berkeluh-kesah, karena apapun itu yakin saja Alloh yang memberi sedemikian rupa. Tak ada yang sia-sia jika semuannya dariNya.
***


So, something that we can learn are:
1.      Saat kita kehilangan sesuatu, barang, seseorang tak perlu drama. Sedih bolehlah, sesekali. Setelahnya pasrahkan saja kepada Sang Pemilik Takdir. Bukankah iman kepada qodo dan qodarnya Alloh itu ada di rukun iman ke-6?
2.      Usaha. Disni kita mengingat-ingat kembali apa saja yang telah kita lakukan, mengira-ngira dimanakah jatuhnya? Mencari-cari disekitar rumah, kamar dll
3.      Do’a. Apapun dan sampai kapanpu berdo’a adalah senjata orang muslim. Dengan berdo’a kita tahu bahwa ada yang lebih besar dari kita, tempat kita bersandar, tempat kita mengadu. Hingga tak ada lagi keluhan yang berseliweran di sosmed *tunjuk diri sendiri :D
4.      Nadzar. Ini hanya option sich. Boleh dilakukan, boleh tidak. Tapi setelah bernadzar, wajib hukumnya melaksanakan. Contohnya nech saya sendiri. Sejak mengetahui bahwa dompet saya hilang, saya bernadzar: Ya Alloh jika masih rizki saya, kembalikan dompet saya ya Alloh dengan caraMu. Dan jika dompet saya ketemu, saya akan ..... *sensor. Dan see? Alloh mengabulkan do’a hambanya yang bersungguh-sungguh.     
            Dan kini dompet saya kembali ketangan. Tak ada satu barangpun yang hilang, pun uang didalamnya masih sama persis seperti sedia kala. Ini adalah cara saya merayu Alloh. Inilah cara saya untuk mempertebal keimana saya agar senantiasa berbaik sangka atas apapun yang terjadi di kehidupan ini. Ini adalah cara saya mengapresiasi kebaikan sang Ta’mir yang telah berbaik hati mengembalikan dompet saya. Sampai kapanpun saya tidak bisa membalas kebaikannya. Ini cara saya berbagi. Juga sebagai reminder untuk diri saya sendiri bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika Alloh berkendak. KUN FAYAKUN.
Adakah yang punya pengalaman serupa tentang KEHILANGAN? Yuk share di komentar J atau jika ingin meneruskan seperti cerita Pay it forward, silahkan saja share sebanyak mungkin agar semakin banyak orang sadar bahwa tak akan sia-sia bagi mereka yang senantiasa menebar benih kebaikan. Karena barang siapa yang menanam, ia juga akan menuai hasilnya.

You May Also Like

0 comments

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.