Anak umur 7 tahun hafal Qur’an? BISA

by - March 05, 2017



Koleksi Pribadi
          
  Assalamualaikum sahabat filah. Lama jarang up date blog. Tapi nggak selama cinta nunggu rangga kan? #eaaa *baper mode On. Kali ini saya mau cerita. Sekadar cerita dari cerita juga soalnya. Semoga saja bisa meneladaninya. Amin ya robbal alamin. 
            Cerita ini berawal dari seorang teman lama dan masih awet sampai sekarang. Saya percaya dan meyakini bahwa silaturrahmi itu memperluas rizki. Dan rizki tidak selalu nominal, right? Rizki itu berupa cerita berujung hikmah. Namanya adalah Eri, seorang hafizhoh yang mendedikasikan dirinya dalam sebuah lembaga qur’an di kota besar Surabaya. 

 
            Dalam sebuah chat BBM malam itu, ia cerita bahwa anak kepala sekolahnya yang saat itu baru menginjak kelas 2 SD sudah hafal al-qur’an beserta terjemahannya. Saya dibuat geleng-geleng dengan pencapaian funtastic itu. “Beneran kelas 2 SD, yang artinya masih berumur 7 tahun?” tanya saya dengan ketakjuban yang masih dipelupuk mata. 


“Iya, Mbak. Aku juga antara percaya dan tidak. Tapi it’s real. Hampir tiap hari aku melihat anaknya disini.” Ceritanya. Bukan emak-emak namanya kalau tidak KEPO *senyum pepsodent* usut punya usut, sejak dalam kandungan si janin sudah di dengarkan murottal al-qur’an. Dan setelah ia lahir tiada hari tanpa al-qur’an. Murojja’ah berkali-kali.
 
“Ya Alloh, mbak. Kalau itu yang keren orang-tuanya.” Balas chatnya dengan emoticon senyum. Tapi kalau dipikr-pikir emang iya ya. Anak itukan seperti sebuah kertas kosong, dan orang-tuanyalah yang menjadikan lukisan di atas kertas itu. Kalau dari sejak di dalam kandungan sudah dicetak menjadi hafidz cilik, KUN. Maka jadilah ia anak yang penghafal quran. 

“Makanya, mbak. Jadilah orang-tua yang keren. Biar anaknya tambah keren.”balasnya dengan emoticon ciuman jauh. Jleb! Rasanya. Bagai ditampar sebuah petir di siang hari. Kemudian merenungku. Anak adalah anugrah, maka sebaik wujud syukur anak harus di didik sebaik mungkin. Bukankah Sang Maha menciptakan manusia untuk tunduk dan patuh terhadap perintahNya. 

“Doakan aku mba, semoga bisa menjadi orang tua yang baik untuk Labib.” Tutupku mengakhiri chat malam itu.
            Adalah sebuah impian setiap orang-tua untuk mendampingi anaknya menjadi hamba yang sukses kelak saat ia dewasa. Dan salah-satu kesuksesan itu adalah bisa menjadikan anaknya menjadi penghafal Al-Qur’an, insyalloh sukses dunia-akhirat (amin ya robbal alamin). Pertanyaan yang muncul kemudian, mungkinkah? Teori peluang muncuk keberhasilan berapa %? Yakinlah bahwa hasil tidak akan menghianati usaha. Sisi positif muncul menjadi perantara bahwa saya harus berusaha menjadi ibu yang terbaik. Bagaimanakah usaha itu? Here we go:
1.      Mendengar. Biasakan untuk mendengarkan murrotal setiap hari saat ia tertidur. Baik siang maupun malam. Hal ini sesuai dengan teori parenting bahwa saat anak tidur, maka otak akan terbuka lebar. Apa yang ia dengar, otomatis akan terekam di alam bawah sadarnya secara permanen.  

2.      Bacakan. Sebelum berbincang dengan teman saya itu, di kamar saya sudah berinisiatif untuk menempelkan berbagai macam poster dari mulai poster Animals World, Transportation, numbers sampai huruf hijaiyah. Gunanya adalah tentu saja sebagai media pembelajaran saat Labib sedang bosen main atau apalah. Tapi katanya itu kurang efektif. Yang paling efektif adalah dengan membuat kartu huruf hijaiyah dari kertas kartoon. Beri warna-warna yang cerah. Kalau ingin tahan lama, lapisi dengan kardus. Kartu itu tidak hanya dibuat sebagai pajangan, tapi bacakan. Bacakan yang keras saat anak main. Kalau emak konsisten, insyalloh ikhtiar kita akan membuahkan hasil. Itu kata teman saya. Makanya saya juga ingin prkatek. Biar bisa membuktikan sendiri. 



3.      Biasakan. Mulai sejak dini biasakan dengan mengucapkan kalimat-kalimat pendek seperti Allohu Akbar, Alhamdulilah, Subhanalloh dll.
Tips diatas adalah sharing teman saya yang menjadi pengajar tahfidz di sebuah lembaga pendidikan Surabaya. Semoga kita emak-emak cerdas dengan segala kerempongan di rumah bisa menerapkan tips-tips jitu untukmenghadirkan hafidz-hafidzoh di rumah-rumah kita.
            Tips diatas hanyalah untaian kata tanpa makna jika hanya sekadar dibaca. Beda ceritanya kalau bisa kita aplikasikan ke si kecil sedini mungkin. Lebih cepat lebih baik. Dan akhir kata Tiada yang Instan di dunia ini, butuh kerja keras dan istiqomah yang taiada akhir. Semoga kita semua mampu mendidik anak-anak kita sebaik mungkin. Karena kelak akan dimintai pertanggung jawaban oleh Sang Pemilik.
Selamat berlelah-lelah di dunia, dan semoga kelak di akhirat kita bisa menuai dari hasil menanam kita saat di dunia J
#selfreminder  

You May Also Like

0 comments

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.