Lika-Liku OLSHOP

by - April 24, 2017



           


         Baru 2 bulan menjejaki menjadi seorang olshoper. Artinya emang selama 2 bulan itu bukan apa-apanya jika mau merintis sebuah usaha. Dan pilihan jatuh menjadi seorang marketer mukena Yogjakarta. Marketer, why? Ada beberapa alasan kenapa mencoba didunia marketer salah satunya adalah TANPA MODAL. Apa bedanya dengan DROPSHIPER? Sama-sama menjadi perantara antara agen dan konsumen, bedanya hanya pada AKAD (perjanjian). Kalau dropshipper kita menaikkan sendiri harga yang kita tawarkan ke customer, artinya kita punya kewenangan atas jasa yang kita tawarkan. Sedangkan marketer adalah kita digaji oleh agen sebagai jasa yang kita tawarkan. Kita digaji kalau ada penjualan. Ya sama-sama bergerak dibidang MARKETING. Dan menurut saya menjadi marketer jauh lebih melegakan daripada drophiper. Entahlah, kalau ini kembali ke pribadi masing-masing ya 

 

            Selama 2 bulan berlangsung ada sekitar lebih dari 10 customer yang saya layani –Alhamdulilah- tanggapannya pun bervariasi ada yang puas, ada yang suka, ada yang bilang kekalemen –warnanya- dan terakhir ada yang bilang pucet banget, nggak sesuai dengan yang di foto. Dan yang bikin saya BAPER adalah yang terakhir. Artinya saya sebagai perantara telah gagal menjualkan produk agen. Down? Pasti. Berbagai perasaan negatif pun bermunculan. Saya tidak bakat jualan. Saya telah mengecewakan customer. Saya tidak teliti dalam muamalah ini. Dan masih banyak lagi ke-baper-an saya. 

            Setelah beberapa saat cooling down, ada beberapa pelajaran yang bisa saya petik dalam fenomena online shop ini.
1.      Foto : yang kita jual adalah foto. Namanya IKLAN memang harus terlihat menarik, agar customer berkeinginan untuk meminangnya. Tapi kalau beda lebih dari 50% itu namanya BUNUH DIRI. Jadi usahakan saat akan memutuskan untuk jual-beli secara online, lihat dulu REAL PICTnya agar kita tidak sock saat barang datang. 

2.      FAST RESPONSE. Ini juga pentinga. Bahwa ada beberapa kejadian yang berupa customer membatalkan pembeliannya hanya gegara kita sangat slow response. Kalau pun ada acara penting, kasih pemberitahuan terlebih dahulu. 

3.      Ramah. Saya beberapa kali juga megandalkan online shop saat ingin berbelanja buku. Pernah beberapa kali saya lhat penjual dengan menyertakan batas waktu transfer. Ini yang bikin saya mundur cantik meski harga yang ditawarkan amat miring. Tapi bagi saya, customer itu ibarat raja. Dan timbal-balik itu adalah sunnah alam. Ibaratnya “masak raja disuruh-suruh” heheheh. Oleh karenanya saya sebagai perantara (marketer), saya juga tidak ingin melakukan hal yang sama kepada customer saya.


4.      Pelayanan. Poin penting hari ini yang bisa saya petik adalah KEPUASAN PELANGGAN itu yang UTAMA. Kalau pelanggan sudah puas, maka ia tak akan ragu untuk repeat order. Itu juga yang saya temukan di agen saya. “Beliau bilang bahwa kalau customer kecewa gegara foto sama realnya beda, ganti saja dengan warna lain.” JLEB. Inilah yang menjadi pelajaran bagi saya, bahwa agen mau bertanggung jawab atas complen yang masuk. Ia rela rugi hanya karena demi KEPUASAN PELANGGAN. “nanti ongkirnya, uni yang tanggung.” Udah nggak bisa berkata apa-apa lagi. Udah kelu rasanya lidah ini.

Ini sebagai reminder bagi saya pribadi agar lebih berhati-hati dalam beriklan. Jangan sampai kita muluk-muluk menawarkan produk yang kita jual. Beri pelayanan maksimal. Layani raja dengan sebaik-baik yang kita bisa, pun sebagai raja kita juga punya adab untuk tidak semena-mana pada penduduk pribumi.
Indahnya jika kita bisa melihat porsi masing-masing. Indahnya jika muamalah ini menjadi kebaikan antar keduanya. Menjadi perantara kebaikan untuk mereka yang membutuhkan agar cantik di hadapanNya.
   

You May Also Like

0 comments

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.