Being A Mom

by - May 17, 2017



Nice Homework #1

            Baru hitungan bulan gelar itu saya sandang. Menjadi ibu dari seorang bayi lelaki mungil yang saya lahirkan dengan sekuat tenaga. Masih teringat bagaimana sakitnya mengeluarkannya dari rahim saya waktu itu. Serasa ingin menyerah. Pasrah sepasrah-pasrahnya. Hingga kematian itu terlintas. tak lupa meminta keikhlasan kepada para pengunjung jika tiada umur lagi. Teriakan, jeritan, dan remasan ke tangan suami tiada henti saya lakukan. Teringat juga dosa-dosa saya kepada IBU KANDUNG. Betapa bengalnya saya menjadi anak, betapa beruntungnya saya memiliki ibu yang sabar, tangguh dan tegar. Ternyata seperti ini sakitnya melahirkan. Maafkan anakmu ini, bu! batin saya menjerit.
Selang beberapa jam, rasa sakit itu sirna saat untuk pertama kalinya mendengar tangisan bayi yang baru saja saya perjuangkan. Subhanalloh, Maha Besar Alloh atas nikmatnya menjadi IBU. Apakah perjuangan menjadi ibu sirna setelah melahirkan? Tentu saja tidak. Karena setelah melewati sakitnya melahirkan, hari-hari setelahnya makin berat. Menyusui. Begadang. Cucian yang menumpuk tiap harinya. Dan sederetan IRT lainnya.
Being a mom adalah sebuah amanah baru bagi saya. Mendampingi anak lanang dalam pengasuhan memang tidak mudah. Karena kelak kami, orang tuanya akan dimintai pertanggung jawaban. Oleh karenanya saya memilih untuk  BELAJAR MENJADI IBU dalam bahasa lainnya ingin mendalami ILMU PARENTING.  Melahap artikel-artikel online maupun offline. Mengincar buku-buku parenting dari para ahli. Mengikuti grup-grup parenting yang mempunyai keahlian di bidang ini. Adalah sederetan usaha yang saya lakukan demi sebuah amanah baru.
Betapa menjadi ibu tidak mudah, oleh karenanya sadar akan terbatasnya kemampuan dan pengetahun inilah yang mendorong saya untuk belajar lebih. Seperti dulu saat anak rewel. Di nenenin nggak mau, di gendong nggak mau, di ajak jalan-jalan makin menjadi-jadi tangisannya. Saya sebagai ibu makin stress dibuatnya. Merasa ibu paling payah sedunia. Merasa menjadi ibu paling tidak berguna sedunia. Dan merasa gagal menjadi ibu.  Setelah melewati berbagai hopeless tadi, saya baru tahu bahwa anak rewel karena hidungnya tersumbat. Ya Alloh, gini yaa nggak enaknya ‘nggak tahu’ itu. Sepele memang tapi punya dampak hebat. Oleh karenanya saya akan menyiapkan diri saya sebaik yang saya mampu untuk mendampinginya hingga dewasa. Utamanya mengenalkannya kepada Robbnya.  
Inilah langkah saya, ikhtiar saya dalam mendampingi anak lanang yaitu dengan MEMBACA sebanyak mungkin, MENCARI MAJELIS ILMU, BERTANYA sebanyak mungkin kepada mereka ‘orang-tua’ yang sudah merasakan manis-pahitnya kehidupan, khususnya PENGASUHAN. Mengikuti seminar-seminar PARENTING baik online maupun offline jika memungkin membawa anak. Adalah sederetan strategi saya dalam usaha pembelajaran.
Semoga dengan mengetahui sedikit demi sedikit tentang parenting, saya bisa lebih sabar dalam menghadapi anak. Karena hal yang sering saya sesalkan sebagai ibu khususnya adalah saat tidak sabar terhadap anak. Meski malam-malam saya meminta maaf kepadanya yang tertidur pulas di samping saya, tetap saja ‘nasi sudah berubah menjadi bubur’makian itu sudah keluar dari mulut ini. Hati anak sudah tergores. Saya adalah ibu yang tidak sabar. Dan saya ingin merubahnya.  Better late than never, right?


Adab menuntut ilmu
1.      Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan
Ilmu parenting  
2.      Alasan terkuat apa   anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut
Menjadi ibu yang bisa mendampingi anak sesuai tahapan usianya
3.      Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut
Membaca berbagai macam artikel
Mengikuti grup parenting
Membaca buku parenting  
4.      Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut?
Agar bisa lebih sabar dalam pngasuhan

You May Also Like

0 comments

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.