Belajar Menjadi IBU PROFESIONAL

by - May 25, 2017



            

               Alhamdulilah memasuki pekan kedua di kulwap Matrikulasi Ibu-Ibu professional, membuat saya makin banyak merenung. Makin banyak berfikir. Membuat saya semakin dalam menyelami rumah tangga ini. komunitas ini membawa banyak perubahan bagi saya pribadi. Tamparan-tamparannya membuat saya ‘bangun’ dari tidur panjang. 


            Pekan kedua dalam ugas NHW ini yaitu membuat kegiatan-kegiatan rutin yang bisa dicapai ibu dalam mengurus sekolah kehidupan ini. bersama suami saya merumuskan beberapa hal/ kegiatan yang bisa dicapai seminggu sebulan kedepan. insyAlloh.

1.      Diri sendiri:
·         Shalat tepat waktu. Tepat waktu bagi saya yang mempunyai balita yang masih berumur 16 bulan adalah saat sudah ada yang menjaga anak. Inilah yang kami jalani sejak setahun yang lalu. Saat adzan berkumandang, suami berangkat ke masjid dan berjamaah. Setelahnya beliau yang menggantikan untuk menjaga anak kami. saat beliau menjaga anak kami, saya akan melaksanakan kewjiban shalat tepat waktu.
·         Mengaji rutin minimal 2x dalam sehari. Yaitu setelah shalat maghrib dan setelah shalat subuh. Tiap mengaji, minimal membaca 3-5 lembar.
·         Melatih skill menulis melalui blog. Sejak berlangganan blog berbayar alhamdulilah bisa konsisten menulis. Meski writers blok itu selalu mengintai, semoga setelah ini saya bisa menargetkan untuk posting di blog minimal seminggu sekali.
·         Berkomunitas dan bersinergi. Yaitu mengikuti komunitas parenting guna mengupgrade diri agar bisa menjadi ibu professional.  
2.      Istri :
·         Intens berkomunikasi dengan suami. Sifat suami yang pendiam, membuat saya ‘kikuk’ saat ingin membiasakan berkomunikasi. Suami tidak pandai mengutarakan isi hatinya. Dan saya harus proaktif.
·         Belajar memasak. Ini tugas penting sekaligus terberat bagi saya. Karena selama ini saya diamanjakan oleh masakan mertua. Semoga kedepannya saya bisa memasak untuk suami, anak dan bapak dan ibu mertua. Dimulai dengan menambah referensi resep masakan.
·         Lebih luwes lagi di depan mertua. Anggap ibu mertua seperti ibu sendiri. Ini pesan suami yang tak kalah penting. Mungkin beliau selama ini lihat keseharian saya yang selalu nyaman di dalam kamar bersama anak dan gadget. Dan membatasi diri di hadapan mertua. Semoga besok bisa intens berkomunikasi ma ibu mertua khususnya.
3.      Ibu:
·         Lebih banyak meluangkan waktu bermain bersama anak.
·         Lebih sabar dalam menghadapi anak tantrum.
·         Lebih telaten dalam mengajari anak berbicara
·         Lebih banyak mendongeng untuk anak dengan cerita hikmah

Inilah ikhtiar saya sebagai diri sendiri, istri dan juga ibu. Sebagian sudah saya kerjakan, menjadi rutinitas harian. Sebagian saya masih tertatih-tatih untuk mengerjakannya. Kemauan ada, niat ada tapi kondisi yang membuat saya kadang menyerah begitu saja. Dengan berbagai alasan yang seperti mengada-ngada. 

Belajar lagi, dan belajar terus. Inilah saya dengan seabrek mimpi yang akan saya perjuangkan. Tentunya dengan indicator-indikator yang saya buat seperti diatas. Semoga Alloh senantiasa membantu saya dalam setiap kegiataan agar terus istiqomah, konsisten dan menjadikan habit yang semoga kelak keluarga bisa membanggakan saya sebagai IBU. Sebenar-benarnya IBU.

You May Also Like

0 comments

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.