Quote #20 Everything happen for a reason

by - May 28, 2017




        

   Dongeng perjodohan Neng Siti Nurbaya berkelabat di otakku. Semacam menjadi momok yang tak mau pindah tempat. 

“Neng Siti, maukah kau bercerita padaku tentang sebuah perjodohan? Apakah langgeng sebuah rumah tangga tanpa dilandasi saling cinta? Apakah langgeng suatu rumah tangga jika tanpa di dahului rasa memiliki?” tanyaku pada sosok yang entah sedang mendengarku atau hanya menatap pilu.
Neng Siti ceritamu sudah turun-temurun didongengkan oleh para nenek moyang. Kisahmu juga melegenda, lantaran mendengar ceritamu maka perawan saat ini enggan dan menolak dengan keras sebuah perjodohan. Tapi saat ini aku ingin bercerita kepadamu tentang kebodohanku. Kediamanku untuk mau dijodohkam.
Aku mengikuti jejakmu Neng Siti. Mengikuti keinginan orang tua untuk menyegerakan ibadah. Karena menikah adalah sebuah ibadah yang layak untuk dipercepat waktunya. Begitulah titah orang tua yang tak bisa digugat.
            Melawan? Jangan kau tanyakan tentang sebuah perlawanan Neng Siti. Bahkan aku sampai mau menyebrangi pulau demi untuk menggagalkan sebuah perjodohan. Apakah itu bukan sebuah perlawanan? Tapi nyatanya aku kalah oleh bening yang menentas dari sudut mata ibu. Pintanya begitu menyayat hati. “Daripada kamu pulang tiadak bisa melihat Ibu, maka tetaplah di sini.”
Anak mana yang tak runtuh pertahanan hatinya jika diminta oleh ibunya untuk tetap tinggal. “Jika menikah, maka restuku menyertaimu.” Itulah kalimat yang terlontar setiap saat kala mengingat sehari lagi keberangkatanku untuk merantau. Mengabdi pada dunia pendidikan. Rencana tinggal rencana, karena yang pasti adalah rencanaNya.
“Tapi aku menikah dengan siapa, Bu?” toh nyatanya diusiaku yang mendekati seperempat abad ini, tak ada lelaki yang mendekati. Meski hanya say hello.
“InsyAlloh ada jodohmu nanti.”
“Barangkali jodohku nanti teman seperjuangan di sana.” Selaku dalam kengeyelan yang bertubi-tubi. Masih belum ikhlas rasanya untuk begitu saja meninggalkan rencana yang sudah dibuat. Perjuangan untuk mencapai titik sekarang ini tidaklah mudah. Beberapa kali tes fisik dan akademis.
“Kamu itu anak ibu, jadi ibu tahu apa yang terbaik buat anak ibu. Termasuk kamu.” Sudah cukup kiranya kengeyelanku pun juga tak mungkin perlu diadu dengan ibu. Karena keras-kepala inipun menurun darinya. Aku mengalah Neng Siti. Bukan untuk kalah, tapi sebagai wujud bakti terhadap ibunda.
***
            Hari-hari sepi dan kebosanan begitu menghantui. Pekerjaan menjadi guru di MI (Madrasah Ibtidaiyah) pun sudah kulepaskan sejak berkeinginan untuk merantau mencokol dalam diri. Tapi langkah itupun terhenti oleh keinginan ibu.
“Apa yang kamu rasakan saat ini?” tanya kakak perempuanku saat memergokiku melamun di depan toko.
“Aku masih membayangkan bahwa hari ini adalah mimpi, dan besok aku tetap melangkahkan kaki ke tanah rantau.” Hanya itu yang terlontar. Rencana matang akan sebuah perjalanan jauh sudah di ambang pintu. Tapi pintu itu kian tertutup oleh titah sang ibunda.
            Perjalanan mendapatkan jodoh tak semulus jalan tol. Meski saat merantau di ibukota, tak sulit untuk mendapatkan teman lelaki. Tapi nyatanya kepulanganku ke kampung halaman tak membuatku dipandang oleh lawan jenis. Oleh karena itu, keyakinanku untuk melanjutkan karier begitu kuat. Daripada menunggu yang tak pasti, mending bekerja dan berekspresi. Itulah tekadku Neng Siti. Setidaknya ada penawar dalam suatu penantian yang entah kapan kan bertemu.
“Mau tak kenalkan dengan temannya suami?” tanya sepupu tanpa basa-basi. Mengingat begitu kompleksnya perjalanan karir dan jodoh yang tak berpihak padaku.
“Mau saja, asal aku tidak ingin mendengar kata harus jadi. Toh aku nanti ingin mengenalnya terlebih dahulu.” Kukira itulah jawaban yang melegakan antara kedua pihak. Karena jauh sebelum itu, kakak kandungku pun berkali-kali menawarkan hal yang serupa. Tapi dengan halus kutepis, karena yang dikenalkan adalah teman sekantor. Aku tidak mau merusak pertemanan yang terjalin, lantaran ada salah satu diantara kami yang tidak cocok nantinya.
“Oke, deal. Nanti beliau aku suruh invite pin kamu ya?” terangnya untuk mengakhiri obrolan di waktu senja itu.
            Menjadi wanita lajang di usia 23 tahun seakan menjadi momok bagi orang tua di desa, terutama ibuku. Layaknya wanita jawa pada umumnya, yang adat-istiadat masih dipegang teguh.
“Siang-malam, tak lepas ibu ini mendoakan, agar jodohmu dipermudah oleh-Nya, Nduk. Namanya juga orang tua, pasti was-was anak gadisnya belum ada yang melamar.”
“Sabar, Bu. Aku yang menjalaninya saja tidah seheboh ibu. Aku yakin jodohku sudah tertulis di lauhul Mahfudz, karenanya aku tenang.” Keberadaanku di kota beberapa tahun telah mengubah mind set tentang wanita. Tak selamanya wanita harus selalu seperti wanita desa lainnya. Hanya untuk masak, macak, manak (memasak, melahirkan anak, dan berdandan di depan suami). Aku lebih open mind. Meski kodrat wanita adalah menikah dan melahirkan anak, aku tahu itu. Akupun tidak memungkiri tapi mungin belum saatnya. Just wait the moment.
            Kalau aku boleh mengeluh Neng Siti, masa-masa itu adalah masa dimana paling berat menjalaninya. Seperti sebuah pepatah ‘hidup segan, matipun tak mau’. Menjadi pengangguran dan tidak produktif makin membuatku hilang kepercayaan. Hingga datanglah sebuah titik terang.  
“Ada tawaran kerja di Malang dari Rindi, Bu. Apa aku boleh melamar?” pintaku pagi itu. Sejak gagalnya keberangkatanku ke pulau sebrang, aku hanya diam diri dirumah. Sambil bantu ibu menjaga penitipan sepedah. Ibuku adalah seorang ibu rumah tangga yang tidak mau berpangku tangan, mengandakan gaji suami. Dengan menyulap ruang tamu menjadi sebuah ruang sebagai penitipan sepedah pun sukses ia jalankan. Hingga kini.
“Boleh, asalkan tidak keluar pulau.” Setelah kukantongi restunya, berangkaltlah diri untuk membunuh sepi. Mengais rezki di kota besar Malang. Daripada di rumah dengan segala tuntutan yang tak mungkin kutanaikan dalam waktu dekat. Sejenak melepas lelah dengan produktif adalah caraku membunuh waktu.
***
            Kepadatan jadwal kerja yang begitu merayap, membuatku lupa akan sebuah tuntutan. Membuatku terus berdikari untuk mampu membahagiakan keluarga. Dari hasil peluh keringat mengucur setiap hari. Terik-panas kutantang. Hujan-badai kulewati. Demi melihat masa depan cerah. Kuyakini bahwa tak ada hasil yang menghianati usaha.
“Assalamualaikum, sampeyan sekarang tinggal di Malang, nggeh?” chat masuk melalui BBM. Selang 30 menit baru kubalas. Maklum, saat kerja handphone kumatikan. Aku ingin fokus ke kerjaan. Kalau ada chat biasanya kubalas malam.
Nggeh. Tumben Pak ustadz chat Heheheh.” Jawabku menetralisir keadaan.
Nggeh, niki nembeh nyampek Malang. Teng griyane rencang. Nek ada waktu, kulo saget mampir teng kos sampeyan?” bagai terserang listrik berwatt-watt. Tak pernah sebelumnya chating atau sejenis dengan seorang ustadz. Tiba-tiba minta ketemuan di kos. Tapi apa boleh-buat. Jauh-jauh dari Sidoarjo ke Malang, masak tidak ditemui.
            Bersama dengan seorang teman, ceritanya. Kurasakan jantung berdetak lebih keras. Menjadi penyebab keringat dingin bercucuran, padahal hujan baru aja reda. Cooling down. Kucoba mengontrol diri yang sangat gugup. Belum pernah kopi darat sebelumnya. Tapi kini di depan mata, hanya berjarak 1 meter berdiri sosok tubuh tinggi, berkulit putih, bermata sipit. Dialah lelaki kenalan dari sepupu yang tempo hari menawarkan. Dialah ustadz yang kini berprofesi menjadi pembimbing disebuah pondok pesantren modern Pacet-Mojokerto.
“Hanya mampir sebentar, semoga tidak menggangu.” Ucapnya mengawali pembicaraan.
“Ndak apa-apa ustaz, barusan nyampek kos. Untung belum tepar, biasanya langsung amblas heheheh.” Balasku menetralisir kecanggungan. Hate this feeling too much. Akhirnya pembicaraan tak jauh-jauh tentang pekerjaan, bisnis etc. Dan pembicaraanku lebih dominan ke temannya, daripada ke pak ustadz sendiri.
            30 menit mereka mengakhiri ngobrol santainya. Dan pamit untuk undur diri. Akupun menyilakkan. Tak ada harapan yang lebih. Cukup tahu diri bahwa tak sebandinglah dengan beliau yang luas ilmu agamanya. Pertemuan pertama berakhir, tanpa ada harapan nyata. Kutepis semua kemungkinan yang berlarian di dalam otak. Aku sudah dewasa Neng Siti, tak butuh harapan palsu. Yang kuinginkan adalah kepastian untuk mendatangi orang tua. Sugesti itu berkali-kali kudengungkan.
“Kok aku merasa cemburu ya dengan status sampean?” chatingnya suatu saat. Setelah lama berakhirnya pertemuan pertama itu. Entah basa-basi atau sejenisnya.
“Oh, sepuntene. Bukan maksud menyinggung siapapun. Hanya lagu barat yang tak ada maksud didalamnya.” Bingung kenapa tetiba beliau berkata seperti itu. Lambat-laun percakapanpun mengalir santai. Saling tanya-jawab hingga...
Sampean kapan siap?”
“Beneran ustadz?”
enggeh, kalau siap saya tak sowan ke guru nyuwun petunjuk. Karena kalau istikhoro sendiri takut keburu nafsu yang terlihat, bukan petunjuk-Nya.”
Enggeh monggo sowan riyen, kulo enggeh tak tangglet orang tua. Yang biasanya tak mintai pendapat adalah ibu, lalu beliau yang istikhoro. Kulo kiyambek nggeh boten saget. “ halus tutur katanya. Lembut peragainya.
            Akhir dari obrolan itu adalah sebuah harapan. Semoga dimudahkan. Jika memang berjodoh, tangan-Nya yang menuntun kita untuk bersatu. Dengan satu tujuan, menjadi keluarga Sakinah, Mawaddah, wa rohmah.
21 Desember 2014 adalah awal pertemuan kami. Ba’da maghrib. Hujan turun rerintik. Disebuah kos-kosan putri Jl. Andong. Masih teringat dengan jelas bagaimana permulaan itu. Hanya sekenario-Nya yang mampu membuat cerita sedemikian rupa. Disaat diri tak lagi fokus pada jodoh, maka tangan-Nya lah yang menuntunku pada suatu kepastian tentang seorang lelaki yang kelak menuntunku meraih Jannnah-Nya.
***
            Neng Siti, apa kau masih mendengarkanku? Apakah kisahku membuatmu pada kantuk berat hingga kau berkali-kali menguap? Tidurlah kalau begitu. Mungkin lain kali aku akan menceritakan kembali, dengan lebih indah. Tidurlah dalam sebuah mimpi indah, hanya sebagai bunga tidur. Tidak untuk menjadi nyata, karena mimpi saja tidak cukup. Perlu usaha dan kerja keras untuk mewujdkannya menjadi nyata.  
            Apakah kisah Neng Siti sedemikian rupa? Meski berupa cerita yang tragis, percayalah Neng bahwa kisahmu abadi di hati kami. Hati para perawan yang menunggu pangeran berkuda putih. Ceritamu adalah sebuah cerita yang diturunkan turun-temurun. Setiap para gadis dijodohkan oleh orang tuannya, seketika itu juga namamu disebut-sebut. “Ini bukan zaman Siti Nurbaya yang dijodoh-jodohkan. Aku punya cara sendiri untuk menjemput jodohku. jika bukan sekarang, mungkin nanti.” Ya seperti itulah alasan yang mereka -akupun demikian- buat demi untuk menghindari bahkan menentang keras-keras sebuah perjodohan. Tenanglah Neng, kamu hanya dijadikan kambing hitam oleh mereka. Mungkin sekali saja, saat mereka masih idealis. Memegang teguh pendirian untuk kokoh menjemput jodoh dengan caranya sendiri. Seakan lupa bahwa datangnya jodoh itu dengan banyak cara. Seakan lupa bahwa melalui perjodohanpun kalau Alloh meridhoi akan adem ayem. Seakan lupa bahwa yang membolak-balikkan hati adalah Dia Sang Empunya.  
            Selang 2 bulan sejak pertama kali berkenalan dan saling memantabkan hati. Tepat tanggal 1 maret 2016, dilaksanakan sebuah lamaran. Akhirnya penantian panjang yang penuh air mata usai sudah. Tak ada lagi pertanyaan yang bernada cibiran terlontar, tak ada lagi desas-desus tetangga yang membuat panas cuping ini. Tak ada lagi hari-hari sepi penuh nuansa puitis. Lantaran membunuh sepi dan sendiri. Kini seorang lelaki yang baik agama dan nasabnya telah menyuntin diri. Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan?
            Neng Siti ingin sekali kumemelukmu walau sekali. Mengungkap sebuah bungah yang mencokol dalam sanubari. Seakan semua tangis dahulu kala, kering dan gersangnya hati ini tersiram oleh hujan semalam. Hujan kebahagiaan. Hujan terwujudnya doa-doa terlangitkan. Terjawabnya semua tanya. Terjawabnya semua keluhan dan tangisan. Apalagi yang diingnkan seorang gadis, kecuali menyempurnakan imannya dengan seorang imam yang ia percayai menjadi imam dunia-akhirat. Bahwa kisah perjodohan kita sama, tapi semoga kisahku langgeng adanya. Doakan aku yang Neng Siti?
“Kok secepat ini? Nggak ragu?” begitulah pertanyaan tetangga kiri-kanan mendengar berita lamaran yang berujung pernikahan dalam waktu dekat. “Pangestune mawon.” Ucapku pada mereka yang seakan tak mau melihatku bahagia. Entahlah. Khusnudzon saja, toh yang menjalaninya saya dan calon suami. Mendekati hari-hari menjelang pernikahan, kegugupan kian terlihat. Ternyata menikah butuh persiapan matang. Persiapan mental yang mumpuni. Dan lebih mendekatkan diri kepada-Nya lah yang utama.
            22 Mei 2016 dilangsungkan akad nikah disebuah kantor KUA (Kantor Urusan Agama) Prambon ba’da shalat jumat. Dihadiri oleh beberapa saksi dan penghulu. Dinikahkanoleh KH. Munawwir, Pengasuh PONPES Prambon. Semoga disaksikan juga oleh para malaikat, dicatat sebagai amal kebaikan dan terrealisasi dalam kehidupan nyata.
            Menjadi satu bukanlah kemustahilan saat hati telah terpaut satu sama lain. Bukan karena lamanya sebuah pekenalan, tapi kematapan hati yang membuahkan keinginan untuk melebur menjadi satu dalam ridhoh-Nya. Aku dan kamu menjadi kita. Melepas baju keeogisan, memahami pasangan, dan membuatnya nyaman saat bersamaku adalah sederetan hal yang masih, masih, masih kupelajari. Karena tugas istri adalah menaati suami, tentunya didalamnya membuatnya nyaman dan betah berlama-lama dirumah adalah tujaun saya sebagai istri. Apalagi yang kucari karena surgaku ada ditelapak kakinya. Percuma berpanas-panas ria diluar rumah, jika suami tidak mengizinkan. Usia perkenalan yang relatif singkat, 6 bulan. Tak membuatku goyah untuk menatap masa depan bersamanya.
            Kini ceritaku sudah berakhir Neng Siti. Cerita gadis yang tak kunjung dipinang lelaki sudah tamat. Bahwa perjodohan tak selamanya tragis, layaknya ceritamu Neng Siti. Perkenalan bertahun-tahun juga bukan menjadi patokan bagi seorang wanita untuk memantabkan dirinya melangkah ke jenjang pernikahan. Aku sudah melampaui tren masa kini (baca: pacaran) dengan lawan jenis. Tapi setelah melewati perjalanan panjang menjemput jodoh, teori kekinian itu banyak salahnya. Nyatanya aku tak mendapatkan apa-apa dari bertahun-tahun menjalin hubungan, melainkan sesal karena dosa menumpuk. Wasting time. Dan hanya berkenalan 3 bulan, cukup bagiku untuk melangkahkan kaki. Menerima pinangan lelaki yang kini sah menjadi suami. Dan yang terpenting dan paling utama adalah restu Ibunda. Kuyakini, yang berjuang selama ini adalah beliau. Doa malam yang kian gencar. Shodaqoh dengan nominal yang tak bisa terbilang sedikit. “Jodoh itu dibeli bukan hanya diminta, Nduk.” Ucap ibu, menirukan da’i kondang tentang jodoh dan rizki. Kegagalan untuk merantau agar mendapatkan masa depan yang cerah –mungkin- adalah harga yang dibayar dalam satu kata bakti. Dan inilah jawaban atas pinta beliau di 1/3 malam. Agar segera melihat putrinya menanggalkan status singlenya.
 Neng Siti, kini saatnya membuka lembaran baru bersama suami. Menyongsong perjalanan biduk rumah tangga yang juga tak semulus jalan tol. Bahwa pernikahan bukanlah akhir dari segalanya, tapi awal episode baru. Dan saat cerita ini ditulis, disampingku telah tidur seorang bocah kecil berusia 6 bulan. Buah cinta kami. Amanah baru yang harus kami jaga dan kami rawat semaksimal mungkin. Menuntuntnya menuju Robbnya. Semoga kami dimampukan untuk menjadi orang tua yang baik, menjadi teladan bagi anak kami. Menjadi panutan baginya dalam setiap tingkah-laku. Agar kelak kita dapat mempertanggung jawabkan apa yang telah kami tanam. Aamin ya robbal alamin.

You May Also Like

0 comments

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.