Tugas NHW #3

by - June 01, 2017





To: my dearest husband
            Sayang lupakah kau akan anniversary kedua kita? Tepat tanggal 22 mei 2015, kau ucap janji yang agung (mitsaqon gholido) di depan ayahku. Dan otomatis pertanggung jawaban ayahku sebagai pelindung, pengayom atas diriku sirna. Tergantikan olehmu yang kusebut SUAMI. Menemukanmu menjadi jodoh dunia-akhirat (insyalloh) butuh waktu yang tidak sebentar. Apalagi dirimu yang berkali-kali gagal mendapatkan wanita untuk meneggenapkan imanmu. Sungguh bukan waktu yang sebentar kan, sayang? Tapi dari berbagai kegagalan itu kita tahu bahwa lelahnya menunggu itu menyakitkan. Oleh karenanya kita tahu bahwa dengan cara apapun, badai-ombak kehidupan harus bisa kita lewati. Setuju kan sayang? 

            Aku bukanlah istri sempurna, tapi aku berusaha untuk menjadi istri sholehah. Bantu aku ya sayang, untuk menjadi istri sholehah. Aku yang keras kepala ini, aku yang masih banyak menuntut, aku yang masih banyak salah adalah sebuah kekurangan yang semoga engkau senantiasa membimbingku untuk melewatinya. Ditambah dengan adanya anak, membuat hari-hari kita senantiasa berwarna. Bukan tidak adanya konflik, sekali-dua kali aku juga jengkel dengan ulahmu yang seakan acuh terhadap anak kita. Seolah-olah tugas mendidik adalah murni tugasku sebagai ibu. Tahukah engkau sayang, benarlah kiranya bahwa ibu adalah madrasah utama bagi anaknya, tapi ayah adalah kepala sekolahnya.
            Ingin sekali suatu saat kita bisa duduk bersama, hanya berdua. Merancang masa depan dengan menuliskan visi-misi keluarga kita, membuat peta hidup, dan goal-goal apa saja yang akan kita capai dalam biduk rumah tangga ini. Bukan hanya mengalir layaknya air saja, tetapi ada yang ingin kita raih. Itu saja, maukah sayang?
            Seperti halnya engkau merancang usaha yang akan kita bangun, engkau begitu cermat dan teliti dalam merancangnya. Apalagi perjalanan kerumah tanggan ini, seharusnya hal yang sama yang harus kita lakukan. Karena terkadang aku sebagai istri menjadi serba salah. Saat keinginan untuk menjadikannya anak kita hafidz, itu pun tak dapat kukantongi restu darimu. “biarkan anak yang memilih” seolah itu yang tersirat dalam semua diammu.
            Sayang, aku tahu kendala antara kita adalah komunikasi. Engkau yang sangat menikmati kediamanmu, membuatku ‘kikuk’ dalam menjalankan peran istri dan ibu ini. Engkau yang menikmati kediamanmu membuatku serba salah dalam menangkap maksudmu. Engkau yang berambisi meraih beasiswa s3 senantiasa kudukung dalam wujud tidak merepotkanmu dalam urusan kerumah tanggan ini. Tapi, tahukah sayang bahwa saat istri lelah dalam pengasuhan buah hati, mengomel, lantas acuh-tak acuh adalah karena tangki cintanya kosong. Ia rindu akan suaminya, ia rindu akan obrolan ringan bersama suaminya, dan parahnya itulah yang terjadi padaku akhir-akhir ini.
            Semoga dihari enniversary kita ini, menjadi renungan bagi saya khususnya untuk selalu mematuhi perintahmu, wahai suamiku. Menjadi sebaik-baik istri dan ibu untuk rumah tangga ini. Karena ridhomulah yang nantinya akan mengantarku ke surga-Nya.
1.      Jawaban suami            :
Jalani saja peranmu dengan sebaik-baiknya. Tanpa mengeluh, tanpa protes. Bukankah ibunda maryam, telah mengajarkan kita untuk selalu bersabar. Beliau yang tidak pernah putus ibadahnya, dari keluarga baik-baik saja, masih di beri ujian kehidupan yang demikian berat. Melahirkan anak, tanpa suami.
Beruntunglah sayang, kau masih bisa diberi suami meski masih penuh kekurangan disana-sini. Tapi karena kesabaran dan ketabahan ibunda maryam, akhirnya beliau melahirkan seorang Nabi yaitu nabi isa.
Pun terkait dengan pencarian beasiswa s3 tidak lain adalah untukmu jua. Untuk anak kita. Tentunya kamu juga tahu, bahwa untuk memutus mata rantai kemiskinan dan kebodohan adalah dengan berilmu. Ijinkan aku untuk menggapai mimpiku, sayang.
Semoga suatu saat, kita bisa bersama-sama duduk. merangkai peta hidup kita. Menyulam mimpi bersama, membesarkan anak-anak kita dengan kasih-sayang sepenuhnya. Kembali lagi, jalani saja peranmu, yang menurutmu baik.  

2.      Potensi anak                :
Ahmad danial labib adalah putra pertama kami yang saat ini masih berusia 15 bulan. Diusianya yang masih dini, sulit bagi saya menemukan potensinya. Tapi saya selalu memberinya stimulus-stimulus bayi seusianya. Merespon apapun keinginanya. Dan mencukupi kebutuhannya. Bukankah tugas orang-tua adalah mendampingi? Karena anak terlahir dengan fitrahnya sendiri. Oleh sebab itu diusianya yang masih amat sangat kecil, saya tidak mau mendoktrinnya dengan keinginan-keinginan saya yang belum tentu menjadi keinginannya. 


3.      Potensi diri sendiri      :  
Saya terlahir dari keluarga cukup, tidak berlebih. Oleh karenanya saat saya menginginkan sekolah yang lebih tinggi, itu artinya saya harus berjuang mati-matian untuk mendapatkan tambahan uang saku. Dan menjadi mentor di sebuah bimbingan belajar adalah keputusanku demi menopang kebutuhan selama diperantauan.
Dari pengalaman itu, saya tahu bahwa dalam diri saya tersemat semangat bekerja-keras. Pantang menyerah pada keadaan. Sifat inilah yang sampai saat ini terus menyala-nyala. Dalam status yang bukan lagi single, saya harus mematuhi suami, salah satunya adalah menjadi satay at home mom. Kejenuhan datang silih berganti. Dan saya membunuhnya dengan terus menulis. Meski kegiatan ini kurang mendapatkan perhatian, tapi saya selalu menyempatkan diri untuk menulis. Menjadi penulis adalah impian yang ingin kuwujudkan, meski semangat masih naik-turun.
Kukira inilah potensiku saat ini yang bisa saya asah, disela-sela pengasuhan dan pekerjaan domestik lainnya. Serta dengan menulis saya bisa menjaga kewarasan sebagai ibu dan istri yang terkadang lelah jiwa dan psikis.

You May Also Like

0 comments

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.