Bingkisan Lebaran perlu kah?

by - July 09, 2017






Allohu akbar .... allohuakbar ...

Laaa ilaha ilallhao hu walloh hu akbar
Allohu akbar walilah hil kham ....

Taqoballohu minna wa mingkum ...


Maafkan lahir batin ya emak, atas jemari yang menyakiti. Atas tulisan yang menghakimi. Atas pikiran yang meresahkan. Meski bukan hanya lebaran saja maaf itu terlisankan. Tapi setidaknya di bulan ini, izinkan saya pribadi yang ingin memulai lagi lemabaran baru. Memulai kehidupan baru dengan lebih berhati-hati. Menjaga lisan dan jemari agar tak seorangpun tersakiti karenanya. 

Moment lebaran begitu dinanti. Menjadi bagian yang tak terpisahkan dari jati diri muslim di seluruh pelosok bumi. Khususnya indonesia. Kapan lagi berkumpul dengan keluarga besar, kalau bukan di iedul fiftri? Kapan lagi saling memaafkan kalau bukan di iedul fitri? Kapan lagi mensucikan diri kalau bukan di bulan Ramadhan? Kapan lagi bertemu bulan paling istimewa dari 11 bulan lainnya kalau bukan bulan Ramadhan? Intinya, saya sangat bersyukur atas nikmat iman, islam dan kesempatan bertemu dengan bulan Ramadhan hingga menutupnya sampai iedul fitri. Karena tidak semua orang bisa merenguk manisnya bulan ini. Karena tidak semuanya bisa menikmati ramadhan dengan kedamaian hati dan kelapangan jiwa. 

Tahun ini menjadi tahun kedua saya menikmati ramadhan dengan si kecil LABIB. Tahun ini diusinya 1,5 tahun menjadi moment yang membahagiakan. Salah satunya adalah saat berkunjung ke sanak family dan melihat tingkanya yang makin menggemaskan. Argh iyaaa, ternyata yang membuat kita bahagia adalah si kecil ini. Karenanya bukan balita-balita itu bersyukur mempunyai orang tua, tetapi orang tuanya lah yang harus bersyukur atas canda tawa si kecil yang begitu menggembirakan hati kita sebagai orang tuanya. Karena merekalah, rumah serasa laksana surga. Mendengar celoteh dan tawa mereka setiap saat. Jadi ingin menambah momongan lagi #eh (nanti).  

            Moment lebaran pun menjadi ajang menggembirakan bagi anak-anak karena mendapatkan angpao dari mereka yang kami kunjungi *alhamdulilah*. Disamping gembira, pun juga menjadi keresahan sendiri bagi saya. Dengan banyaknya angpao yang didapatkan labib *alhamdulilah* saya makin resah. Karena belum bisa memberikan bingkisan kepada mereka. Ada pertanyaan yang menohok urat nadi saat kakakku bertanya “Bawa apa tadi ke keluarga ... ke pak dhe ...?” dan dengan entengnya saya pun menggeleng. Tanpa berdosa dan muka innocent *nggak boleh protes* wkwkwkkw. 

            Membawa bingkisan adalah tradisi orang indonesia, khususnya orang jawa. Sejak kecil saya diajarkan untuk ‘weweh’ yaitu semacam memberi nasi lengkap dengan sayur-mayur, lauk-pauk ke saudara-saudara yang rumahnya masih bisa dijangkau dengan sepedah motor. Saya masih ingat, setiap malem ke-27 atau 29 ibu selalu masak besar lalu dibagikan ke sanak-saudara yang jumlahnya mencapai 50 porsi. Weweh ini selalu menjadi rebutan bagi saya dan kakak saya. Karena setiap memberikannya, selalu mendapatkan angpao. Dan hasilnya lumayan banget. Wkwkwk 

            Kini saat sudah berumah tangga sendiri, saat mendapatkan angpao untuk anak lanang. Saya selalu merasa ‘nggak enak hati’ karena belum bisa memberikan bingkisan apapun kepada mereka. Bukan, bukan mengharapkan balasan berupa angpao. Tapi lebih bagaimana kita memulyakan sesepuh dengan membawa bingkisan. Apalagi kini saya sudah harus mandiri dengan mendatangi sanak-saudara sendiri bersama suami dan anak. Tak lagi bebarengan dengan orang tua. 

Semoga

semoga 
semoga

Tahun depan, saat diberi panjang umur tur bisa ngelapahi (bertemu) ramadhan lagi. Semoga diberi kelapangan rizki, agar bisa berbagi. Agar bisa memberi bingkisan lebaran, walau tak banyak. bukankah islam juga sudah mengajarkan bahwa tangan diatas lebih baik dari tangan dibawah? Argh iyaaa, lagi-lagi saya harus bisa mengalahkan ego. Mengalahkan diri sendiri. Bahwa tahu saja belum cukup, harus mampu mengamalkan untuk kehidupan nyata. 

jadi, bingkisan lebaran perlukah? itu kembali ke pribadi masing-masing. idealnya adalah PERLU, karena moment lebaran ini kan setahun sekali. tapi kebutuhan rumah tangga tiap orang beda-beda. apalagi moment lebaran ini beriringan dengan liburan kenaikan kelas bagi yang mempunyai anak yang masih sekolah, penting untuk mendahulukan kebutuhan wajib. kalau ada dana sisa, bolehlah dialokasikan untuk bingkisan ke para sesepuh dan angpau ponakan. 

Kalau ditempat emak penting nggak sih bingkisan lebaran? share dunk :) 
  

You May Also Like

1 comments

  1. ibuku selalu rajin kirim bingkisan ke tetangga dan sellau rutin tiap thn

    ReplyDelete

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.