Habislah lebaran, datanglah undangan!

by - July 17, 2017



kolpri


            Bulan syawal identik dengan pesta pernikahan. Dan yang lagi viral di sosmed adalah berita pernikahan muzzamil dan sonia. Tak tanggung-tanggung undangan itu diperuntukkan untuk semua masyarakat Aceh khususnya. Bertempat disebuah masjid besar Aceh. Undangan itu berupa ajakan untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah di masjid tersebut. Setelahnya akan dilangsungkan akad oleh muzamil dan sonia.
Eh udah tahu belum siapa muzzamil itu? 

            Ituloh seorang hafidz bersuarakan emas. Mahasiswa ITB dan imam tetap masjid Salman ITB. Bahkan sebelumnya muzamil ini didatangi oleh Imam besar Masjidil haram, Meakkah loh gegara lantunan ayat sucinya yang menggetarkan kalbu. Subhanalloh, ibunya dulu ngidam apa ya hingga melahirkan seorang hafidz yang sholeh dunia-akhirat. Semoga kelak Labib bisa menjadi the next muzzamil *amin ya robbal alamin*
            Bersamaan dengan pernikahan muzamil, teman seperjuangan pada waktu mengenakan seragam putih-biru dongker (SMP) juga melangsungkan pernikahan. Tak hanya satu, tapi dua sekaligus. Waktunya pun bebarengan, yaitu tanggal 8 juli 2017 (nggak ada hari lain ya? Wkwkkwkw) mereka adalah Mrs R dan Mrs E. Ketika berbicara tentang pernikahan, saya selalu menemukan cerita-cerita unik yang menyertainya. Seperti kisah Mrs E ini. Anak ragil bu nyai ini tak pernah terlihat menggandeng seorang lelaki. Tapi jangan ditanya temannya. Buwanyyakkkk. Do’i udah melanglang buana, traveling dari satu tempat ke tempat lain. Tapi tak pernah sekalipun doi menggandengan lelaki special. “All just friend” begitulah sekiranya kalau ditanya. 

 Latar belakang agama yang kuatlah yang berperan besar dalam membentuk kepribadiannya. Dan setelah menyandang gelar LC dan Spdi dilangsungkan sebuah pesta pernikahan. Tak ada istilah pacaran, yang ada hanyalah ta’aruf. Tak ada acara wakuncar (waktu kunjung pacar), yang ada adalah bergelut dengan buku dan puluhan hadist yang harus ia hafal. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Istilah yang tepat menggambarkan cerita si Mrs E ini. Dan akhirnya jerih-payahnya berbuah manis.
            Cerita sama tapi tak serupa itu juga dialami oleh si Mrs R ini. Usia perkenalannya kuranglebih 2 tahun. Paling singkat dibandingkan dengan mantan-mantan mrs R ini. Dengan perkenalan yang relatif singkat (khususnya Mrs E) tak mampu menggoyahkan keyakinanya untuk menerima pinangan sang calon suami. Karena untuk melangkah ke jenjang pernikahan tidak butuh lamanya kita mengenal sosok calon suami, tapi bagaimana hati ini meyakini bahwa ialah yang menjadi pelabuhan terakhir dalam pencarian belahan jiwa. Bahwa dialah lelaki yang menjadi pemimpin dalam rumah tangga yang akan kita bangun.
            Hal yang sama yang saya alami. Pertemuan saya dengan paksu terbilang cukup singkat. Hanya hitungan bulan. Lalu memantabkan hati untuk membangun nahkoda rumah tangga bersama. Hidup ini mudah. Buat satu pilihan, lalu jangan pernah menoleh kebelakang. Hadapi apapun di depan dengan keteguhan hati bahwa semua akan baik-baik saja. Tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa. Hanya perlu mensugesti diri bahwa kita mampu, dan kita bisa menjalani dengan segenap syukur yang membuncah.
            Semoga esok saat dimanahi oleh Alloh memiliki putri, saya mampu membimbingnya untuk meyakini dan mengamalkan apa yang telah Agama islam ini ajarkan. Khususnya dalam pergaulan. Lebih jauh lagi dalam memahami hakikat pertemanan. Bahwa di agama ini tidak ada istilah pacaran, melainkan ta’aruf yang berlanjut ke pernikahan. Saya tidak tahu bagaimana zaman anak-anak saya kelak. Kembali ke Al-qur’an dan agama adalah satu-satunya jalan agar terhindar dari fitnah akhir zaman. Mampukan kami ya Alloh untuk menunjukkan dan menuntun anak-anak kami ke jalan-Mu. Amin ya robbal alamin.

You May Also Like

0 comments

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.