Monday, August 21, 2017

5 Cara Mencegah anak terhindar dari Napphy Rash





            Napphy rash adalah pantat bayi yang bebas luka dari Diaper. Pernah mengalaminya nggak, ma? Kalau saya pernah tapi alhamdulilah tidak sering. Dulu sebelum melahirkan anak pertama, saya ‘berguru’ kepada kaka perempuan yang sudah terlebih dahulu berpengalaman dalam urusan perbayian (ada istilah lain nggak?). ia cerita bahwa kelak saat anak lahir mending diajari untuk memakai popok plastik. Ada banyak di toko-toko perlengkapan baby. Tentunya popok ini sebuah popok yang berbahan plastik lembut, dijahit sedemikian rupa menyerupai celana katok pendek. 


            Keuntungan si popok plastik ini adalah mudah sekali nyucinya plus cepet keringnya (perbedaan mencolok antara popok plastik dan clodi). Karena intensitas pipis si kecil yang nggak bisa diprediksi inilah membuatnya (popok plastik) jadi primadona dirumah. Bahkan popok kain yang sudah saya persiapkan jauh-jauh hari, masih tergeletak manja di sudut lemari. Tak tersentuh and like new. Sampai usia berapakah anak saya memakai popok plastik ini? Kurang lebih 4-5 bulan. Karena pada umur itu, anak sudah mulai aktif gulang-guling, kaki di ayun-ayunkan dan secara otomatis tuh popoknya akan lepas dengan sendirinya. Apakah selama itu tidak pernah mengalami napphy rash? Pernah. Cuma dikasih salep, sorenya udah tak berbekas. 

            Setelah besar usia 7-8 bulan, si baby udah saya biasain dengan clodi. Fungsinya sama kayak pook kebanyakan. Yaitu sebagai penadah kencingnya si baby. Tapi kalau malam, tetap diapers jadi andalan. Alasannya klise, agar tidak repot gonta-ganti popok. Dan untuk mencegah si napphy rash ini meyerang balita kita, lakukan 5 hal ini:

1.      Jangan malas mengganti diapersnya segera saat dia kotor/ basah. Capek sich, iya. Tapi semua itu kalah oleh bahagia saat melihat lesung pipit si baby embul. Benarlah kiranya bahwa saat memiliki bayi itu 99% bahagia. 1% nya capek. So, terbukti kan kalau capek kita tergantikan oleh bahagianya. *teori ngasal* wkwkwkwkwk 

2.      Bersihkan pantat bayi dengan tisu basah yang bebas alkohol/ pewangi, atau bisa juga dengan kapas yang dibasahi dengan air hangat. Kulit sensitif bayi membuat kita harus benar-benar ekstra hati-hati. Oleh karenanya usahakan apapun barang miliknya harus steril dari kuman dan bau. Salah satunya dengan membersihkannya terlebih dahulu with hot water.  

3.      Setelah pantat bayi dibersihkan, lalu tepuk-tepuk dan keringkan dengan handuk bersih. Diamkan terbuka/ tanpa memakai diaper/ celana/ popo agar mendapat udara segar untuk beberapa saat. Bahasa jawanya diangin-anginkan. Jangankan bayi, kita yang dewasa aja saat terkena ruam saat haid aja risih ya?  

4.      Gunakan krim jika ada tanda-tanda kulitnya memerah karena iritasi. Cream andalan saya yaitu dari c*ss*ns. Warnanya kuning. Tapi better tanya ke dSA yang lebih kompeten ya. Karena setiap kulit bayi berbeda. So better mencegah daripada mengobati kan?  

5.      Jangan memakaiakan diaper terlalu kencang, harus ada sisa ruangan di lingkaran pinggang sebagai sirkulasi udara. Saat usia labib 7-8 bulan, saya memilihkan diapernya ukuran L meski tubuhnya belum memenuhi standart yang disarankan. Pikiran saya klise, agar ia punya banyak ruang untuk beraktivitas. 

Happy trying Mom!

Nb: Ini foto labib usia 6/7 bulan. ini popok plastik  asli buatan mbah utinya. makanya dia punya banyak sekali koleksi popok kain ini. just info, kalau dalemnya ada plastiknya. jadi aman tidak tembus. dan cepat kering.

#ODOP27
#BloggerMuslimahIndonesia

No comments:

Post a Comment