(Bukan) Review Tentang Kamunya Tere liye

by - August 19, 2017




            500 halaman lebih tebalnya novel ini. karya novelis ulung, tere liye. Sejak mahasiswa saya menyukai karya-karyanya. Tak mudah menemukan novelis dengan kemampuan ‘mendongeng’ hingga ratusan halaman. Sependek sepengetahuan saya di indonesia tidak kurang dari 5 orang. Tere liye, kang abik, eka kurniawan, andrea hirata, dewi lestari atau lebih dikenal dengan sebutan Dee *CMIIW*. Dan penulis favorite saya adalah Tere liye dan kang abik. Bahasanya mudah dipahami. Tutur katanya pun tidak terkesan menggurui. Meski yang dikutip adalah hadist, sejarah etc.


            Novel terbitan Republika ini berkisah tentang seorang pengacara muda yang harus menuntaskan warisan dengan nominal puluhan triliyun dari seorang janda yang tak punya sanak-keluarga. Sebelum Sri ningsih (janda yang hidup sebatang kara) itu menghembuskan nafas terakhirnya, ia sempat menunjuk seorang agen pengacara internasional (Thompson & co) di paris untuk memberikan warisannya kepada mereka yang berhak menerimanya. Bukankah sri hidup sebatang kara? Kenapa ada ahli waris? 

            Tere liye menceritakan sebuah dongeng sarat makna. Cerita keseharian yang ada ditengah-tengah kehidupan kita. dikisahkan Sri adalah anak sulung dari seorang pelaut hebat, Nugroho dan Rahayu. Saat melahirkan Sri, rahayu menghembuskan nafas terakhirnya. Meninggalkan seorang anak perempuan yang hatinya bak intan ditengah laut. 

            Lagi-lagi tere liye menyindir kita, bahwa apa salah nya kita terlahir dengan perempuan? Apa salahnya kita terlahir dengan keadaan yatim? Atau pun kita menjadi anak tiri dari seorang ibu tiri yang dipersunting ayahnya? Tak ada yang salah. Takdir yang membawa kita untuk terus bersemangat menjalani kehidupan ini. Sri ningsih terus berbakti saat ayahnya, nugroho meninggalkannya dengan seorang ibu tiri kejam. Kehidpan yang dulunya bak seorang putri, lalu berbalik 360 derajat gegara ayahnya yang meninggal di tengah laut itu tidak mengantarkan pesanan dengan baik. 

            Sri menggigit keras-keras petuah bapaknya sebelum nugroho meninggal, “Selama bapak pergi, hormati dan patuhi ibumu. Lakukan apa yang dia suruh tanpa bertanya. Turuti apa yang ia perintahkan tanpa membantah. Jangan mudah menangis, jangan mudah mengeluh. Kamu adalah anak seorang pelaut tangguh. Bersabarlah dalam setiap perkara.”(hlm. 95) itulah kalimat terakhir sang bapak. Bukankah kita merasa tersindir? Anak tantrum, mengeluh di sosmed? Suami yang belum pulang, takut diambil pelakor? Hingga keromantisan Ayla-View kita praktekkan ke suami-suami kita. *kalau yang terakhir menurut saya sich nggak apa. Malah kalau bisa, hal-hal seperti ini yang kita tonjolin di sosmed. Agar hawanya seju-sejuk gimana gitu. Agar tiada lagi Moms war yang berseliweran di time line. Toh berperang sesama moms nggak ada untung-untungnya. Sesama jenis harusnya kan saling support. Saling mendukung. Saling memberi masukan.betul nggak, emak?* *salim satu-satu* 

            Kredibilitas zaman (sang pengacara muda) dipertaruhkan dalam menuntaskan hak waris yang ditinggalkan Sri Ningsih. Perempuan keturunan jawa yang dengan cerdasnya mencari peluang usaha. Dari mulai jualan nasi goreng di pinggiran monas, hingga memiliki pabrik sabun “Rahayu” sampai mancan negara. Cobaan demi cobaan datang silih berganti. Meski dengan keuntungan usaha yang berlipat-lipat, ia masih Sri yang dulu. Sri dengan sederhananya, yang mau menggosok pukis di toilet hingga mengkilat. Maka bukanlah suatu kemustahilan di akhir hidupnya, ia meninggalkan warisan yang tidak sedikit. Oleh karenanya zaman dengan semangat yang ia contoh dari Sri harus mampu memberikan harta warisan sang janda sesuai wasiatnya. 

            Dapatkah zaman mencari jawaban atas setiap teki yang Sri tunjukkan lewat diary nya? Dapatkah zaman mencari ahli waris yang dimaksudkan? Untuk kelanjutan ceritanya baca sendiri ya emak novelnya. Dijamin seru. 500 halaman itu habis hanya beberapahari saja, kalau saya. Meski disambi momong, ngerjain urusan domestik. THERE IS A WILL, THERE IS A WAY. Pan gitu katanya. 

#ODOP22
#BloggerMuslimahIndonesia   

You May Also Like

1 comments

  1. Saya juga suka mba novel-novel tere liye tapi yang ini belum baca, makasih yaa reviewnya bakal jadi list book to buy ^^

    ReplyDelete

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.