Tuesday, August 29, 2017

Cewek Labil




            Mentari masih sayup-sayup di peraduan. Menyiratkan sinar yang menawan. Mereka menyebutnya fajar. Sedetik kemudian mentari berubah menjadi terik yang menyengat. Suasana dikota berbeda jauh dengan desa yang sunyi senyap. Tak lagi kudengar kokok ayam tetangga, hanya bising kendaraan yang memenuhi cuping ini. Apapun kondisinya, mau tak mau, betah maupun tidak harus terus kujalani dengan sepenuh hati. Tekad  itu masih menyala untuk menyelesaikan study di kota metropolis ini. “Bisa itu karena biasa, Nduk.” Masih teringat pesan ibunda saat kuceritakan kondisi yang sangat berbeda dengan kampung halaman. Apalagi yang mampu menguatkan hati, jika tidak melihat kerutan tipis di wajah teduh wanita yang usianya mencapai setengah abad ini.


            Masih soal yang sama, tentang perubahan kondisi yang membuatku kurang nyaman. Berteman dengan kesunyian dan terbuai dengan sepoi angin adalah kemewahan yang tak lagi kudapat dikota metropolis ini. Tapi tak begitu lama, aku pun membuka diri untuk berkawan dengan siapapun. “sama-sama merantau pasti butuh teman.” Pikirku. Gayung pun tersambut. “Azalea, kamu?” sembari menyodorkan tanganku untuk menjabat tangannya. “Kayla.” Tangan kita bertautan.  Perkenalan singkat terjadi antara kami. janjiann untuk ketemu di taman kampus pun sudah disepakati. Satu alasan lagi untuk terus menetap di kota metropolitan telah kudapatkan. “Semoga menjadi awal yang baik.” Tuturku dalam diri. Bahwa masih banyak hal yang pantas disyukuri, daripada mengeluh pada keadaan yang tak sesuai dengan keinginan hati. 

***
“Semua cowok sama ternyata.” Up date statusnya muncul diberandaku. Dengan emoticon sedih dan marah tentunya. 
“Apakah dia cowok yang baik? Apakah dia jodohku.” Selang beberapa detik muncul lagi. Seminggu ini saat asyik mementengi beranda Facebook karena kuliah belum padat, iseng aku mengikuti perkembangan zaman. Agar tak lagi dibilang kuper. 
“Nggak gaul banget sich.” Itulah salah satu penghakiman terhadapku kala perkenalan dikelas Aljabar beberapa waktu lalu. Tapi dengan serentetan keluh kesah yang memenuhi beranda kayak gini, sia-sia saja pikirku. 

Selang beberapa jam deru motor matic memenuhi halaman kosku. “Aku benci!” teriaknya sembari membuka paksa pintu yang sengaja tak terkunci. “Apalagi?” selang pertemuan kita beberapa waktu lalu, Kayla dan aku sudah menjadi teman dekat. Dan kejadian seperti ini tidak sekali dua kali. Tetiba datang, dan teriak-teriak tentang masalah yang dihadapi. “Udah baca status fbku kan?” tanyannya dengan bibir manyun 2 cm. “Daffa? Kenapa lagi? Bosen tahu, mendengarkan cerita yang sama berulang-ulang.” Aku pun tak acuh, dan masih tetap mentengin facebook, mengahlihkan pandanganku untuk tak melihat bibir manyunnya itu. “Kamu sich belum pernah pacaran, jadi tak pernah merasakan sakit yang kurasa saat ini. “ menaruh kepalanya diatas punggungku, sambil selonjoran diatas kasur. 

“Enak mungkin ya kayak kamu, tak punya beban pikiran. Setiap hari hanya focus ke pelajaran dan pulang.” Akupun hanya berdehem. “Eh tapi, kalau hidup kayak kamu gitu, lempeng-lempeng aja. Tak ada tantangan tahu. Tak ada yang bisa membuatmu bergairah. Coba sesekali kamu berubah, pasti seru.” Aku yang masih setia dengan androidku pun mencoba tak menggubris khayalan temanku ini. Tapi jauh dilubuk hati terdalam, aku punya keinginan yang sama. Betapa bahagiannya jika bisa menjadi cewek popular kayak Kayla. Bahkan tukang kebun pun tahu kebiasaan Kayla di kampus. “Bagaimana kalau kamu berubah penampilan saja, minimal lebih stylish and fashionable gitu. Kamu denger aku nggak?” cubitnya dipinggangku. “Sakit tahu,” teriakku. 

            Dan sekenariopun berjalan tanpa ada komando. Bagai bangau yang dicucuk hidungnya, akupun mengikuti semua yang disarankannya. beberapa menit, aku terkalahkan olehnya. Dengan syarat bahwa hanya jalan-jalan saja, tak lebih. Ia pun mengangguk tanda setuju. Tak butuh waktu lama untukku mandi dan sedikit memoles mukaku dengan bedak tabur. “Kamu polos banget sich?” ia pun mengeluarkan 'alat tempurnya' dan memberi banyak sentuhan di wajahku. “Meskipun kita masih remaja, kita harus tahu make up, siapa yang nggak seneng kalau kita dibilang cantik?”. Akupun mematuk diri didepan cermin, Ada bahagia menjalar ketubuh, menjadi bagian dari cewek metropolitan yang cantik dan modis adalah salah satu keinginanku, dan itu terwujud sekarang.
   
         Tak perlu waktu lama untuk Kayla merubahku dari upik abu ke Cinderella. Dan parahnya aku masih menikmati perubahan, dengan sesekali manyun kedirinya. tanpa sadar aku membayangkan bagaimana reaksi teman-teman sekelas besok waktu melihat perubahan diriku yang ‘cantik’ kata Kayla. 

***
            Seharian berbelanja dengan berbagai make up, pakaian, sepatu. Tak ada yang terlewat dari ujung kaki sampai ujung rambut. Meskipun uang yang kupunya tak tersisa, masih ada Kayla yang mengulurkan bantuan materi sampai aku dapat kiriman jatah dari ibunda dikampung. “Tenang, yang penting kamu cantik dan bahagia.” Seperti itulah jika aku sungkan menerima uluran tangannya.

Keesokan paginya, aku sudah mematung diri didepan cermin. Mencoba semua hal pernak-pernik ‘cewek’ yang aku dapatkan dari beberapa mall kemarin. “Kamu harus mencoba warna-warna yang menantang. Kuning, merah, hitam. It’s OK baby.” Nasehat yang sama dari orang yang sama. Jadilah aku memakai hem merah, dengan celana langging motif tribal. Serta tak lupa kerudung yang dibulet-bulet kayak di youtube.“Perfecto,” tetiba suara khas Kayla memekikkan telingaku. “kok nggak denger suara motormu sich?” tanyaku mengalihkan perhatiannya. “Barusan diantar, tuh dia depan dengan gadgetnya.” Lanjutnya.

            Jarak kosku dengan kampus tak terlalu jauh, maka mereka –Kayla dan Daffa—memutuskan untuk naruh motornya di kosku dan kita berjalan kaki bertiga. Sepanjang perjalanan kami, hanya ungkapan kekaguman dan sederet pujian dari mereka berdua. Membuatku tersipu malu. “Kok ndak dari dulu sich kamu berubahnya? Kalau kayak gini, kamu akan kukenalin dengan teman-teman basketku.” Begitulah Daffa ngunkapin pujiannya. Lagi-lagi aku hanya tersenyum simpul. “Gak salahkan aku merubah kamu kayak gini? Besok sore ikut aku nemenin Daffa latihan basket ya?” tanya Kayla. Seperti cerita-cerita di televise, tayangan-tayangan remaja dengan tingkah polahnya ternyata ada juga dikehidupan nyata.
           
        Dari hanya sekedar ikut-ikutan, lambat laun aku pun mengikuti gaya hidup mereka. Beberapa cowok terlihat mendekatiku, tak hanya satu bahkan lebih dari itu. teman basketnya Daffa, teman sekelas, dan ada lagi teman organisasi mahasiswa. “I am a  happy girl.” Aku seperti tertular virusnya Kayla, menjadi salah satu cewek popular di kampus bahkan diluar kampus. Setiap saat selalu up date status, dan selalu saja ada yang ngelike dan commentar. “What a wonderlfull live is it” berkali-kali aku menikmati setiap perubahan yang terjadi. Layaknya cewek metropolis yang gaul.    

“Dasar cewek labil,” Seseorang seakan berteriak ditelingaku. Dia adalah Sandra. Seorang gadis yang ditinggal pacarnya gara-gara terpesona denganku –gossip yang beredar—entahlah, aku tak ambil pusing. Kuanggap semua haters adalah makhluk yang paling tahu aku. Gimana tidak coba, setiap aku up date status melalui facebook, twitter, path, atau mengunggah foto melalui instagram selalu ada yang sewot. Aku pun masa bodoh dengan semua comentar miring lainnya. “Biarlah anjing menggong-nggong, kafilah tetap berlalu.” Kayla tiba-tiba menjejari langkahku.

“Tunggu saja akibatnya.” Dengan nada tak kalah sengit. Sandra yang hanya berjarak 1 meter dibelakangku, seakan menguliti tubuhku. Bergidik tengkuakku, tanpa merespon apapun yang ia lakukan terhadapku.

***

“Hang out yuk?”
“Kemana?” Kayla yang ditanya hanya menggeleng kepala. “Terserah angin yang akan membawa kita berkelana, menemukan pangeran berkuda yang siap sehidup semati.” Ucapnya sambil menirukan gaya penyair tersohor. “Ngayal,” candaku dengan menyetarter motor matic miliknya. 

BRAKKKK 

***
            “Ketahuilah nak, bahwa menjadi orang yang apa adanya itu jauh menggembirakan. Jauh menentramkan. Tak perlu menjadi orang lain untuk menjadi terkenal dan dikenal orang. Menjadi apa adanya itu jauh lebih mulia dari apapun. Tengoklah kisah suri tauladan kita. Adakah pakaian mewah yang beliau kenakan? Adakah harta benda yang beliau wariskan? Adakah sepercik keinginan untuk menjadi legenda diseantreo pelosok dunia? Tentu jawabnnya adalah TIDAK. Beliau adalah sebaik-baik teladan yang pantas kita tiru. Menjadikan idola yang menuntun kita menuju jalan yang panjang ini. Karena hakikatnya hidup dan kehidupan adalah sebuah perjalanan. Berada dimanapun jalan kita saat ini, tetap Nabi Muhammadlah sebaik-baiknya tauladan.” Sambil terus menyuapiku dengan tangan getirnya. Ada yang diam-diam menyelinap masuk, panas dan terasa semakin panas. Sebagai anak tunggal dari seorang janda yang tinggal didesa, aku telah mencoreng namanya. Melemparinya dengan kotoran. Anak macam apa aku ini? Anak tak tahu balas budi. 

            Akupun tak menyalahkan Kayla yang menjadi sahabat dan saudaraku. Karena dia pula yang merubahku menjadi cewek metropolitan dengan tingkah lakunya. Karena dia pula yang membuatku menjadi cewek labil, memberi sejuta harapan kepada banyak pria. Memberi banyak peljaran penting bagiku, bahwa menjadi cewek metropolitan dengan segala kelabilannya itu bukan merupakan tuntunan agama. 
               
             Selamat jalan Kayla. darimu aku pernah 'mencicip' nikmatnya mnjadi cewek metropolitan dengan segala kelabilannya. dan semua itu membawa banyak pengalaman berhaga untuk hidupku kedepannya. Maafkan aku yang tak bisa menjadi wanita yang kau impiankan, minimal setara denganmu. Karena aku tidak bisa, dan tidak mau. Aku hanyalah gadis desa dengan segala kepolosannya. tanpa dibuat-buat. dan beginilah adanya. semoga kau tenang disana. 

#ODOP29
#BloggerMuslimah

4 comments:

  1. memang lebih baik jadi diri sendiri ya mbak, diri sendiri yang dituntun ajaran agama. maksain diri jadi orang lain bahkan sampai berbuat yang dilarang agama kayak tabarruj malah menyiksa diri plus dosa.. btw, ini fiksi toh mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. real fiksi mbaa wwkkwkw
      maunya tak ikutkan lomba, eh deadlinenya udah lewat. ckckkckc nasib emak-emak nggak tahu tanggal hahahhahah

      Delete
  2. ga enak yah jadi cewe labil.
    Hihihii...
    Alhamdulillaah udah lewat masa-masa labil jaman dulu

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyesss, aku dulu juga labib. tapi skg udh insyaf #eaaa

      Delete