Jo Walton dan Kisah Dibaliknya

by - August 19, 2017





            Kaki yang masih terbungkus rapi dan jaket yang tergantung membungkus tubuh kecil belum juga mau terlepas. Menghempaskan badan kurus pada sebuah sandaran sofa empuk. Menunduk kaku. Membasahi lantai keramik bunga-bunga dengan tetesan-tetesan air. 

“Apa yang seharusnya aku lakukan?” aku merasa bagaikan princess yang terkurung dalam jeruji besi, menunggu pangeran datang menggunakan kuda putihnya. Pergi tak boleh, mencari kerja pun berat untuk mengiyakan begitu menyesakkan di dada.


“Kesibukan, aktivitas dan BEKERJA!”

“Kerja!” menghela nafas panjang. “Keluar rumah aja tidak dipebolehkan, apalagi kerja.”

“Aku kira kamu bukan tipe anak mama yang setiap saat tidak di ijinkan keluar rumah, pasti telah terjadi sesuatu. Iya kan?”

“Entahlah.” Berdiri dari tempatku duduk, lalu berbalik badan, menuju kaca jendela. Menerawang jauh menembus benda bening 5 cm dari wajahku.

            Selama 4 tahun di ibukota ternyata tak cukup membuktikan bahwa aku bisa dan mampu untuk berdiri sendiri. Setidaknya aku bersyukur bisa survive meskipun kini tak ada yang menghargai kemampuanku untuk bisa mandiri. Dan disini mematung tanpa ada semangat seperti dulu. Bukan, bukan tak ada semangat tapi kondisi yang mengharuskanku untuk selalu dan selalu patuh. Kurasa bahwa kita baru bisa memaknai sebuah best moment saat kita benar-benar kehilangan. Best moment itu adalah saat aku bisa bekerja dan berekspresi.

And what is your next plan?” satu pertanyaan yang juga mengusik kegundahan ini.

“Kamu nggak bisa begini terus. Bangkit, temukan duniamu. Kamu bisa bertemu dengan orang-orang baru, dan mungkin saja salah satu mereka adalah jodohmu.”

            Rina adalah tempat pelarianku. Saat cobaan datang silih berganti, saat keputusan besar harus diambil. Dialah satu-satunya teman yang mampu menggenapkanku. Memantabkan hati pada sebuah pilihan dengan banyak pertimbangan. Tak hanya itu, ia juga tempat semua kesal, tangis tumpah. Tak pernah kututup-tutupi apapun darinya.

            Dan untuk kesekian kalinya, ia menyuruhku untuk beraktivitas lagi. Kalau bisa yang padat. Aktivitas yang akan melarutkanku pada sebuah keletihan hingga tiada lagi pikiran-pikiran semu belaka. Tapi Ibu bagaimana dengannya? Rela kah ia akan keputusanku ini, diusia yang tiadak lagi muda ia sendirian di rumah yang tak begitu luas itu. Kakakku udah menikah, pasti perhatiannya pun lebih ke keluarga kecilnya. Dan adikku sudah nyaman tinggal di pondok masing-masing.

***
            Azan maghrib berkumandang. Senja berganti dengan malam yang pekat. Setelah salam terakhir yang dilanjut dengan dzikir yang tak berujung. Rutin beliau lakukan sehari-hari tapi tidak untuk saat ini.

“Kalau Ibu tidak mengizinkan, masihkah engkau pergi, Nduk?” remuk redam hati ini. Jauh hari aku telah mempersiapkan semua keperluan sudah kumasukkan dalam sebuah koper. Masa karantina sudah di depan mata, berpamitan kekerabat terdekat. Untuk saat ini aku tidak tahu mengapa dan bagaimana kelanjutan cerita ini. Separuh semangatku hilang terhempas oleh waktu yang tidak berpihak pada impian yang selangkah lagi menjelma jadi nyata.

“Ibu hanya ingin kau disini dan segeralah menikah.” Aku hanya mengulum senyum. Impian beberapa tahun tinggal di negri orang, menikmati indahnya 4 musim sudah terbayang di pelupuk mata. Tapi semuanya kandas ditengah jalan, dihempas oleh angin kelabu. Terus apalagi ini, tak tahu kah beban pikiran yang kini menghantui.

Wonten nopo, Bu?” tanyaku lirih. Aku masih tidak percaya dengan apa yang telah beliau ucapkan. Walaupun masih dilanda kecewa, kugigit bibir ini hingga tak keluar barang setetes pun. Selembar kertas tertuju kearahku. Di atas kertas buram itu tertera 456/180.

            Tertunduk lesu, kembali pantat ini menyentuh ujung kursi. Menatap nanar pada angka yang berderet. Gula darah ibu naik sedemikian drastis, tak hanya itu tekanan darahnya pun juga mengalami peningkatan yang sama. Tak akan aku maafkan diri ini jika terjadi sesuatu padanya. Wanita yang telah melahirkan dan merawatku hingga saat ini. Kerutan diwajah dan rambut yang mulai memutih adalah saksi bisu bahwa tak kuasa diri ini menampik segala pintanya.

            Gugur dengan satu mimpi membuatku linglung. Sudah mengundurkan diri dari pekerjaan terdahulu dan sekrang aku menatap pilu pada kertas kosong dihadapku. Untuk saat ini aku tak tahu lagi mengapa dan bagimana. 

***

#ODOP25 
#BloggerMuslimahIndonesia

You May Also Like

0 comments

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.