Mama atau papa?

by - August 05, 2017




            Sengaja saya tidak merubah judul postingan diatas. Judul itu sama persis dengan tema acara tv swasta I’m Possible. Sebuah tayangan motivasi yang dipandu oleh motivator hebat Merry riana. Dengan tema parenting seperti itu sayang saja kalau tidak ditulis ulang. Sebagai pengingat diri juga agar bisa maksimal dalam pengasuhan ini tentunya dengan bahasa saya sendiri tapi insyalloh tidak merubah nilai yang saya tangkap dari tayangan kemarin. 

            Bahwa parenting yang kita anut saat ini kebanyakan adalah hasil warisan dari orang tua kita dulu. Kita terbiasa melihat tugas mengasuh anak adalah ibu. Dan ayah mencari nafkah. Benarkah demikian? Sebuah cerita syarat makna dialami oleh motivator parenting Pak Djarot Wijanarko *CMIIW*. Beliau bercerita bahwa anak keduanya mengalami permasalahan dalam akademiknya. Nilai-nilainya sangat rendah bila dibandingkan dengan kakaknya. Tapi kalau ditanya jawabannya selalu benar. “Apa ibukotanya indonesia?” selidik sang bapak. “Indonesia.” Jawab sang anak. “lha kenapa nggak ditulis di kertas jawaban?” tanya sang bapak lagi. “Lha saya udah tahu, ngapain di tulis!”jawabnya yang seketika itu membungkam mulut kedua orang tuanya. 

            Lalu berkonsultasilah orang tua itu ke seorang psikolog. Sang psikolog berkata bahwa IQ putra bapak Joko lebih tinggi dari sang kakak. Ia anak yang cerdas. Tapi ada satu hal emosi yang tidak ia dapatkan. Setelah ditelaah bahwa ia tidak dekat dengan IBUnya. Karena ibunya waktu itu sibuk mengurusi si adik yang jarak umurnya hanya terpaut satu tahun. Perlu ada keseimbangan antara kasih sayang MAMA dan PAPA. Bukan salah satu saja. Tapi harus imbang KEDUANYA. 

            Lalu sang Ibu itu mengurangi aktivitas di luar rumah seperti arisan, meet up bersama teman, shopping dll. Ia yang mengantar jemput putra keduanya yang sebelumnya tugas itu dilakukan oleh sang ayah. Sang ibu menemani putra keduanya belajar dan bermain. dan setelah 6tahun berlalu, progressnya mulai terlihat. Sang putra makin terlihat kecerdasannya. Makin pintar dalam akademiknya. 

            Benarlah kiranya bahwa ibu adalah madrastul ula (sekolah pertama) untuk anak-anaknya. Tapi bukan berarti ayah lepas tangan dalam pengasuhan ini. harus ada keseimbangan antara keduanya. Kasih sayang Mama dan papa adalah sebuah tonggak awal kesuksesan anak kita kelak. Kasih sayang kita jualah yang senantiasa menguatkan mereka kala badai kehidupan menerjang.  

            Jadi teringat tentang mendidik anak sesuai fitrhnya. Dan ada beberapa tahap yang perlu kita kawal di tiap fasenya:
a.       (0-2tahun)       : pada usia ini anak harus dekat dengan ibunya. Menyusui, bukan memberi ASI.  Langsung disusui bukan dengan pumping atau disambi pegang HP *tepok jidat*
b.      (3-6tahun)       : seorang anak harus dekat dengan kedua orang tuanya. Memperbanyak aktivitas bersama.
c.       (7-10tahun)     : pada usia ini anak di dekatkan sesuai dengan gendernya. Laki ya ke ayahnya. Berladang, membetulkan kran, mencuci mobil, tonjolkan sisi maskulinnya. Perempuan ya ke ibunya. Tonjolkan sisi feminimnya.
d.      (11-14tahun)   : pada usia pre aqil baligh ini, seorang anak harus switch gender. Laki dekatkan ke ibunya. Agar ia senantiasa berlaku lemah-lembut ke wanita. Perempuan dekatkan dengan ayahnya. Agar ia tidak terlena dengan laki-laki lain yang bukan ayahnya. Karena ia sudah berlimpah perhatian dari seorang lelaki yaitu ayahnya.

Diambil dari www.iinchurinin.wordpress.com. Argh iya, lagi-lagi pekerjaan orang tua khususnya ibu bukan seberapa cepat kita membereskan urusan domestik rumah tangga kita. tapi bagaimana kita bisa mengawal anak-anak kita agar kelak ia bisa memaksimalkan potensi dan bakatnya. 

Apalagi seorang ayah, suami kita. sama tidak mudahnya agar beliau juga turut serta menyingsingkan lengan kemeja untuk turut serta mengawal anak-anak kita. turut serta membagi waktunya agar seimbang antara urusan kantor dan anak-istrinya. Meski memang berkerja di ranah publik membutuhkan energi yang sama besarnya. Dorong suami-suami kita untuk sesekali menghabiskan waktunya dengan anak-anak kita yang menggemaskan. Ajak suami kita untuk membagi waktunya walau hanya bed time stories yang hanya beberapa menit saja. Karena kalau bukan kita, orang tuanya kepada siapa lagi mereka menggantungkan hidup dan masa depannya? 

#Day7
#ODOP
#BloggerMuslimah  

You May Also Like

8 comments

  1. sepakat mbak.. kedua orangtua punya peran penting mendidik anak agar cerdas dan berakhlak mulia, taat kepada Allah swt dan sukses dunia akhirat..

    ReplyDelete
  2. Kisah inspiring itu yang anak kedua ternyata iq nya kece. Dan informasi usia serta peta kedekatan dengan siapa, ini sangat membuka mata saya. Kebetulan punya dua anak cowok. an .... DSemoga kita bisa menjalankan peran dengan baik, ya, Mbak?

    ReplyDelete
  3. alhamdulillah suamiku ga rewel dalam urusan pengasuhan anak, kita berbagi. subhanallah banget jd ibu, sulung dan bungsu sy jg beda umur dekat 2 th. sy berusaha agar sulung ga cemburu sama bungsu... kisah tsb menjadi pengingat pribadi buat sy. salam kenal dan mksh sharingnya yg unforgtable bget hehe

    ReplyDelete
  4. halo mba, ini saya Enny yang nanyain link blog emak-emak di grup KEB untuk saling follow dan blog walking :)

    inspiratif banget ceritanya, nambah ilmu baru untuk new mom kayak saya, keep writing mba ^^

    ReplyDelete

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.