Sebuah Penantian (Part II)

by - August 19, 2017




Rasa syukur kian meliputi sanubari, dilahirkan dalam keluarga yang agamis. Ayahku seorang guru agama di Sekolah Dasar, Ibuku wanita sholehah yang tiada hari tanpa berdzikir siang dan malam. Sejak tamat MI (Madrasah Ibtidaiyah) setara SD aku di pondokkan di sebuah pondok pesantren modern, tidah jauh dari tempat tinggalku sekarang. 

            Membekali ilmu agama sejak dini selalu ditanamkan oleh orang tua, terbukti dengan keempat anaknya, mereka semua lulusan pondok pesantren. Mereka seolah tahu bahwa tantangan zaman ke depan yaitu dengan cara membentuk karakter anak berlandaskan agama.


            Putaran waktu tak dapat terelakkan. Denting jam selalu berputar pada porosnya. Tak peduli bahwa manusia selalu menyia-nyiakan waktunya. Hingga datanglah penyesalan. Waktu cepat berubah dari hari, minggu, bulan dan tahun. Sekarang aku hidup di perkotaan. Meninggalkan rumah idaman untuk kesekian kalinya. Menuntut ilmu adalah tugas mulia. Hidup di kos bersama teman-teman seperjuangan. Berbagai karakter berbeda karena asal kita pun berbeda.

“Kamu punya pacar, Sar?”

“Kok gak pernah datang kesini sich?” tanya Vera teman sekamarku.

“Nggak atau lebih tepatnya belum punya”, jawabku datar. Meskipun sering aku merasa iri melihat kebersamaan Vera dengan teman dekatnya di ruang depan, tempat yang disediakan Bu kos untuk para tamu.

“Kenapa? Gak ada yang deketin kamu? Atau kamu kurang menarik?” Vera kembali antusias.

“Semuanya mungkin”, sambil meneruskan mengerjakan tugas-tugas yang menumpuk.

Come on baby. Kamu cantik, mungkin kamu tidak membuka hati bagi mereka yang perhatian sama kamu. Atau kamu tidak peka?” berbagai pertanyaan muncul yang tidak bisa ku tanggapi lagi.

“Ayolah, apa kamu tidak ingin menikmati masa remaja, menghiasinya dengan suka cita. Pangeran yang selalu ada untukmu dan someone special yang selalu bisa kau ajak kemana pun kau ingin pergi, tak mau kah kau?” pertanyaan Vera yang sempat mengoyahkan imanku.

            Sejak percakapn konyol itu, aku dikenalkan Vera dengan teman pacarnya, Iqbal namanya. Kita menjalin sebuah hubungan. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Tetap memegang teguh norma-norma agama, meskipun dalam agama tidak ada istilah pacaran islami. Tapi kami sepakat bahwa hubungan ini ada hak-hak yang harus kami patuhi rambu-rambunya. Jadi pacaran kami tak lebih dari nonton bareng, makan, hang out, ke perpustakaan kota dan diskusi-diskusi kecil tentang apa saja. Aku merasa nyaman dekat dengannya, dan nyambung ngobrol hingga petang menjelma. Pun kesukaannya pada buku salah satu daya tarik sendiri bagi laki-laki di depan mataku. 

Hingga suatu hari.

“Kita udahan aja ya, Sar?”keputusan Iqbal.

“Kenapa?”pertanyaan yang klise menurutku, tapi aku juga berhak tahu sebabnya dia memutuskan hubungan ini secara sepihak.

“Kamu terlalu baik,  pantas dapatkan seseorang yang lebih baik dari aku Sar.” jawabnya tanpa menatap mataku sedikit pun.

 “Ketika seorang lelaki mengucapkan satu kata ‘kamu terlalu baik’ itu artinya dia sudah mendapatkan wanita yang lebih baik dari kamu,” teringat akan kata Rina, temanku sewaktu menggunakan seragam putih abu-abu. Mungkin kah itu juga terjadi pada Iqbal? Dia sudah mendapatkan wanita lain? Terus selama ini, dia anggap apa hubungan ini? Sebuah lelucon kah? Begitu banyak pertanyaan yang menyumpal otak ini, tapi tak satu pun yang mampu kujawab. Dan tak mampu kutanyakan padanya. 

“Sebulan lagi aku akan melamar wanita yang sudah orang tuaku jodohkan. Maafkan aku!” sembari mengulurkan beberapa uang di atas meja. Berjalan meninggalkanku dalam perihnya dilukai. 

            Pria pun kadang mempunyai sifat absurd. Tidak jelas mau dibawa kemana hubungan yang sudah berlangsung ini. Tiada badai atau angin tornado  meminta putus dengan alasan klise --kamu terlalu baik untukku--.

Mungkin ini salahku yang tiada mematuhi peraturan-Nya. Begitu indahnya teguran ini bagi hamba yang kalah oleh tipu muslihat setan. Ikhlas dan sabar yang aku lakukan sekarang, meminta ampunan atas dosa yang telah dilakukan. Sekarang pun aku tidak  merasa dendam kepada Iqbal.  Menghormati keputusannnya, dia layak bahagia dengan siapa pun itu. begitupun sebaliknya.

***

“Setelah ini semoga pemahamnu lebih baik lagi ya Nduk?”

“Tak usah kau menjalin hubungan yang tak pasti. Toh ujung-ujungnya kamu yang tersakiti. Sudah percayakan saja pada Gsti, pemberi jodoh. Yakini bahwa jodohmu tidak akan tertukar. Kamu ngerti to Nduk? Sudah lama kamu tinggal di pesantren seharusnya kamu lebih paham daripada Ibumu yang tak mengenal huruf ini. Hijabmu itu seharusnya mencerminkan isi otak dan hati sesuai dengan ajaran Tuhan”, lagi Ibu seolah tahu pikiran yang ada dalam benak ini.

Inggih Bu. Setelah ini Inah akan menanti jodoh yang akan menjemput, bersama-sama menapaki jalan dalam Ridho-Nya semata. Toh dengan pacaran pun Inah tidak menemukan jodoh Inah. Hanya sesal dan sakit yang bercokol dalam hati.” Sembari memijat kaki Ibu yang seharian mengerjakan tugas Ibu rumah tangga.

            Aku bukan orang suci yang tanpa dosa sekalipun. Meskipun hijab ini menjadikan aku seorang muslimah.  Sejak kecil tinggal dilingkungan pesantren. Sampai saat ini pun masih merasa nyaman dengan berhijab meskipun belum sempurna layaknya yang tertera dalam kalamNya. Ajaran agama selalu keluarga tanamkan baik-baik toh akhirnya kalah dengan pergaulan. Menjalin hubungan dengan seseorag yang kuyakini akan menjadi tambatan terkhir dalam pencarian dengan jalan pacaran. Tapi takdir berkata lain, dia hanya datang memberi satu pelajaran penting bagiku bahwa sebuah rumah tangga seharusnya di bangun dalam keberkahan. Apakah jalan pacaran itu berkah? Tentunya banyak madhorot yang dilakukan daripada manfaatnya.

            Sudah cukup rasanya aku menghianati kalamNya. Rasa sakit, perih, gundah gulana sudah kualami. Pemahaman yang baik semoga akan terus aku cari seiring perjalanan hidup yang tak semulus jalan tol. Pengetahuan agamapun tidak seluas para ahlul ilmi pun juga tidak hafal hadist-hadist tentang boleh tidaknya seorang wanita menjalin hubungan dengan jalan pacaran. Setidaknya aku pernah belajar, dan menyatukan dengan kejadian yang aku alamai bahwa satu kesimpulan penting bagi wanita khususnya aku, jalan pacaran bukan satu-satunya jalan menuju gerbang pernikahan. Madhorot dan mendekati zina itulah pacaran. Jika sudah waktunya untuk menikah, buka hati dan tak berlama-lama menjalin hubungan. Cukup mengetahui bagaimana agamanya, keluarga dan kegitan sehari-hari itu lebih dari cukup. 
****
Dan dengan segala bisikan-bisikan itu, aku sudah punya senjata ampuh, tersenyum. Tak perlu menanggpi mereka yang hanya sekadar berkomentar, sekan-akan kebenaran mutlak ada pada lidahnya yang kejam. Berbahagialah aku karena mereka telah menunjukkan perhatian yang melimpah, tanpa harus mengemis dan meminta. Dan hanya kepada-Nyalah kulabuhkan setiap pinta. Bagiku cukup Dia yang senantiasa merengkuhku dalam dekapan lembut. Menyikapi semua hal dalam sisi positif banyak manfaatnya, daripada mendendam sesuatu yang belum pasti kebenarannya.
Merasa di acuhkan olehku yang asyik memegang majalah islami, akhirnya budhe pergi tanpa pamit. Dan aku tetap percaya bahwa aku meyakini satu hal dan akan memegangnya hingga kabar bahagia itu datang dengan sendirinya. 

#ODOP21
#BloggerMuslimahIndonesia 

You May Also Like

1 comments

  1. Pernah mencoba hubungan sekali doank dan menyesal, emang cowok suka gak jelas gtu kalau berkomitmen hehehe. Selanjutnya, saat udah siap saya milih nikah aja :D

    ReplyDelete

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.