Sebuah Penantian

by - August 19, 2017




Gerhana bulan menampakkan diri malam ini. Keindahan yang sempurna. Setiap ada gerhana bulan selalu ‘liwetan’ bagi mereka yang sedang mengandung. “Biar tidak di makan grhono.” Itulah mitos yang sering aku dengar sesaat setelah mereka –penduduk desa—berpesan kepada wanita-wanita yang sedang hamil. “Kamu juga harus sering lonjak-lonjak biar tubuhmu tinggi keatas bukan kesamping,” duch iklan darimana yang nyempil ini, batinku berteriak kencang. Sebagai warga Negara yang baik, aku hanya tersenyum kecut. Mungkin suatu saat aku akan bertanya secara detail tentang mitos yang beredar di kampungku ini. Tentunya kepada mereka yang ahli di bidangnya. Dan tidak serta menjudge orang dengan segala hal yang belum tentu kebenarannya. 


“Inah, ini ada sesuatu dai ibuku. Dimakan ya?” Ria tetanggaku yang sedang mengandung jagoan pertamanya pun tidak memandang remeh ritual yang harus dijalankan oleh ibu hamil seperti dirinya. Aku pun menhampirinya yang berada di luar pagar rumah. Menyuruhnya masuk walau hanya basa-basi. Dengan halus ia menolaknya, masih mengantar ke tetangga yang lain, pamitnya. 

“Kapan kamu menyusul Ria kalau tiap hari kerjaanya di rumah terus seperti ini.” Budeku tiba-tiba muncul dari dari balik pintu. Ah ini pepatah itu mungkin saja benar “Hidup itu anugrah tuhan, dan orang lain yang mengomentari”. Cuping ini serasa kebal dari segala macam sindiran. 

***
Bukan sekali dua kali pertanyaan serupa terlontar. Terbukti sesaat menikmati senja yang tengah bergelayut manja, tiba-tiba suara ibu nyembul dari balik tirai. “Kapan Iqbal melamarmu Nduk?” memecah keheningan, sembari bersandar di kursi rotan depan teras rumah. Waktu yang tidak pas untuk membicarakan masalah pribadi menurutku.

“Sebulan lagi dia akan melamar gadis lain Bu!” kejujuran lah yang kusampaikan kali ini. Sudah lama Ibu mengetahui hubunganku dengan Iqbal -- temannya Ical, pacar Vera--. Lebih dari dua kali dia berkunjung kerumah. Tapi berita ini mungkin akan mengejutkan Ibu. 

“Kenapa Nduk?” tanya Ibu penasaran. Beliau tahu usia pacaran kami tergolong lama. lebih dari setahun. Tapi semudah itukah pria berpaling ke wanita lain. Entahlah, toh kenyataan pahit itu harus aku terima dengan lapang dada. 

“Mungkin dia tidak cocok dengan saya, Bu. Kekanak-kanakan, manja, egois dan sifat yang menjengkelkan lainnya. Itu yang saya tangkap!” sekuat tenaga untuk tidak menjatuhkan bulir-bulir bening didepan Ibu. Sayatan lukaku masih terasa hingga ke ulu hati. Penghianatan di depan mata. Selingkuh, atau apalah itu namanya. Biar Alloh yang tahu perihnya luka ini. 

“Ya sudah Nduk, sabar dan ikhlas. Semoga yang terbaik akan segera datang. Mengganti hari-hari sedihmu dengan senyum tawa bahagia. Bersemangatlah, jemput jodohmu dengan cara-cara yang baik dan barokah tentunya,” sembari mengelus rambut panjangku. 

            Wanita tua ini selalu bisa menghangatkan suasana. Nasihat teduhnya mampu membangkitkan kobaran semangat yang kian meredup. Beruntungnya aku yang dilahirkan dari rahim wanita ini.
“Amin. Doakan Inah terus ya Bu. Inah yakin doa seorang Ibu langsung di dengar oleh Alloh. Karena ridho Alloh terletak pada ridho orang tua. Begitu kan Bu?” tanyaku sembari melempar senyum kehangatan. Lebih tepatnya mengingatkanku sendiri akan doa yang terijabahi salah satunya dari Ibu. Aku tidak ingin melihat ibu larut dalam kesedihan akibat ulahku.

***
To be continue di postigan selanjutnya ya, apakah inah menemukan belahan hatinya? Atau masih tetap dengan single yang membuatnya nyaman dengan berbagai cibiran dan cemoohan?

#ODOP20
#BloggerMuslimahIndonesia

You May Also Like

0 comments

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.