Apakah saya si OBESISTUFF?

by - September 26, 2017




            Yaitu sebuah penyakit Muslimah *tunjuk hidung sendiri* yang semakin lama, semakin merajalela. Semakin lama, lemari-lemari yang dulunya masih ramping kini beranak-pinak. OBESISTUFF ini kudapatkan istilahnya dari mom blogger juga. Sepertinya enak untuk dibahas. Sepertinya renyah untuk di jadikan renungan. Bahwasannya wanita itu suka akan keindahan, tapi tak sedikit yang menjadikan keindahan itu sebuah kemubadziran. 


Cara Mendeteksinya:

1.      Buka lemari
2.      Lihat dan hitung ada berapa baju/gamis/daster
3.      Lihat dan hitung ada berapa bawahan/rok/celana
4.      Lihat dan hitung ada berapa kerudung/jilbab syar’i/pashmina or what ever you named it
5.      Pisahkan barang-barang yang benar-benar kamu butuhkan
6.      Sisa dari barang-barang keperluanmu itulah OBEISSTUFF
7.      Berlaku juga untuk make up, sepatu, sandal, brosh dan pernak-pernik lainnya

((Indriwwae 12082017) di endang s buchori 12082017)

Status itu saya ambil dari teman senior di sebuah Komunitas  Bisa Menulis (KBM). Berkali-kali juga saya membacanya. Berkali-kali juga saya merutuki diri bahwa selamnya ini saya sudah over OBESISTUFF. Banyak gamis yang dibeli hanya karena lucu. Hanya karena trend. Hanya karena memuaskan nafsu, tapi semuanya berhasil numpuk di lemari. Kurang lebih pergaulan juga yang melatabelakangi bagaimana konsumtif itu semakin terlihat nyata. Mentang-mentang punya penghasilan sendiri. Mentang-mentang punya tabungan sendiri. Semua dibeli, tanpa memperhitungkan kebermanfaatannya. 

Kini sejak status ibu dan istri kusandang. Ada banyak hal yang menjadi prioritas. Salah satunya adalah bacaan buku untuk anak lanang. Akibatnya hobi shopping menurun drastis. Dahulu yang hampir setiap bulan menyempatan diri untuk nge-Mall, kini hampir 2 tahun nggak pernah menginjakkan kaki disana. Dahulu yang selalu mengincar diskon-diskonan, kini yang diincar adalah boardbook keren yang tahan lama.

Menjadi ibu sedikit banyak mengurangi shopaholic saya. Hobi itu kini tersalurkan dengan menumpuk boardbook. Kemajuan kann? Kan?? *cari teman* wkwkwkkw. Saya suka membaca tidak dari kecil, karena keterbatasan fasilitas. Saya baru jatuh cinta dengan dunia literasi saat SMA. Saat ada seorang guru yang meminjami saya sebuah novel karya kang abik. Buku pertama yang membuat saya ketagihan membaca. Baca buku fiksi heheheh. Setelahnya keranjingan membaca itu sudah mendarah daging sampai saat ini. tapi masih ke bagian buku yang ‘saya senangi’. Memang sich bukan bacaan berat seperti novel terjemahan karya Haruki Murakami, the davinci code dan novel-novel berat lainnya. Saya penganut buku garis datar. Asal bisa diterapkan sehari-hari dan menikmati setiap halamannya. Itu sebuah hadiah terindah. 

Kini bacaan pun tak jauh-jauh dari keluarga, parenting dan boardbook. Maklum emak e yang baca, lalu di dongengkan ke anak. Tetap baca kan judulnya? ((judulnya)). Ini bahas obesistuff atau buku??? tenang-tenang. Inilah jalan saya yang paling aman untuk menghindari si obesistuff tadi. Meski tetap ada barang yang numpuk, setidaknya bisa dimanfaatkan lagi suatu hari nanti. Barangkali mau buka TBM (Taman Bacaan Masyarakat) *duh cita-cita dari kecil ini mah* pun bisa memberi manfaat tuk masyarakat sekitar #ciyeee #uhuuk.

You May Also Like

8 comments

  1. Menjadi ibu ternyata bisa menyembuhkan penyakit ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju, lebih bijak juga dalam menentukan anggaran.

      Delete
  2. setelah jaid ibu, segala belanjaan saya pun kebanyakan untuk anak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. itulah bahagianya jadi ibu. nggak melulu soal diri sendiri yakkk :)

      Delete
  3. dari dulu aku jarang beli baju dll, enath menagpa krn aku juga gak suak dandan, kata suamiku wah asyik dong irit

    ReplyDelete
    Replies
    1. asyiikk makin cinta dong suami *mlipir dulu argh* hehehhe

      Delete
  4. Klo buku..investasi juga mb..jangka panjang juga..ntar bisa buat adiknya. Jd numpuk gpp😁

    ReplyDelete

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.