Friday, September 8, 2017

Menyerupai Masji Nabawi Madinah




            Namanya adalah masjid NAMIRA berlokasi di Mantub-Lamongan. Dekat dengan alun-alun Lamongan. Sempat baca salah satu cerita di facebook bahwa pas Ramadhan kemaren masjid ini menyediakan buka puasa 1000 porsi.  WOW amazed. Dan alhamdulilah rabu kemarin diberi kesempatan untuk mengunjungi masjid ini. apakah direncakan sebelumnya untuk berkunjung? Tentu saja tidak. 


            Pada hari sebelumnya ibu mertua sudah memberi tahu bahwa akan diajak ke lamongan untuk takjizah langganan beliau di pasar. Awalnya sich agak enggan soalnya minggu kmren udah dari pasuruan. Masak keluar lagi. Tapi saya juga berfikir gimana rasanya berdua aja dirumah dengan anak lanang. Karena paksu dari pagi udah berangkat kuliah dan bisa diperediksi bahwa akan pulang malam.

            Kami serombongan berangkat lewat krian-legundi-dan sampailah di mantub lamongan dengan waktu yang relatif lama. 3 jam. Padahal perkiraan hanya sejam. Diluar prediksi bahwa jalanan macet di legundi. Dan setelah di manthub perjalanan pun sempat mancet juga karena perbaikan jalan. keberangkatan pada jam 1 siang, sampai pukul 15.00. sesampainya di rumah keluarga duka, ngobrol kesana-kemari ya tentu saja perihal bagaimana awalnya beliau (cak dayat) meninggal. Tak ada kejadian maupun firasat berarti. Pekerjaan sehari-hari beliau adalah merantau (berdagang tahu tek keliling) di kota besar, sidoarjo. Meninggalkan anak-istrinya di kampung demi mencari nafkah. Lelaki gentle bukan? Dan pada hari H pun almarhum tidak sakit atau lainnya. Hanya tiduran disamping sang istri, dan innalilahi wa inna ilaihi rojiun. Usia memang tiada yang tahu. Kalau Sang Empunya sudah bertakdir, maka itulah yang terjadi. 

            Bagaimanakah respon yang dialami keluarga? kehilangan pasti. Tapi kata sang istri seperti ditinggal ke sidoarjo saja. Karena hari-harinya adalah merantau ke kota ini. dunia rumah tangga memang KOMPLEKS. Harus ada yang mengalah agar tercapai tujuan di depan. Saya banyak belajar dari kejadian sekitar. Mengalah bukan berarti kalah tapi inilah kerja sama antara istri dan suami karena ditengahnya ada anak yang harus diperjuangkan masa depannya. 

            Setelah menunaikan shalat ashar kami bergegas pulang. Dengan rencana lain, yaitu lewat jalan tol saja. “Jadi pripun, Bah. shalat maghrib riyen? Toh di tol nanti pasti tidak ada masjid.” Adik ipar pun bertanya. “Iya pasti. Coba tahu masjid Namira ya? Soalnya ada langgananku pensiun jadi tukang tahu tek lalu sekarang jadi muadzin di masjid besar itu.” Saya pun teringat masjid yang viral itu. Semoga bisa berkunjung juga. Takdir sepertinya berpihak pada kami, “Itu ada menara, Bah. Mugi niku masjid NAMIRA.” Bahagialah kami yang mendengar berita itu. 

            Subhanalloh baru memasuki gerbang depannya saja, kami disambut dengan bangunan megah bak hotel berbintang. Tak ayal banyak pengunjung yang berselfi ria. Dan saya pun tak ketinggalan untuk mengabadikan moment ini dengan anak lanang. Andai paksu juga ada diantara kami, maka lengkaplah kebahagiaan hari itu *hiks*  


            Luas bangunan yang mencapai 2,7 hektar. Full AC di dalamnya. Toilet dan tempat wudhu yang bikin betah. Dan pas masuk kamar mandi, terlihat kapur barus dipojokan. Jelas ini bukan masjid biasa. Tak ketinggalan juga taman, lalu jalanan menuju kamar mandi dari masjid di kanan-kirinya ada kolam ikan lengkap dengan mini water fall (baca: air mancur). Baunya harum khas masjid Nabawi (hasil serching di google). Tak hanya itu ada kiswah yang didatangkan dari masjidil haram. Diletakkan persis didepan mihrob imam. Karpet yang empuk seperti berada di Roudhoh, Madinah. Makin membuat rindu untuk segera menjadi tamu Alloh.  Semoga kami sekeluarga bisa diberi kesempatan untuk menggenapkan rukun islam yang kelima itu. Amiin ya robbal alamin.
“Siapa yang bisa nebak biaya listrik perbulannya?” tanya abah saat melanjutkan perjalanan. “Pinten bah?” tanya pendik (adik ipar). “Kurang lebih 170 juta/bulan” dan saya disampingnya tereran-heran dibuatnya, kalau gini mah kang hamish nggak ada apa-apanya saat memberi mahar pada neng raisa hihihihi *sungkem ma bang hamish* Abah pun dapat cerita dari sang teman bahwa beliau sekarang sehari-hari ya bertugas jadi muadzin itu. Anaknya laki-laki setelah lulus sma, langsung dipondokkan hafidz oleh sang empunya masjid. Dibiayai. Free. Itu baru muadzin, gimana yang jadi imam masjid ya? Terbuktilah saat melakukan shalat jamaah maghrib, suaranya merdu. Khas qori’ international.

            Subhanalloh siapakah sang dermawan itu? Siapakah yang mampu membangun masjid dengan begitu megahnya? Siapakah gerangan yang mampu menginfakkan setidaknya 200 juta/ bulannya guna sebagai perawatan masjid beserta gaji karywan yang berjumlah 30 orang? Siapakah beliau? Ingin rasanya diri ini berguru dengan mereka yang tak hanya kaya harta, tapi kaya hati. Sedekahnya pun tak tanggung-tanggung. Siapakah gerangan yang mampu membuat jamaah berlama-lama di masjid kalau bukan sang empunya masjid NAMIRA ini? Siapakah gerangan yang tak meletakkan satu pun kotak infaq yang biasa tergeletak di masjid-masjid kebanyakan? Bahkan securitypun tak mau menerima upah. Andai diantara ribuan bahkan ratusan ribu umat islam seperti beliau, tak banyak-banyak separohnya saja. Insyalloh Islam berjaya seperti para pendahulu. Seperti zaman Raosululloh dan para sahabat yang tak tanggung-tanggung untuk bersedekah. 

            Semoga keberkahan selalu untuk beliau, sang pemilik Masjid Namira beserta keluarga. Semoga Alloh membalas dengan kebaikan serupa. Bukankah sebaik-baik pembalas adalah Alloh saja?

2 comments:

  1. Masyaallah masjid yang megah. Semoga memperberat timbangan amal kebaikan donaturnya ya :)

    ReplyDelete