11 Wanita hebat di Masanya (part 2)

by - October 30, 2017



1.       Bunda Khansa

Suatu hari, saat keempat anaknya berkumpul di rumah, terjadi sebuah perdebatan. Ini terjadi sebelum perang Qadisiyah dimulai. Mereka saling merebutkan sesuatu, bukan harta warisan dan sejenisnya, melainkan berebutan siapakah yang terlebih dahulu maju ke medan perang untuk melawan tentara Persia. Dan pada akhirnya, satu-persatu anaknya memjemput syahid ke medang perang. Sang ibu sendiri turut menyusul anaknya. Bukankah surga adalah balasan setimpal atas semua pengorbanan yang terjadi.


2.      Nusaibah
Salah satu shahabiyah (sahabat perempuan rosululloh) yag terkenal keberaniannya maju ke medan perang. Menjadi bukti nyata bahwa perempuan di masa Rosululloh tak hanya pandai bersolek, melainkan atas dasar kecintaan kepada Rosululloh, ia turut serta maju k medan pertempuran.

3.      Asma’ binti abu bakar
Shahabiyah sejati ini adalah putrid Abu Bakar As-Shiddiq. Dalam bidang pendidikan keluarga, Asma’ memberi keteladanan dalam hal keberanian, kekuatan iman, dan pendidikan anak. Ia berjihad sepanjang hayat, sampai putranya, Zubair melanjutkan peperangan setelah mendengar kekata bertenaga dari sang ibu. Hingga ia gugur sebagai syuhada.  

4.      Ibunda Imama Bukhori
Abu Abdullah Muhammad bin ismail bin Ibrahim al mughirah al ja’far adalah nama lengkap dari imam bukhori. Karya terbesar dari imam Bukhori adalah kitab hadis. Ribuan hadits yang beliau riwayatkan. Sangatlah mungkin di balik nama besar beliau, ada ibu hebat yang senantiasa membersamainya dalam belajar. Ibu cerdas yang memainkan peran dalam mengontrol pendidikan sang anak.

5.      Ibunda Imam Syafi’i   
Guna mendidik putranya, sang ibu membawa beliau ke mekkah untuk belajar dengan guru di perkampungan badui. Ternyata proses belajarnya tidak berlangsung lancar. Akhirnya mereka kembali ke palestina. Saat melihat sang anak sudah dapat serius dalam belajar, sang bunda lalu kembali ke mekkah. Dan kini kita bisa merasakan manfaat dari kecerdasan imam syafi’i. kitab-kitabnya menjadi rujukan umat muslim sedunia. Kalau bukan sang ibu, kepada siapa lagi kita bertemrima kasih?
Secuil kisah teladan diatas semoga bisa memberi kita semangat baru dalam mendidik. Apapun profesi kita, baik ibu yang bekerja di ranah public maupun domestic kita harus professional. Bukankah wanita diciptakan sebagai pilar-pilar peradapan dan madrasah bagi anak-anaknya? Selalu yakinkan diri bahwa tak ada masalah tanpa solusi. Jadikan masalah yang datang sebagai batu loncatan agar hidup makin berkualitas, bukan batu sandungan yang membuat kita semakin terpuruk.

You May Also Like

0 comments

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.