Aliran Rasa Setelah di Wisuda Oleh IIP

by - October 24, 2017




            Saat saya menuliskan catatan ini, pun saya sudah dimasukkan ke sebuah grub Bunda Sayang. Sebuah grup lanjutan kuliah matrikulasi. Makin deg-degan rasanya. Kebayang bagaimana perkuliahan ini berlangsung. Kebayang tantangan apa lagi yang membuat saya semakin berdecak kagum. Karena ibu adalah madrasatul ula, maka tugas ibu untuk belajar tiada pernah usai. Dan menjadi anggoa IIP adalah sebuah berkah tersendiri bagi saya. Meski saya tidak bisa hadir dala wisuda yang digelar tanggal 10 kemarin, semoga tidak mengurangi esensi dari belajar itu sendiri.


            Banyak informasi terkait pengasuhan yang notabene berdampak langsung di kehidupan saya. Contoh kongkretnya, saya pernah menceritakan bagaimana kemarin-kemarin saya sounding Labib untuk minum sufor lagi. Saya telatenkan walau susu yang saya buatkan tidak ia habiskan. Dan pada saat ada sesi “Satu Jam Lebih dekat dengan Mba Mirda Hanie” beliau adalah salah satu pengurus AIMI.  saya tercerahkan bahwa tak perlu sufor untuk memenuhi gizinya. Cukup ASI yang lancer adalah pemenuhan gizi terbaik anak. Pun dalam masa penyapihan, tak perlu buru-buru. Anak udah punya timingnya masing-masing. Tetap disounding saat ia memasuki usia 2 tahun. Selebihnya biarkan ia memilih sendiri. Saya seolah diingatkan bahwa dulu, saat Labib saya ceraikan dari sufor agar nenen langsung melalui PD saya butuh perjuangan yang tidak sebentar. Oleh karenanya dalam masa penyapihan ini seharusnya sama. Biarkan ia memutuskan sendiri kapan harus berhenti dalam mengASI. Karena tidak mudah merubah kebiasaan seseorang, apalagi seorang balita yang sudah sangat hapal dengan nenenya.  

            Tidak hanya itu, banyak sekali bertebaran informasi terkait pengasuhan, kuliner, DIY-an, dan yang selalu saya nanti adalah per-BUKU-an. Buku bagi sebagian ibu matrikulasi adalah investasi penting bagi pengasuhan. Agar kita selalu bisa mengontrol emosi, juga bagaimana manajemen waktu agar sejalan dan seirama. Saya makin bisa menemukan passion saya setelah mengikuti matrikulasi. Karena ada perkuliahan talent mapping. Dengan berpedoman dari Apa yang saya sukai, dan saya bisa melakukannya. Apa yang tidak saya sukai, dan saya bisa melakukannya. Apa yang saya sukai, tapi tidak bisa melakukannya dan terakhir apa yang tidak saya sukai, dan tidak bisa melakukannya. Dari pertanyaan itulah, saya tahu bahwa passion saya adalah menulis. Dan kini insyalloh saya rutinkan tuk menulis di blog. Meski tak ada yang membacanya, meski hanya teronggok malas di sudut blog. It’s never mind, asal saya bahagia dan plong setelah menuliskannya. Apa passion emak? Yuk cari dan asah meski tak ada orang yang mengapresiasi. ^^

            Jangan salah loh anggota IIP tidak hanya emak-emak yang udah berbontot. Ada single woman juga. Mereka yang menyadari bahwa menjadi ibu professional adalah sebuah keniscayaan meski hati belum tertambat pada seorang pemimpin rumah tangga. Mereka senantiasa haus ilmu, dan mau mengosongkan gelas meski samar-samar meraba. Salut saya dengan segala semangat tholabul ilminya. Dan saya semakin tersindir karenanya. Yang masih single aja mau belajar, apalagi yang bisa langsung mempraktekkan dalam masa pengasuhan?
            Sekelumit aliran rasa tentang organisasi non-profit. Sebuah organisasi syarat makna dan manfaat. Betapa banyak orang hebat di dalam organisasi ini, walau saya yakin tak ada upah yang bisa di dapatkan. Insyalloh amal jariyah akan senantiasa mengalir bagi fasilitator-fasilitator IIP yang sangat mencerahkan serta founder IIP Ibu Septi dan Pak Dodik. Berbagai inspirasi datang dari beliau, semoga Alloh membalas dengan kebaikan yang setimpal. Amin ya robbal alamain. ^^

You May Also Like

2 comments

  1. passion saya menulis juga mbak.. hanya saja belum mampu bagi waktu untuk bisa nulis rutin... sesekali ngisi blog dan nulis opini.. udah punya draft buku tapi masih belum terdorong betul buat menuntaskannya.. semangat terus yok mbak.. salam kenal..

    ReplyDelete
  2. Saya masih menghabitkan diri tuk konsisten menulis apapun di blog dengan ngikutin ODOP. argh semoga naninya bisa kayak mba yang udh bisa ngedraft buku sendiri *amin* makasih mba sharingnya. salam kenal juga ^^

    ReplyDelete

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.