Bus Surabaya-Trenggalek

by - October 14, 2017


[Cerpen]

“Ayah bisa jemput aku?” telepon baru saja bersambung.
“Sekarang sudah sore jadi angkutan Japanan-Mojosari secara otomatis tidak ada yang bekeliaran!”
“Mau kan jemput aku, Yah?” tanyaku dalam keraguan.
“Kenapa gak pulang dari kemarin? Kalau ada niat untuk pulang minimal tadi pagi sudah bersiap-siap pulang. Ayah dari pagi ngajar terus jaga parkiran. Sekarang malah kamu minta jemput!”
Titititititititi…! telpon dimatikan.

Tes… tak terasa buliran air mata itu jatuh. Ditengah kerumunan sahabat tercinta. Tak pernah sekalipun aku merasa terabaikan seperti ini.  Tidak tahu situasi dan kondisi, aku yang manja dan serentetan hal-hal yang aku sesali. Bagaimana pun aku harus kuat, yakin tidak akan terjadi apa-apa. Tangan-Nya akan melindungi dimana pun aku berada dan ketika tak ada seorang pun yang bisa dimintai pertolongan.   
“Besok pagi aja ya pulangnya?”
“Tak antar sampai terminal Arjosari, nanti pasti ada angkutan menuju Mojosari!” Linda berusaha menenangkaku.
“Iya, mending pulang besok!”sari ikutan berkomentar.
“Tidak bisa. Besok pagi aku harus ngajar, waktunya juga full. Jarak rumah-sekolah memakan waktu cukup lama. Tidak mungkin sampai tepat waktu!” ucapku dalam isak tangis.
Akhirnya mereka mengalah. Membiarkkaku memutuskan sesuatu yang sudah menjadi tekad. Mengantarkan tepat di depan bus menuju arah Surabaya. Bermacamnya perasaan yang menggelayuti, antara takut, was-was, sedih bercampur jadi satu. Tapi aku harus pulang sekarang.
“Langsung ke Surabaya aja, nggak usah turun Japanan. Dari Surabaya cari bus jurusan Mojokerto, pasti ada!” terang Linda memberiku arahan.
Mereka tahu aku buta jalan. Meskipun setahun yang lalu bolak-balik Surabaya-Krian tiap minggu, tapi aku jarang naik kendaraan umum. Lebih baik bawa motor sendiri, lebih aman pikirku.
***
            Berbagai doa perjalanan aku dengungkan dalam hati. Sengaja tidak menyalakan Hp (hand phone) dan sejenis elektronik yang lainnya. Sudah banyak kejadian di Televisi tentang tindak kejahatan yang bisa saja terjadi di dalam angkutan umum. Pun tidak banyak bicara pada orang yang belum dikenal. Hanya satu orang yang aku jawab yaitu sang kenek bus serta menanyakan biaya perjalanan.
            45 menit sudah sampai di jalan tol menuju terminal Bungurasih. Macet pun melanda, maklum sekarang adalah weekend. Niat shalat maghrib sudah aku lafalkan dalam hati, karena perjalanan ini tidak cukup waktu untuk sekedar shalat maghrib mengingat waktunya mepet.
“Alhamdulilah”, syukurku karena 20 menit kemudian akhirnya menginjakkan kaki di pelataran terminal Bungurasih.
“Mau kemana Mbak?” tanya seorang calo bus. Sambil memeggangi pundakku seperti seseorang yang sudah lama kenal.
“Mojokerto!”ucapku pendek sambil menyingkirkan tangan sang calo. Lha iniilah yang aku benci kalau tiba di suatu terminal sedangkan aku buta jalan. Akhirnya aku digiring ke sebuah bus dengan papan nama Trenggalek. Risih juga dicolek-colek seperti itu. tak habis-habis aku berdoa dalam diam.
“Loh kok Trenggalek, aku minta ke arah Mojokerto karena nanti saya turun di krian Mas!”tanyaku sedikit mengerutkan kening.
“Iya Mbak nanti akan melewati Krian, masuk saja!”jawab sang calo.
            Behubung aku tidak tahu, dan positif thingking sama sang calo maka langsung saja naik menuju bus yang ditunjuk. Selanjutnya aku memilih bangku yang sudah terisi oleh penumpang, seorang perempuan. Berharap masih ada keberuntungan untuk bertanya tentang sesuatu yang tak kumengerti.   
“Mbak turun mana?” tanyaku seketika.
“Trenggalek, ada apa Mbak?” jawabnya.
“Nggak ada mbak cuma tanya. Saya dari Malang mau ke arah Mojokerto dan turun di Krian. Bus ini nanti melewati Krian kan Mbak?” tanyaku antusias.
“Iya sepertinya Mbak. Tenang saja!” sahut Sri yang menjadi teman seperjalanan.
            Lega juga akhirnya mendapat sedikit pencerahan. Tak lupa aku kasih kabar ke adikku bahwa aku sekarang di terminal Bungurasih. Berharap akan ada yang menjemputku, memberi informasi ke rumah menjadi solusi agar keluarga tidak khawatir. Kulirik jam di tangan, waktu menunjukkan pukul 19.30. sudah terlarut malam, dan saya masih di dalam angkutan umum. Bismillah semoga tidak terjadi apa-apa.  
“Krian berapa Pak?” tanyaku ke kenek yang sedang menarik ke penumpang sebelah.
“Rp.25.000,- Mbak!” jawabnya enteng.
“Mahal banget, biasanya Rp.5.000 Pak!” jawabku keheranan. Toh meskipun aku jarang naik angkutan umum, setidaknya aku pernah naik bus hijau. Angkutan umum dari arah Krian-Surabaya.
“Kurangi dikit lah Pak, Rp.15.000 aja ya?” tawarku.
            Akhirnya sang kenek pun menerimanya. Ada perasaan curiga ketika mengetahui tarif dari sang kenek. Tapi apa yang bisa aku perbuat. Sudah malam, tidak ada seorang pun yang bisa kumintai tolong. Yang penting nanti sampai di tempat tujuan.
“Mahal banget, biasanya Cuma Rp.40.000. ndak salah tarifnya?” tanya seorang penumpang di depanku. Ternyata tidak hanya aku yang merasa tarifnya kemahalan. Penumpang tepat didepanku juga mengalami hal yang sama.
Sang kenek tak menghiraukan. Berlalu ke kursi bagian belakang. Bus pun melaju ke teras terminal. Ada seorang penumpang naik bersama putranya.
“Turun aja Pak, silahkan naik bus lain!” ucap sang kenek ke penumpang yang ada di depanku. Dengan seenaknya mengusir sang penumpang yang sudah dari tadi menunggu bus berjalan.
“Sadis!” ucap wanita sebaya disampingku.
Aku pun mengangguk tanda setuju. Betapa kejamnya sang kenek bus ketika mengusir penumpang karena tarif yang kemahalan. Tidak salah ketika penumpang lama turun dari bus dengan mengucapkan sumpah serapahnya atas kejadian tidak enak yang mereka alami.
Semoga hal ini juga menjadi pelajaran bagi bus yang lain, mungkin lain kali mereka bisa menempelkan tarif yang akan mereka tarik dari sang calon penumpang dengan menunjukkan fasilitas yang di sediakan. Hal ini untuk mempermudah sang penumpang menimang-nimang budget yang mereka keluarkan.           
Fenomena naik  angkutan umum tidak lepas dari hal-hal yang tak terduga. Waspada, waspada dan waspada. Setidaknya ketika kita mau bepergian kemana saja pastikan informasi selalu dapat kita temukan agar tidak tersesat. Minimal kita tahu tarif yang dipasang, dan serentetan hal-hal remeh temeh yang biasa kita abaikan.
            Kepada wanita yang bepergian, setidaknya jangan berpergian sendiri. Tangan-tangan jahil, rayuan-rayuan maut kerap kita dapatkan ketika kita memutuskan bepergian sendiri. Bukannya mau bersu’udzon tapi lebih ke waspada daripada terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.
“Pak kok melaju terus?”
“Tidak turun di depan pasar Krian?” tanyaku
“Tidak Mbak. Ini bus luar kota jadi tidak ada yang turun di situ. Ya udah turun di perempatan sebrang sana!” ucap sang sopir bus.
            Semoga ini yang terakhir kalinya aku naik angkutan umum sendirian. Tak ada teman yang bisa dimintai pendapat, pun salah bus seperti ini. Malam kian larut.
“Aku di depan pasar Krian, Kamu dimana Dek?” tanya mas iparku. Tepat ketika aku turun dari bus. Berjalan sendiri ditengan sunyinya malam. Ada beberapa tukang ojek yang menawarkan diri, tapi dengan sopan kutolak.
“Alhamdulilah. Aku ada di perempatan jalan menuju arah Mojokerto Mas!” ucapku setenang mungkin. Akhirnya Alloh masih sayang padaku, mengirimkan mas ipar untuk menjemputku di malam yang sunyi ini.
TAMAT

You May Also Like

0 comments

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.