Kisah Handuk Untuk Memperingati Hari Santri

by - October 23, 2017




           Pagi adalah secuil kisah yang sangat penting. Apalagi suasana riuhnya saat antri mandi. Menjadi rutinitas harian yang wajib dilakukan oleh para santri saat pagi menjelang. Tentunya setelah menunaikan kewajiban shalat subuh, disambung dengan Bahasa-Araban. 
 


“Mba, man ba’duki? Teriakku didepan kamar mandi.

“La,!” teriaknya dari dalam. Dengan intonasi yang tak kalah keras.

“Ana, na’am?” tanyaku gembira. Bahwa jarang sekali mendapatkan moment langka untuk antri mandi. 

“na’am.” Jawabnya. Yes, batinku kegirangan. Satu keberuntungan di awal pagi, semoga membawa keberuntungan sehari ini.

            Sudah tak asing lagi, bahwa momen antri mandi adalah momen-momen yang sangat menegangkan. Kebayangkan bagaimana padatnya antrian jika dikalkulasi dengan matematika. Bahwa satu pondok putri ada kurang lebih 100 orang, dan kamar mandi yang tersedia ada 9. Bahkan ada beberapa orang yang rela nggak mandi kalau jam menunjukkan sudah mepet dengan waktu sekolah #eh

            Akibat fenomena ini, ide brilliant pun muncul. Entah siapa yang mulai terlebih dahulu menemukan metode ini. Metode ini efektif untuk para santriwati yang rajin. Menandai kamar mandi dengan handuk. Secara otomatis, seseorang yang akan memakai kamar mandi ini harus mendapat izin dari si empunya handuk. Kalau tidak, ia akan menyalahi aturan.   

            Kalau dipikir secara logika, tidak ada logis-logisnya. Coba bayangkan, hanya dengan sebuah handuk. Ia bisa menjadi semacam alat mematikan untuk para santri yang ingin mandi. Tapi lagi-lagi, kelogisan itu tidak berbanding lurus dengan kenyataan. Dan aku banyak terbantu dengan ‘alat’ ini. secara aku orang yang paling males antri mandi terlalu lama. Hanya dengan meletakkan satu handuk, done. Bisa disambi dengan makan terlebih dahulu, menyemir sepatu biar mengkilat, pun bisa disambi dengan mencuci pakaian terlebih dahulu. Lucky me!

“Mbak, aku mandi dulu ya?” Seorang adik kelas mengaggetkanku, saat mulutku masih penuh oleh tahu-tempe dan sesuap nasi. Anggukanlah yang bisa aku berikan sebagai tanda persetujuan. lain lagi jika ingin antri.

 “Aku habis kamu aja dech, Mbak,” oh habis aku si A. “oh.” Lalu samperin lah si A. katanya si A, habis dia si B, C, D hingga lengkaplah satu kamar itu. inilah kejelekan si handuk itu. bahwa hanya dengan satu handuk, bisa dibuat untuk antrian panjang mengular. Bagaimana dengan handukmu? Bisa dicoba dech untuk mengatasi antrian yang panjang heheheheh
***

            Tulisan ini untuk memperingati hari santri yang jatuh pada tanggal 22 Oktober. Saya pernah menyandang status sebagai santri, bahkan sampai saat ini saya masih ingat lika-liku kehidupan di pesantren. Kehidupan yang tidak mudah, tapi penuh berkah. Kehidupan yang sarat pembelajaran yang bahkan tidak diajarkan di bangku sekolah maupun kuliah. Saya bersyukur bisa merasakan manis-pahitnya kehidupan pesantren, serasa ingin kembali ke masa-masa itu. menikmati antrian mandi, hukuman bahasa, ro’an, bahasa-araban, mukhadhoroh, dan kegiatan lainnya.

            Teruntuk para asatid dan asatidzah, pengasuh pondok pesantren PPMRU semoga jasa-jasa beliau dibalas oleh Alloh dengan sebaik-baik balasan. Diberi kelapangan rizki dan kehidupan yang bahagia dunia-akhirat. *Salam takjim dari saya peribadi*   

NB: Foto reuni tahun 2013 di kediaman Anis Sulis tyarini. semoga kelak bisa bertegur sapa lagi dengan teman-teman seperjuangan. *amin* 

#santri_NU

#Bersarung&bersandalJepit

You May Also Like

2 comments

  1. Saya belum pernah nyantri. Tapi keturunan saya inshaAllah nanti bakal jadi santri :) selamat hari santri yah!

    ReplyDelete

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.