Melatih Bayi Bicara? Lakukan 8 Tips Ini

by - October 27, 2017




            Diusia Labib yang mendekati 2 tahun, saya harap-harap cemas karena perbendaharaan katanya sangat minim. Meski ia tergolong ceriwis, tapi bicaranya masih belum lancar. Ia berbicara apa saja tapi belum jelas. Untungnya emaknya punya feeling yang kuat tentang keinginanya. Tapi sampai kapan kamu berbiacar bahasa kalbu, nak? Hehehhe

            Tapi satu yang membuat saya masih optimis, bahwa saat mengikuti seminar parenting bulan lalu. Sebuah pencerahan saya dapatkan dari seorang ahli tumbuh kembang anak. “Anak lelaki memang pertumbuhannya lambat dibandingkan anak perempuan. Coba tengok anak SD siapakah yang banyak menjadi juara kelas? Laki apa perempuan? Dan kita semua menyadari bahwa kebanyakan anak perempuan unggul di awal pertumbuhannya. Tapi bukan berarti anak lelaki mengalami keterlambatan (delayed). Bertambanya usia, kecepatan berfikirnya pun akan bertambah juga. Beda halnya dengan perempuan. Jadi keep calm ya buibu.” Kurang lebih begitulah yang dr. wawan sampaikan. 

            Kalau dipikir-pikir emang ada benarnya, lihat ke-diri sendiri bahwa diusia belum genap 30 tahun ini jika disuruh mengambil kuliah lanjutan Matematika, maka saya akan berfikir ulang. Sanggupkah saya? Tapi saya berkeinginan kuliah lagi tapi bukan Matematika, melainkan psikologi dan sejenisnya. Membersamai Labib sehari-hari membuat saya tersadar bahwa penting bagi Ibu untuk mengetahui psikologis anak. Kemampuan/ bakatnya dan hal-hal yang bisa mendorong ia untuk mengeksplore minatnya. Beda lagi dengan paksu yang sangat antusias dan bersungguh-sungguh dalam studi S3nya. 

            Itulah kenapa wanita idealnya memiliki suami yang usianya terpaut beberapa tahun dengannya. Jadi kalau diibaratkan kurva, wanita itu cenderung menurun, dan pria malah kebalikannya cenderung naik. Setuju kan, emak? Hahahah tapi jangan dipercaya seutuhnya. Ini berdasarkan pengamatan kecil-kecilan dari FTM (Full Time Mom). 

            Jadi untuk melatih Labib bicara, sehari-harinya  saya hanya berusaha berkomunikasi sesering mungkin. Tak ada target apapun. Karena tumbuh-kembang setiap anak berbeda, ada yang samaan emak dengan saya? Dan ini hasil baca-baca saya di buku 200 Tips Ibu Smart, Anak Sehat terbitan Pustaka Anggrek. Karena lagi-lagi menulis adalah mengingatkan diri, maka saya tuliskan beberapa cara yang saya terapkan ke Labib sesuai dari buku yang saya baca. Here we go: 

1.      Ajak si kecil berbicara sesering mungkin. Ini juga saya terapkan ke Labib. Makanya dia paham apa yang saya bicarakan, tetapi masih belum mampu/ belum mau menanggapinya. 

2.      Berbicara dengan suara yang lembut. Saya belajar keras untuk tak terpancing emosi saat ia melakukan hal-hal yang saya tidak sukai *dan itu berat sekali* 

3.      Memilih kalimat sederhana. Seperti mama, ayah, mbah, maem dll 

4.      Mengajukan pertanyaan yang memancing jawaban lebih dari suku kata. Ini juga kerap saya lakukan, terus –menerus. 

5.      Beri perhatian pada saat bayi mengoceh. Tatap matanya, dan berekspresi seolah kita tahu apa yang sedang ia ucapkan. 

6.      Kenalkan bayi pada dirinya sendiri. Ini pun Labib sudah paham, “mana hidung?” dan ia akan langsung menunjuk hidung mancungnya. :p 

7.      Putarkan lagu anak-anak sambil turut bernyayi. Dan saat ini Labib suka mengulang-ngulang lagu ‘kereta api’hehehhe btentunya dengan bahasanya sendiri. 

8.      Membacakan buku cerita. Kini ia sudah bisa memngungkapin caranya ia memilih buku. Ia buka lemari, lalu mengambil buku hallo balita sesuka dia. Buka-buka sendiri dan tunjuk-tunjuk sendiri. Ya Alloh, Nak. Ibu speechless. 

Intinya adalah bagaimana lingkungannya memberi banyak stimulus untuknya agar ia cepat berbicara. So, jangan patah semangat ya emak(s) Yuk saling bergandeng tangan.   

You May Also Like

3 comments

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.