My Breastfeeding Journey (1)

by - October 03, 2017




            Sudah lama saya ingin menuangkan first experience dalam menyusui ini. ada banyak suka dukanyany. Tapi lebih banyak senengnya. Saat si bayek Labib itu sedang tantrum, maka obat penawar yang paling ampuh adalah nenennya. Saat kantuk belum juga membuatnya terlelap, maka nenennyalah yang membuatnya berselancar di alam mimpi. Dan masih banyak yang dilakukan sang nenen dalam menemani tumbuh-kembang si anak. Khususnya dalam memenuhi kebutuhan nutrisi, minimal 6 bulan pertama. 


            Ada yang saya sesalkan karena Labib tidak ASI ekslusif sejak lahir. Saat pertama kali tangis itu pecah, dot sudah terlebih dahulu menamaninya. Tapi untungnya dot itu tidak berlangsung lama. (Baca ceritanya disini ya). Setelah berhasil bercerai dari dot, cobaan lain datang. Setelah genap 40 hari usianya, sang nenek menyarankan untuk memberinya makanan berupa pisang. Argh sepertinya sia-sia perjuanganku melahap habis semua buku per-ASI-an. Lenyap sudah usahaku dalam menceraikannya dengan sufor waktu itu. Ada sedih yang menggunung dipelupuk mata. Pun saya tidak bisa banyak berbuat. Karena satu dan lain hal. Salah satunya adalah keikutsertaan nenenk dalam pengasuhan. Saya sangat berterima kasih kepada beliau yang telah merawat kami selama ini. dengan kesabarannya, dengan telatennya. Saya merasa seperti menemukan ibu kedua, setelah ibu kandung. 

            Oleh karenanya, pintanya tak mungkin kutolak. Setelah makan pisang pun rewelnya juga belum sembuh. Tiap hari ia selalu minta digendong almost 24 jam. Itulah yang membuat sang nenek (ibu mertua) menyarankan untuk memberinya pisang. Tak banyak, sehari 2x. Pagi dan sore. Makanan bergizi yang benama sawi pun tak pernah absen dari menu makanan sang ibu. Karena sawi adalah juga sebagai ASI BOOSTER. Lengkap dengan jamu/botol tiap hari. makanya jangan salahin istrimu ya kalau pertumbuhannya kini melebar kekanan dan kekiri *kedipin paksu*

            Makan pisang itu sampai ia berusia 6 bulan setelahnya sudah kuganti dengan bubur dan nasi tim. Tapi anehnya ASI saya tidak pernah merembes keluar seperti ibu-ibu kebanyakan, apakah stok ASI saya kurang? Itu sempat menjadi pertanyaan besar bagi saya sampai sekarang. Sampai Labib saya sodorin dot lagi, takutnya gizinya belum mencukupi. Tapi dianya nggak mau. Tetap setia dengan nenenya. *yeay*

            Sempat juga googling bagaiamanakah sebenarnya ASI itu. Dan kudapatkan bahwa PD saya itu bisa dikatakan besar, insyalloh bisa menampung ASI yang terus-menerus disedot si bayek lanang meski tidak sampai merembes ke pakaian. Semoga bisa lulus S3 ASI ya, le? *kiss* 

#ODOPOKT3
#BloggerMuslimahIndonesia

You May Also Like

4 comments

  1. Memang beda2 kondisi asi setiap perempuan, mba.

    Semoga Labib sehat terus dan tambah pintar yah

    ReplyDelete
  2. amiin, makasih mba sudah berkunjung ^^

    ReplyDelete
  3. Semoga sehat selalu ya Labib dan sukses ASInya...Semangat ya Ummi:)

    ReplyDelete

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.