Selamat Hari Blogger Emak(s)

by - October 28, 2017




Alkisah saat tuk terakhir kalinya bertemu, 3 dara cantik ini berpesan “Barang  siapa yang memiliki banyak manfaat setelah perjalanan pendidikan kita selama ini di kampus tercinta, maka ia layak menyandang predikat the queen. “ dan mereka pun menyetujuinya. 

            Dengan title di depan nama mereka (dr) maka tak sulit tuk mendapatkan pekerjaan. Bukankah profesi dokter memang strata atas? Setelah melewati graduation day masing-masing dara itu melanjutkan takdir yang harus mereka jalani. Sebutlah si A, si B dan si C. si A dengan jabatan yang dimiliki orang tuanya, maka mudah baginya menjadi dokter di sebuah Rumah sakit ternama. Namanya melambung tinggi, tak sedikit orang yang berdecak kagum atas kecantikan dan kepintarannya dalam menangani pasien-pasiennya. Selalu diidolakan oleh staff rumah sakit karena prestasinya yang segudang.
            Lain dengan si B. atas jeritan hati, ia merantau ke pelosok Negeri. Menyambangi gubuk-gubuk kecil nan reot. Memberi pengobatan gratis karena keterbatasan alat medis. Jiwanya mulia sekali. Dokter seperti inilah yang dirindukan Negeri antah berantah ini. Bahwa hidup adalah sebanyak-banyaknya memberi, bukan sebanyak-banyaknya menerima. Kecantikan wajah terpancar dari cantiknya hati sang empunya. Hingga ia memutuskan untuk tetap tinggal di pulau terpencil ini. mengambil resiko yang penuh tangis dan air mata. Ia harus rela berdebat panjang dengan orang tuanya akibat keputusan yang ia ambil. Dan akhirnya ia pun menjalani kehidupan yang tidak mudah disana, tapi hatinya lapang seluas lautan yang mengelilingi.
            Selang sehari setelah ceremonial wisuda, si C dipersunting oleh lelaki yang baik imannya. Sopan tindak – tanduknya, dan tak butuh waktu lama mereka mengikat janji suci. Impian tuk memakai jas warna putih, dengan wedges warna hitam harus berkali-kali ia pendam. Karena ia harus mendampingi suami merawat ibu mertua yang sakit-sakitan. Berbagai upaya medis dan herbal mereka lakukan. Mau tak mau, si C-lah yang harus berbesar hati, menunda bahkan bisa jadi tidak lagi bisa menyematkan kata dokter di depan namanya. Penyakit yang langka itu hampir tidak ditemukan obatnya. Yang bisa mereka lakukan adalah memperlambat menjalarnya virus ke tubuh ibu mertua. Maka hari-hari si C lah yang bertugas merawa dan menyediakan keperluan sang ibu mertua.  
            10 tahun berlalu, dan ketiga wanita yang tidak muda lagi itu berjumpa dalam perhelatan acara reuni kampus. Banyak sekali yang ingin mereka ceritakan setelah janji 10 tahun silam. Janji itu masih diingat bahwa aka nada yang menjadi queen diantara mereka. Predikat queen ini disematkan bagi ia yang sangat berjasa di kehidupan masyarakat. Bukankah tugas dokter adalah sebagai pelayan masyarakat? Si A sudah optimis, dengan nama besar Rumah sakit yang menjadi tempatnya bekerja sudah malang-melintang masuk televise. Ia yakin bahwa, ia yang akan dinobatkan menjadi the queen. Pun sama halnya dengan si B. ia rela meninggalkan tanah kelahirannya, menolong orang-orang dipelosok yang minim peralatan dan tenaga medis. Ia yakin pengorbanannya selama ini terbayar dengan predikat queen yang bakalan ia sandang.
            Berbeda halnya dengan si C. wanita ini hanya diam seribu bahasa. Ia minder diantara 2 teman hebatnya yang diperbincangkan hampir mahasiswa kedokteran. Nama kedua temannya dielu-elukan oleh sang rector sebagai alumni hebat, alumni yang pantas menjadi teladan.
“Jadi siapa nech yang bakalan jadi the queen?” tanya si A.
“Ya jelas saya-lah. Karena saya telah menolong banyak orang dipelosok negri ini yang boleh dikatakan kehidupan mereka tidak layak. Bukankah saya telah menolong banyak orang?” jawab si B.
“Saya pun demikian, saya telah menyelatkan banyak nyawa di rumha sakit yang saya tempati. Pun gegara saya, Rumah sakit itu mendapatkan penghargaan. “ si A pun tak mau kalah.
“Hmm … tapi saya banyak tercerahkan dari tulisan-tulisan si C yang dia tulis di laman web nya. Saya banyak tercerahkan dari tps dan triknya dalam merawat ibu mertuanya. Karena banyak sekali pasien saya di pelosok sana yang menderita penyakit yang belum ada obatnya itu. “kenang si B.
“Iya saya un setuju. Setiap ada masalah yang berkaitan dengan profesi kita ini, tulisan C lah yang menguatkan sekaligus menginspirasi saya untuk berbuat lebih baik lagi.” Si A pun menimpali.
            Entah apa yang dirasakan si C, tadinya perasaan minder dengan kedua temannya ini perlahan hilang. Senyap bersamaan dengan tiupan angis sepoin di sore yang cerah ini. tangisnya pun pecah saat mereka berangkulan. Bukan karena predikat queen yang C dapatkan, melainkan apresiasi yang tinggi atas tulisan-tulisan yang menajadi tempatnya berbagi.
***
            Saya lupa tepatmya dimana menemukan kisah itu *colek me ya, kalau tahu penulisnya. Segera saya tambahi sang penulis*, saya tersadarkan bahwa masih banyak cara kita tuk berbagi. Dan ngeblog adalah salah satunya. Tulisan yang menginspirasi, tips dan trick jitu adalah sekelumit hal yang bisa kita bagi bagi pembaca. Dengan kedahsyatan teknologi seperti sekarang ini, maka hanya butuh hitungan detik tuk mendapatka informasi yang kita inginkan.
            Dengan memperingati hari Blogger tanggal 27 oktober 2017 ini, yuk semarakkan semangat berbagi. Sah-sah saja kalau menjadikan blog sebagai pundi rupiah, pun saya kadang tergiur karenanya. Tapi lagi-lagi, saat lomba demi lomba yang saya ikuti berhenti sampai pada nama peserta tak sekali dua kali saya down. Kenapa nggak masuk sich padahal blab la blab la.tapi lagi-lagi akhirnya saya kembali lagi. Menulis lagi. Entah menang lomba atau enggak, entah ada pembaca atau tidak, semoga niat saya tuk berbagi makin kenceng. Semoga kelak saat anak-anak saya dewasa, mereka bisa menapak tilas perjalanan ibunya dahulu kala. Bahwa setiap langkah perjalanan ini layak diabadikan dalam sebuah aksara. Pun sebagai jariyah saat hari pembalasan.    
            Lagi-lagi selamat Hari Blogger, bersosmed yang baik salah satunya dengan posting sesuatu yang bermanfaat. Mungkin bagi kita, it’s usual. Tapi diluar sana, banyak orang terbantu atas tulisan dan pengalaman kita yang kita share ke public. Go go go, semangat posting go!

You May Also Like

2 comments

  1. Selamat hari blogger (maaf telat).
    Yang penting adalah kembali ketujuan awal, kita ingin menulis, kita ingin berbagi. Makan menulislah. Tak perlu pikirkan akan menang lomba atau sebagainya (eh kepikiran sih pastinya dikit-dikit), tapi sejelan waktu kalau kita rajin menulis, insya Allah pasti akan ada nama kita di daftar pemenang lomba. aamiin.

    ReplyDelete
  2. Setuju, Mbak, semoga bisa menjadi penambah amal jariyah kita...

    ReplyDelete

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.