Terbul Mini di Benteng-Mojokerto

by - October 26, 2017



     

       Tidak direncakan awalnya. Karena paksu ngajakin ke pacet, tuk ketemu teman lama yang ngajar di Amanantul Ummah. Tetiba dapat kabar bahwa sang teman ada rapat mendadak dan pulangnya malam. Karena sudah berdandan rapi, plus sudha siap keluar. Akhirnya saya memutuskan ke Mojokerto. Ngambil charger di rumah teman yang ketinggalan. Setelah janjian di taman benteng, sambil momong bocah naik mobil mini terbesit keinginan tuk ketemu teman lawas pas di PPMRU dulu. Ia membantu temannya jualan terbul mini di depan indomaret benteng. 

            Tanpa ada rencana, tetiba muncul di depan mata itu sempat membuatnya ‘kaget’. Bisa dibilang reuni kecil-kecilan lah ya. Bernostalgia barang semenit-dua menit. Bertanya kabar si A, B dan kegiatan lainnya. Basa-basi yang semoga tidak basi. Karena sejak saya hamil dan melahirkan Labib, saya orang yang paling pendiam saat diajakin reunion. Maklumlah ya rempong ma anak. Dan belum tentu paksu mau nganterin jika memang ada reuni. Padahal dulu saat masih lajang, saya adalah orang no satu yang berkoar-koar tuk merapatkan barisan. Bertegur sapa. Mengenang masa lalu yang terlalu indah tuk dilupakan #eaaa.

            Nama sosmednya paman dom. Entah apa filosofinya, mungkin ia terinspirasi oleh dominic di serial to fast to furius. Kini kegiatannya sehari-hari adalah jualan terbul mini. Dan hore, aku digratisin 2 pack *makasih paman dom*. Camilian kekinian yang ramah dikantong. Haragnya pun hanya 5k/pack. Satu packnya berisi 2 terbul mini. Pun rasanya bervariasi. Ada banyak pilihan. Dibandingkan dengan yang besar/ standart kelebihan terbul mini adalah bentuknya yang mungil, dan bisa merasakan varian rasa. Dari yang mulai selai warna-warni. Coklat-keju, kacang-keju dan masih banyak lagi yang lainnya. 

            Rasanya empuk, pas dilidah. Dari angka 1-10, 8 lah ya nilainya. Karena pernah juga merasakan terbul yang sama tapi beda tempat. Rasanya kurang matang, jadi eneg dilidah. Meski begitu, habis juga wkwkkwkw. Entahlah kalau dengan makanan yang dianggurin gitu, saya merasa sedih. Teringat kata ibu saya, “Dilarang menyia-nyiakan makanan, karena kelak ia yang akan menyia-nyiakan kita.” Lha maksudnya bagaimana? Entahlah, pun sampai saat ini saya masih meragukan kebenarannya heheheh. Tapi yang pasti islam menganjurkan tuk tidak membuang makanan, apalagi dianggurin. Mubazir. Makanya tidak salah kalau imbangan selalu bergerak ke kanan *tutup muka*.  

            Berhubung paksu dan si bayek hanya toel-toel aja ke terbul mini ini, maka bisa diprediksi siapa yang bakalan habisin si terbul ini? *senyum sinis* wkwkwkkw. Awalnya sich, sayang gitu kenapa nasibnya setragis ini. mana tampilannay memanjakan mata lagi. Huhuhu maaf ya terbil mini, nasibmu harus berakhir di perut yang selalu lapar ini hahahaha. Daripada diembat semut, mending tak habisin sekalian. Filosofi yang tidak berkeprijajanan. Itulah kenapa saya enggan sekali jajan kekinian. Karena setelah melahapnya, ada sesal yang membuncah. Ada sesal yang membuatnya hilang berubah bentuk, lalu tergolek manja di kamar mandi *huhuhuhu* 

            Bagi emak yang suka jajan dan domisili Mojokerto wajib merasakan terbul mini ini. selain tampilannya yang unch, juga tidak membuat kantong bolong *penting*. Atau kalian yang mengaku enterpreuner sejati, yuk majukan UKM dengan cara mengajak keluarga, sanak-saudara tuk berbondong-bondong jajan kekinian di Terbul ini. kalau bukan kita saudara ssama muslim, lantas siapa? Kalau bukan saat ini, lantas kapan?     

You May Also Like

2 comments

  1. Selalu suka terbul mini..karena dengan kecil ukurannya jadi bisa nambah ambil rasa lainnya ..hahaha
    Btw, itu murah, Mbak..di Jakarta satu lima ribu :D

    ReplyDelete
  2. mba Dian asli jakarta kah? iyaa mba bikin nagih, satu aja nggak cukup kalau lihat varian warnanya *lalu dadah gud bye ke timbangan* wkwkwkkw

    ReplyDelete

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.