Tulis Jurnal Syukur, Yuk!

by - October 13, 2017


            Alhamdulilah saya bahagia. Saya sehat. Saya berlimpah berkah. Saya bisa mendampingi anak dan suami 24 jam. Saya bisa meihat ibu dan bapak mertua dalam keadaan sehat. Saya bisa menulis, menyalurkan passion saya di dunia ini. Alhamdulilah saya diberi keluarga yang taat beragama. Alhamdulilah saya diberi suami yang sabar. Alhamdulilah saya diberi kesempatan untuk menyalurkan hobi dan minat disela-sela saya mengasuh Labib. Alhamdulilah saya diberi kesempatan untuk jualan buku online. Alhamdulilah saya diberi kesempatan menghirup oksigen yang masih gratis, bayangkan kalau untuk menghirup saja harus membayar, berapa juta dollar yang harus saya bayar kepada-Nya? Alhamdulilah saya BAHAGIA“


            Beberapa hari kemarin saya mengalami kejadian yang tidak menyenangkan menurut saya. Berkali-kali saya istighfar, minta petunjuk, minta pertolongan, dan memohon kelapangan hati agar senantiasa berpositif thingking dengan semua kejadian yang saya alami. Kejadian yang sama berulang-ulang. Kejadian yang membuat saya ingin ‘kabur’. Menyendiri sejenak dalam gegap-gempita gejolak jiwa yang semakin terkikis. Bukankah up and down itu biasa? Tapi percayalah praktek tak semudah teori. 

“Setelah ini keberuntungan apa ya yang akan saya alami?” ucapan seperti itu selalu terngiang saat mengalami down seperti sekarang ini. entah sugesti atau mencoba menghibur diri. Tapi yang selalu saya tanamkan adalah inna ma’al usri yusro. Setiap kesukaran maka akan datang kemudahan. Bahkan paksu pun berkata bahwa kata ma’al yang berarti bersama, itu tidak lain adalah sepaket. Jadi jangan kahawatir. Akan ada berita bahagia setelahnya. Just wait the moment. Maka saya selalu tanamkan pada diri, yuk bahagia karena setelah ini kamu akan naik kelas. Entah kesabarannya, entah kelapangannya, entah gajinya #eh belanjanya maksudnya hehehhe.

            Dan hari ini saya menemukan jawabannya. Kegalauan saya, depresi saya kemarin-kemarin adalah sebagai bentuk kurangnya saya bersyukur. Padahal saya sudah mendapatkan resep bahagia dari tahun kemarin dan itu ampuh untuk mengembalikan rasa percaya diri saya. Ampuh untuk kembali lagi menjadi IRT yang bahagia APAPUN KONDISINYA.

            Dan malam ini saya akan merutinkan lagi menulis jurnal syukur seperti tertera diatas. Menulis sebanyak-banyaknya berkah yang menyelimuti diri ini. dan hempaskan semua ke-bapera-an selama ini. saya menulis lagi jurnal syukur agar semakin bersyukur atas apa yang terjadi selama ini. tentunya kejadian ini pun atas takdir-Nya. Dan itulah tanda cinta-Nya. Agar saya semakin sering bersyukur, semakin sering mengingat-Nya, selalu berpositif thingking. Lagi-lagi praktek tak semudah teori. Asal kita mau berusaha, mau melangkah, insyalloh ada perubahan setelahnya.

            Percaya atau tidak, setelah melalukan relaksasi dengan berdoa didepan air minum lalu meminumnya sambil berucap syukur. Entah kenapa hati merasa PLONG. Pikiran tercerahkan lagi. Senyum kembali terkembang, tidak seperti kemarin. Kemarin rasanya saya menjadi lebih tua karena bermuka masam wkwkwkwk. Wajah terlihat tua karena makin terlihat keriput yang membanjiri.

            Hayo siapa disini yang merasa tidak bahagia, merasa hidup tidak adil, merasa Alloh makin menjauh, merasa  sendiri, dan perasaan negatif lainnya. Coba cek rasa syukur kita? udah berlebih atau makin terkikis? Yuk tulis jurnal syukur kita. boleh ditulis di note book, di laptop, atau note hape. Resapi betapa nikmat Alloh itu buwanyakkk banget. Dan sadarilah bahwa rasa syukur itu terkikis atas ego kita. perbanyak syukur, insyalloh nikmat akan semakin bertabur. Bukankah itu janji-Nya? Mungkin sekali-dua kali belum terasa,lakukan setiap hari dan lihat perbedaanya. ^^


You May Also Like

4 comments

  1. Bener bun, di saat hati kita mulai lelah dan lebih banyak kita mengeluhnya. Di saat itulah kita harus berhenti sebenter dan kembali merenunh ttg smua kebaikanNya yang Ia berikan utk kita. Lalu dari sanalah kita akan berkata "nikmatNya yang mana lagikah yang bisa kita dustakan?. Rasanya malu dan itu smua mmbuat kita lbh kuat dlm menghdapi stiap ujian kita 😃

    ReplyDelete
  2. sayaa juga mba entah kenapa semenjak punya anak rasanya lebih mudah stres mungkin karena kecapean yaa, tapi saya belum pernah menulis jurnal syukur. baiklah saya coba deh, thanks for sharing^^

    ReplyDelete

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.