Aliran Rasa Game Level 1

by - November 20, 2017


            November menjadi catatan baru di blog saya, bahwa untuk satu tahun kedepan saya akan memasuki kuliah bunda sayang. Dan November ini menjadi bulan pertama dimulainya tantangan baru demi menjadi seorang ibu professional. Karena menjadi ibu dituntut professional dimanapun ia berpijak. Entah di ranah public (ibu pekerja) maupun di ranah domestic (IRT).


            Bulan pertama ini dimulai dengan menjalani tantangan komunikasi produktif entah dengan pasangan atau anak. Sebelum saya menjabarkan tantangan 10 hari, saya berikan resume tentang komunikasi produktif ini. saya catat khusus di buku note dan saya buat mind map nya. kenapa mind map? Karena saya ingin menerapkan isi buku yang baru saya beli. Bahwa otak akan lebih mudah menyerap sesuatu yang menarik. Gambar dan warna adalah 2 hal yang cepat diserap otak. mau review bukunya? coba lihat disini


RESUME KOMUNIKASI PRODUKTIF
Komunikasi produktif dalam sekala kecil (keluarga) bisa dilakukan dengan terlebih dahulu membentuk family forum. Family forum ini harus melibatkan semua anggota keluarga (suami dan anak). Dan tentukan visi-misi keluarga yang ingin dicapai. Kalau sudah terbentuk, kini saatnya melakukan komunikasi produktif baik dengan suami maupun anak. Pun langkah-langkahnya berbeda.
Komunikasi produktif dengan anak:
1.      Menegendalikan emosi
2.      KISS (keep it short and simple) atau gunakan kalimat tunggal.
3.      Intonasi dan suara yang ramah
4.      Mengatakan yang diinginkan
5.      Focus pada masa depan
6.      Bisa
7.      Jelas memberikan pujian/ kritikan
8.      Refleksi pengalaman
9.      Menunjukkan empati
10.  Observasi
11.  Member pilihan
12.  Minimalisir kata ‘Jangan’

Komunikasi produktif dengan orang dewasa:
1.      Clear & clarifiy
2.      Choose the right time
3.      Kaidah 7-33-55 artinya 7% kalimat verbal, 33% intonasi, 55% bahasa tubuh.
4.      Intensity of eye contac
5.      Iam responsibility of my communication

Setelah mendapatkan pelajaran bagaiamana komunikasi yang produktif dengan anak maupun dengan pasangan, kini saatnya memulai tantangan 10 hari. Setiap hari minimal ada satu poin yang di highlight agar kita bisa mengamati dan menceritakan perubahan apa yang terjadi setelah berbagai poin kita terapkan ke objek. Usahakan objeknya satu saja. Biar terlihat perubahan yang terjadi dan focus. Seharusnya laporannya di blog khusus dan dibuatkan label sendiri. Karena saya merasa kurang maksimal kalau langsung blog, maka media yang saya gunakan adalah facebook.

***
TANTANGAN 10 HARI

#Day1
Labib yang mau memasuki usia 2 tahun, kerap sekali menunjukkan ekspresi marahnya. Kalau dalam ilmu parenting disebut 'Terrible Two' yaitu fase normal yang terjadi pada setiap anak yg menginjak usia 2 tahun. Tiada hari tanpa menangis akibat dari permintaanya tidak dituruti. Seperti siang tadi. Ia mengeluarkan semua mainanya ke lantai, lalu membalik keranjang mainan dan digunakan tuk manjat meja. Agar tubuhnya makin tinggi dan mengmbil barang diatas meja * duh nak, siapa yg mengajari kamu kayak gini? kok tahu kalau keranjang bisa buat kamu lebih tinggi, lalu ia mengambil bedak yg biasanya saya gunakan setelah memandikannya. Nah pada saat inilah saya yg tadinya memperhatikan, seketika meminta dan mengambilnya. Menaruh bedak ketempat lain. Ia tahu apa yg saya lakukan, dan tangisnya makin menjadi. Tak bujuk kasih mainan lain, ditolak dan makin keras tangisannya.
Saat masih berusaha mengalihkan perhatiannya. Mbah kungnya datang. Dan menggendongnya. Saya berusaha tuk menahan emosi. Agar tiada keluar letupan emosi yg setiap saat bisa keluar. Karena saya pun tahu bahwa makian, bentakan adalah suatu perbuatan yg bisa mengikis mental anak. Tidak mudah memang, tapi saya berusaha tuk menjadi ibu yg lebih baik dimulai dari komunikasi produktif, salah satunya adalah menahan emosi. Semangat berubah.

#day2
Pagi ini saya mengajari Labib ngulek garam. Kegiatan yg baru ia lakukan. Saat saya kasih contoh, ia tak sabaran tuk mencoba. Seperti anak yg lainnya diusia yg sama. Ia mau dianggap dewasa dan bisa melakukan apa yang orang dewasa lakukan. Setelah mencoba dan dia kurang excited, saya akhirnya ember pilihan “mau mainan yang mana, Nak?” dan dia nunjuk ember yang penuh dengan air.
Ternyata air adalah mainan favoritenya. Dia akan betah berlama-lama bersama air. Menuangkannya ke botol, lalu dibuang. Ambil botol yg lain, dan gitu aja terus sampai seember air habis. Anak memang unik, mereka punya insting sendiri tuk melakukan apa yg mereka sukai, BUKAN yang kita sukai.
 Pun dalam materi komunikasi produktif dijelaskan bagaimana ember pilihan ke anak yg usianya diatas satu tahun. Karena mereka udah tahu apa yg mereka inginkan. Semakin banyak pengalaman yg mereka dapatkan, maka mereka akan semakin kaya informasi. Bukankah anak memang memerlukan banyaknya pengalaman bukan mainan?*kaca mana kaca*
                                                             ***
            Sebagian tantangan yang saya ambil di status facebook saya. Melakukan komunikasi produktif ini bagi saya adalah cara saya berhati-hati dalam berbicara. Semua pasti tahu bahwa emak itu identik dengan omelan. Nah melalui komunikasi produktif ini diharapkan labeling itu sedikit demi sedikit memudar. Toh kalau kita sendiri yang diomeli terus-terusan akan jenuh juga. Pun sama dengan anak, mereka lambat-laun akan kehilangan respect kepada kita karena ‘omelan’ tadi. Saya bersyukur telah bertemu dengan fasilitator dan ibu- dan calon ibu hebat dalam komunitas ini. berbagai energy positif bertebaran dalam kulwap setaip harinya. Entah pengalaman hidup yang bisa diambil pelajarannya, atau buku-buku recommended dalam membersamai anak.

            Apakah semuanya berjalan mulus setiap harinya? Tentu saja tidak. Ada saat-saat dimana saya harus berkali-kali beristighfar agar diberi kesabaran yang tiada terkira. Seperti tantangan hari kedua. Saya siapkan peralatan mengulek dengan terlebih dahulu browsing ala montesourian, eh si Labib dengan entengnya kabur alias melarikan diri. Namanya juga anak-anak, mereka akan jujur apa yang dia sukai apa yang tidak. Serta hari ke-lima. Labib tiba-tiba demam. Jadi permainan yang saya siapkan totally unused. Jadi komprod pun seadanya. Ia demam mulai tanggal 5 sampai tanggal 12. Jadi separoh komprod yang kami jalani adalah saat ia dalam keadaan sakit, pucat dan lemas. Saya berusaha maksimal untuk melakukan tantangan 10 hari itu, dengan hanya menceritakan ekspresinya.

            Pun kendala terbesarnya bagi saya adalah karena Labib masih belum lancar berbicaranya. Oleh karenanya saya rasa, perubahan yang terjadi belum signifikan. Saya hanya meraba-meraba dan mengira apa yang ia tangkap dari semua tantangan 10 hari itu melalui ekspresi dan mimik wajah serta gesture tubuh. serta ocehan-ocehan yang belum bisa diartikan.

            Meski dengan kemampuan berbicara Labib yang belum maksimal, saya yakin sedikit-banyaknya ia mengerti apa yang saya sampaikan. Bukankah anak adalah peniru ulung? Meski ia tidak bisa menanggapi, setidaknya ia mendengar ibunya berbicara. Semoga komunikasi produktif ini akan senantiasa kami lakukan untuk kedepannya. Terima kasih IIP, terima kasih fasil yang senantiasa menggiring kami menjadi ibu professional.   Semoga menjadi ladang jariyah, amin.

#aliranrasa
#gamelevel1
#kuliahbunsayiip
#komunikasiproduktif 

You May Also Like

2 comments

  1. Selamat menjalani kuliah Bunda Sayang mba. Saya juga sedang ikutan Bunda Sayang nih, baru sampai materi 6 sekarang. Semangat lulus kuliah :)

    ReplyDelete

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.