Su-an Vs Shafa Harris

by - November 22, 2017

Photo

Su-an (Pemeran Utama film Train to Busan)
Shafa Haris (anak pasangan Faisal Harris dan Sarita Abdul)

            Kebetulan yang disengaja atau bukan saat saya mendapatkan Laptop adik saya yang berisi film. Diantaranya adalah film korea “Train To Busan”. Film lama yang baru saya tonton, hey kemana aja selama ini? wkwkwkkw. Film yang dibintangi Gong Yoo ini membuat saya tak berhenti mengeluarkan air dari mata dan hidung. Film yang mampu membuat saya begadang malam-malam hanya untuk menuntaskannya sesegera mungkin. Inilah yang menyebabkan saya menjadi penyuka drakor #eh. Film seru horror bertema bencana mayat hidup ini membuat saya flashback ke masa-masa paceklik. Masa dimana saya harus berjuang di kota metropolitan demi sebuah tuntutan akademik. Oleh karenanya tiada hari tanpa bekerja meski part time. Dan saat itu saya merasa menjadi orang paling egois seantreo bumi. Saya bersikap egois, hanya mementingkan diri sendiri. Sama halnya Gong Yoo yang hanya ingin menyelamatkan dirinya serta anaknya –Kim Su-an- saja. Tanpa memikirkan banyak orang dengan nyawa yang sama yang bisa diselamatkan.
  
Photo

          Bedanya,  Gong Yoo sadar diri bahwa menjadi egois tidak akan menyelamatkan apapun. Kesadaran yang timbul dari ucapan sang anak “Kamu Egois, mementingkan dirimu sendiri. Oleh karenanya ibu pergi meninggalkan kita.” Sedangkan saya, saya menyadarinya jauh sebelum saya bisa memperbaiki diri bersama teman-teman sekos saya. Andai waktu bisa diputar, saya ingin mengulang masa-masa itu dan ingin memperbaiki semuanya.

            Apa hubungannya dengan Shafa hariss yang pemberitaanya lagi viral dimana-mana? Su-un dan Shafa adalah sama-sama anak kecil yang masih labil. Sama-sama membenci ayahnya yang egois. Mementingkan dirinya sendiri, sedangkan ada keluarga yang senantiasa menunggunya untuk kembali meski berkali-kali disakiti apapun bentuknya. Shafa meluapkan amarahnya kepadanya yang telah merebut ayahnya. Suu-un merebut perhatian ayahnya dengan membawanya pada perjalanan panjang menuju Busan.

            Anak-anak tetaplah anak-anak dengan segala kepolosannya. Anak-anak tetaplah anak-anak dengan segala sifat baik maupun buruk yang melekat padanya. Bukankah sifat mereka adalah cerminan dari kedua orang tuanya? Saya tidak ingin membahas perilaku orang tuanya –ayahnya- yang telah melakukan perselingkuhan. Tapi saya ingin memeluk Shafa. Korban dari keegoisan orang dewasa. Diusia yang masih belasan itu harus menangung sakit hati yang bisa jadi akan membuatnya trauma dikemudian hari. Gadis remaja yang masih amat sangat memerlukan perhatian orang tuanya itu harus menanggung semua sakit yang tidak ia perbuat. Begitupun halnya dengan Suu-an, dia menjadi korban orang tuanya yang telah bercerai.  

            Menjadi orang tua memang tidak semudah membalikkan tangan. Tidak semudah teori parenting yang kian berseliweran di media social. Menjadi orang tua selalu belajar menjadi orang baik, bukan karena kita hebat melainkan ada anak yang selalu mencontoh perilaku sehari-hari kita. Apalagi kalau anak kita perempuan. Karena PEREMPUAN MUDAH MEMAFAAKAN, TAPI DIA TIDAK MUDAH MELUPAKAN. Kelak ia akan ungkit sakit-hatinya berpuluh-puluh kali sampai yang mendengarnya bosan. Mungkin itulah yang dirasakan Shafa. Ia muak dengan perilaku ayahnya, dan bosan mendengar keluhan mamanya yang seperti tak melakukan apapun meski harga dirinya diinjak-injak.

            Karena sekarang saya menjadi orang tua dan menjadi anak, maka saya sangat berhati-hati dalam berucap dan berperilaku. Serumit apapun permasalahn bapak/ ibu hadapi saat ini. Pliss jangan libatkan anak. Plis jangan egois. Meski sudah tak ada binar-binar cinta kepada pasangan, tolong lihat ada anak kecil, darah daging kita yang selalu butuh kita orang tuanya. Kalau kepada orang tuanya saja ia enggan bercerita? Kepada siapa lagi ia akan percaya? Kalau pun butuh teman curhat, maka sebisa mungkin ke teman yang bisa dipercaya, ustadz yang mumpuni agamanya atau bahkan ke psikolog. Biarlah anak-anak kita tumbuh dengan alami tuk menyongsong masa depannya. Jangan bebani mereka dengan cerita-cerita pasangan yang bahkan tidak kita temukan solusinya.


            Bedanya Su-an menyadarkan ayahnya untuk tidak egois, sedangkan Shaffa menambah masalah baru dalam permasalahan antara ayah-ibunya. Semoga anak 14 tahun itu juga bisa mendamaikan antara ayah-ibunya. Meski tidak seatap lagi, minimal menjalin komunikasi hangat lagi. Karena yang dibutuhkan baik Su-an atau Shaffa adalah perhatian penuh dari orang-tuanya. Bukankah anak adalah amanah dari-Nya? Jadi sudah kewajiban kita tuk memberinya kasih-sayang sepenuhnya. Bukankah kelak akan kita pertanggung jawabkan apa yang telah kita berikan kepada anak kita? Yuk sampingkan ego kita, demi keberlangsungan masa depan anak-anak kita.  

You May Also Like

19 comments

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.