Pages

Pages

Pages - Menu

Tuesday, January 30, 2018

Bolehkah Mama Mengeluh? Boleh Asalkan ….

Curhat ke orang yang tepat, jangan ke medsos ya!

Assalamualaikum, kita bertemu lagi dalam kolaborasi season dengan mba liefa. Namanya juga kolaborasi jadi tema yang kita angkat akan sama ya emaks. So jangan lupa lihat postingannya mba liefa ya. Pengambilan tema setiap minggunya bergonta-ganti tapi tidak lepas dari keseharian kita di rumah kok. Kali ini pengambilan tema berdasar dari keluhan saya yang mengeluh karena Labib dalam masa penyapihan. Jangan di tanya drama apa saja yang kami perankan. Pokonya menguras isi hati dan dompet #eh. Yupz betul karena apapun suansana hati kita, makanan selalu menjadi pelipur lara. Setuju aja apa setuju banget, emaks? Biar relate, baca postingan saya tentang penyapihan disini ya.


            Boleh kah mama mengeluh? Tentu saja boleh. Karena pekerjaan kita sehari-hari rentang untuk stress dan kalau sudah menumpuk dan tidak tersalurkan akan meledak-ledak seperti letusan gunung berapi. Karena kita bukan super mom atau wonder woman yang bisa stay senyum 24 jam selama seminggu. Kita berhak untuk mengeluh saat badan dan hati sudah penuh oleh tumpukan emosi. Kita boleh mengeluh saat anak balita yang kita rawat selalu tantrum yang tiada henti. Kita boleh ngeluh saat kuota internet tiba-tiba raib karena seringnya nonton drakor #eh. Itu sich kamu aja emak, yang mengkambing-hitamkan capek agar bisa nonton drakor hehehhe.


            Emak secapek apapun kita sehari-hari, usahakan untuk stay waras yak. Bahkan sah-sah saja kok untuk mengeluh ke suami atau teman-teman yang deket dengan kita. Wajar. Yang tidak wajar adalah saat kita memendam gejolak jiwa. Ibarat larva panas, kalau terus menerus mengendap dalam gunung, pasti suatu saat akan meluap juga. Banyak contoh yang bisa kita baca dan ambil hikmahnya, salah satunya adalah pemberitaan di TV yang seorang ibu tega membunuh balitanya? Memutilasinya tanpa ada sebab yang pasti? Terus siapa yang disalahkan kalau sudah seperti itu? pasti emak juga yang disalahkan. Dibilang ibu tidak becus, ibu tidak beriman dan sederetan cacian yang tiada ujung. Padahal mereka tidak tahu, beban apa yang emak pikul hingga menimbulkan stress yang berkepanjangan.
yeay, renang!

            Kita merasa bahwa hidup ini sangat menyedihkan sekali, menjalankan aktivitas hanya itu-itu saja. Kehidupan yang seolah stagnan atau bahkan mengalami kemunduran. Dahulu saat masih bekerja, kita bisa ceritakan aktivitas sehari-hari. Bertemu dengan banyak orang yang memberikan pengalaman berbeda hampir setiap hari. Tapi kini, yang kita hadapi adalah anak kita sendiri yang kadang 'menggemaskan'. Jadi sesekali boleh kok kita mengeluh asal diwaktu, orang dan tempat yang tepat. Setelah fresh dari gejolak hati, maka saatnya untuk  bergerak, pun mengeluh bukan sebuah solusi. Bergeraklah, lakukan sesuatu yang produktif, libatkan anak kita dalam kegiatan positif. Insyalloh lambat-laun keluhan itu akan mereda seiring dengan fikiran yang bergerak.  Jika emang emak mengeluh, tetapkan ini yang akan emak lakukan:

1.      Sadari bahwa emak bukan wonder woman yang bisa melakukan apa saja sendiri. Jangan menyalahkan diri sendiri terus-menerus. Syukuri setiap kejadian yang menimpa kita, karena Alloh tidak membebani suatu kaum melebihi batas kemampuannya. Kalau Allah aja yakin emak bisa melaluinya, mengapa emak ragu?

2.      Curhat terlebih dahulu ke Sang Pencipta. Kita boleh kok merendah di hadapan-Nya, karena hanya Dialah yang pantas sombong. Dahulukan ke Sang pencipta kita, sebelum ke orang lain meski suami kita.
b   

3.      Pilih orang yang tepat. Dan yang paling tepat adalah suami kita. Itulah kenapa lelaki disandingkan dengan perempuan, tidak lain adalah untuk saling melengkapi. Wanita  yang cenderung menggunakna perasaanya, akan diseimbangkan oleh lelaki dengan logikanya. Jangan malu untuk mengeluh ke suami kita ya emak. Dan jangan sekali-kali curhat ke medsos, karena tak ada untungnya. Yang ada malah jadi beban pikiran, apalagi  kalau curhatan kita jadi viral.

4.      Jangan mengeluh di depan anak. Jadilah hebat di depan anak. Biar kelak ia mencontoh ibunya. Jangan tunjukkan kelelahan kita di depannya, karena akan mengikis kepercayaan dirinya. Ia akan berpendapat bahwa penyebab semua ‘keletihan’ ibunya adalah tersebab dirinya. Dan itu tidak baik untuk perkembangannya.  

5.      Lakukan sesuatu yang membahagiakan. Bahagiakanlah diri sendiri terlebih dahulu, sebab bahagia itu menular dan akan membuat kita jauh dari stress. Karena keluarga yang harmonis, tercipta dari mama yang tersenyum manis #eaaaa

Betapa tidak mudahnya menjadi Stay at home mom, apalagi yang juga berprofesi sebagai wanita karier. Itulah kenapa surga dibawah telapak kaki IBU. Karena disanalah peluh bercucur, hati yang lembut, dan doa yang tak putus untuk keluarga terkhusus untuk buah hatinya. Yuk gali rasa empati untuk sesame kaum kita, gali rasa empati untuk tidak mengesampingkan Stay at home mom.