Family Strategic Planning By: Bu Septi Peni wulandari & Pak Dodik

by - January 12, 2018


            Sejak tergabung menjadi bagian keluarga Institute Ibu Profesional, motivasi saya adalah meneladani bagaimana menjadi orang tua yang tak hanya baik, tapi asyique. Tak hanya memerintah, tapi juga melakukan. Dan salah satu pakar parenting yang selalu saya ikuti adalah cerita keluarga Pak Dodik dan Bu Septi (Founder dari komunitas IIP). Oleh karenanya saat ada workshop dengan mendatangkan sang founder, tak banyak berfikir untuk langsung minta izin paksu menghadiri acara yang dinanti-nanti ini. satu bulan sebelumnya saya sudah mengajukan proposal ke beliau, untuk meluangkan waktunya mengantar saya mengikuti workshop ini. karena ya itu tadi, paksu memang sangat selektif tuk member izin. Jika tidak yang sangat penting, mending di rumah main ma Labib.


            Tema yang diusung pun bukan tema acak-acak. “Famiy Strategic Planning” bagaimana membuat perencanaan dalam komunitas terkecil kita yaitu keluarga. Diawal pak dodik membukannya dengan sangat epic. Beliau mengibaratkan bahwa keluarga itu ibarat bahtera/ kapal/ what ever you named it. Jika demikian adanya pertanyaan lanjutannya adalah kemanakah bahtera itu akan berlayar? Dimanakah titik awal kita saat ini? seberapa jauh perjalanan kita? Sudah siapkah amunisi berupa bekal untuk perjalanan yang akan ditempuh? Kalau belum, yuk direncanakan sekarang ini. yuk duduk bersama-sama. Menetapkan tujuan, lalu di breakdown tahapan-tahapan apa saja yang bisa kita lakukan bersama team (keluarga) kita. Kenapa kita harus melakukannya? Kenapa nggak memmbiarkannya mengalir seperti air? Kenapa nggak? Toh hasilnya juga nggak jauh beda apa yang orang tua kita lakukan dahulu, dan terciptalah kita saat ini.


            Ali bin abi tholib menjawab pertanyaan itu, “didiklah anakmu sesuai zamannya.” Maka orang tuanyalah yang berhak 100% untuk mendidik anak kita saat ini dengan cara saat ini. bukan cara mbah-mbahnya dulu. Apalagi cara mbah-buyutnya heheheh. Maka membuat rencana/ planning adalah salah satu langkah untuk menentukan langkah selanjutnya. Keberhasilan FSP seperti yang pak dodik dan bu septi contohkan itu bisa terjadi jika keluarga dibiasakan untuk melakukan: main bareng, ngobrol bareng, dan beraktivitas bareng. Jadi untuk emak-emak yang masih bingung kayak saya, bahkan untuk memulai pembicaraan dengan paksu pun masih bingung *tutup muka*, yuk mulai dengan tiga hal ini: main bareng, ngobrol bareng, beraktivitas bareng. Jika kedekatan itu sudah terjalin, maka akan lebih mudah untuk memulai merencanakan planning keluarga.

            Adapun langkah membuat FSP adalah sebagai berikut:
1.      Tentukan nama keluarga     : ini fleksibel, tergantung kesepakatan bersama. biasanya kebanyakan keluarga kita menjadikan nama pemimpin keluarga (suami/ayah) sebagai nama keluarga missal: keluarga pak zainal, pun setelahnya sang istri dipanggil bu zainal etc. it’s up to you. Nggak ada yang salah dan nggak dosa.
2.      Tentukan tujuan                   : tujuan ini point penting. Entah menjadikan keluarga tahfidz, atau keluarga akademisi yang mengharuskan semua anggota keluarga mempunyai gelar sarjana, atau keluarga cemara *jebakan umur kalau ini* huwahahaha (sederhana, kasih-sayang, bekerja keras) dll.  
3.      Ketahui dimana titik awal kita        : setelah menegtahui tujuan keluarga kita, lalu sadari dimanakah titik kita saat ini. sudah dijalurnya kah? Atau malah menjauhi tujuan? Kalau pun menjauhi tujuan, putar balik. Dan bersiap melanjutkan tujuan.  
4.      Tentukan core values                        : nilai apa yang kita pegang, itulah nantinya yang akan menjadi landasan untuk melangkah. Missal: iman dan kehormatan. Jadi, jika langkah kita akan mencoreng iman atau kehormatan itu, harus berhenti. Buat ulang project yang akan kita kerjakan setahun yang akan datang.  
5.      Tentukan golden rules                      : ini ibarat rambu-rambu dalam melangkah. Ibarat bahtera, ada kalanya badai menerjang. Saat terjadi badai ini, maka kita harus kembali mengingat golden rules yang sudah kita sepakati bersama. missal: kalau salah satu anggota ada yang marah/ patah hati/ kecewa maka anggota yang lain wajib memberinya ruang/ waktu sendiri untuk berdamai dengan diri sendiri tanpa pertanyaan apalagi intervensi. Buatlah anak-anak kita atau pasangan kita untuk menerima ujian/ cobaan yang siap datang kapanpun karena semua itu adalah sunnah-Nya.
6.      Tentukan bekal financial/ non financial     : apapun perjalannya pasti membutuhkan bekal baik financial maupun non-finansial. Maka yuk mari kita breakdown apa saja yang bisa membuat kita tetap survive dalam perjalanan.
7.      Tentukan support system (orang-orang sekitar kita yang membantu untuk menuju tujuan)           : ini seperti orang-orang terdekat kita, orang-orang yang ada dalam jangkauan kita. Semua support system kita kenalkan ke semua anggota keluarga. Teman, saudara, orang-tua dll/

Nah gimana kapan mulai membuat FSP? Atau masih bingung? Sini duduk ma saya wkwkkwkw. Mungkin butuh banyak bacaan/ referensi buku apa saja yang dilahap oleh pak dodik maupun bu septi untuk segera eksekusi FSP seperti yang mereka ajarkan. Diantaranya buku-buku yang beliau anjurkan adalah:
1.      Toto-chan
2.      Berfikir dan berjiwa besar
3.      Updating buku pendidikan
4.      Agama-sosialis
5.      Moh. Hatta
6.      Sutan syahrir
7.      Strategic planning for … (ini lupa apa kelanjutanya hahah)
8.      Mendidik anak berbakat
9.      Unschooling
1.  Parenting nabawi

Dan inti dari Family Strategic Planning ini adalah mengarahkan anak kita untuk menemukan bakat yang telah ia miliki sejak lahir (fitrah). Dan merupakan doa kita yang kita langitkan dan kerjakan sesuai yang kita planning. Toh hasil akhirnya Alloh-lah sebaik-baik perencana. btw, si Labib kooperatif sekali saat mengikuti emaknya workshop. anteng, duduk, meski sesekali jalan-jalan nggak yang sampai drama. padahal awalnya mau saya taruh di kids corner yang disediakan oleh panitia. tapi mikir lagi, siapa yang bakalan jagain. ayahnya pun ada kegiatan lain, hanya bisa antar-jemput. Alhamdulilah, berkat sounding semalam sebelum acara, Labib pinter sekali saat mengikuti acranya. hanya setelah ishoma, waktunya dia tidur siang, sedikit cranky, dan tidurlah ia diatas lantai *emak jahat banget yak?* hehehe. 


            Kurang lebih 6 jam waktu yang kami habiskan untuk melihat dan belajar bagaimana menjadi orang tua, bagaimana merencanakan perencanaan keluarga. Waktu 6 jam tidak terasa. Semoga akan ada kelanjutan dari workshop ini agar keluarga Indonesia makin tercerahkan dan makin banyak keluarga yang membentuk generasi penenrusnya sebagai generasi unggul. Terbaik diantara yang baik. Kalau bu septi dan pak dodik saja bisa melakukannya dengan sangat baik dan inspratif, kenapa kita tidak? 

You May Also Like

18 comments

  1. 6 jam tuh terasa cepat banget ya kalau mendengar materi parenting dari Bu Septi ya mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa mbaa, jadi pengen workshop part 2 heheheh

      Delete
  2. Nah iya banget kalo jadi orang tua ga harus memerintah aja, tapi melakukan dan memberikan contoh. Ah, semoga bisa menjadi orang tua dambaan anak2 yaa.

    ReplyDelete
  3. Mbak di kelompok berapa? Aku di depan, kelompok 4. Duh ga ngerti mbak IIP Surabaya, kan bisa ketemuan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. di kelompok 2 mbaa, depan pak dodik pas heheheh. iyaa bisa ketemuan ma blogger lain sby yaa kayak mbaa amma, mbaa anggraini.

      Delete
  4. Wah keren materinya kapan yaa di aceh ada acara keren kaya gini

    ReplyDelete
  5. 6 jam kalo materinya padat dan menarik ga berasa pasti. Insightful.

    Btw keluarga cemaraaaa hahaha *kena jebakan batman

    ReplyDelete
  6. Materinya kece nih. Bekal menuju terciptanya generasi unggul yang dicita-citakan ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga implementasinya juga kece. amin.

      Delete
  7. Ahh makasih infonya mbaaak. Aku jadi nambah ilmu soal berkeluarga. Baru mau 2 tahun menikah jadi masih banyak yang harus dipelajariii.

    ReplyDelete
  8. Wah jadi penasaran dengan IIP deh, ibu Peni menginspirasi banget ya

    ReplyDelete
  9. Nice sharing, mb. PR kita jadi ortu memang banyak ya

    ReplyDelete
  10. Jadi kata kata “didiklah anak mu sesuai dengan jaman nya” itu menang benar adanya ya mba, dari Ali bin Abi Tholib. Mendidik anak jaman now yang positif

    ReplyDelete
  11. Keren mbak programnya, mengedukasi orangtua ya bagaimana seharusnya mendidik anak.

    ReplyDelete

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.