Jetlag dari Wanita Karir ke FTM (Full Time Mom)? Ini Cerita Saya

by - January 16, 2018

pixaby

Do you have a partners?

            Untuk melaksanakan resolusi 2018 saya, salah satunya adalah untuk lebih sering posting dan up date tulisan oleh karenanya saya baru saja meminang seorang muslimah. Ibu hebat yang aktivitas sehari-harinya adalah membersamai anak dan suaminya. Saya kenal dengan beliau dalam salah satu komunitas yang kami ikuti. Kalau lihat timelinenya, ibu satu anak ini, tulisannya sudah ada yang masuk buku antologi loh. Saya aja kalah heheheh. Oleh karenanya tak ragu lagi meminangnya menjadi partner dalam ngeblog ini. karena saya tahu, kebanyakan motivasi menulis saya dari luar missal ikut ODOP, ikut Challenge menulis dll. Dan pencarian partner kali ini, tidak lain adalah untuk itu. untuk teman yang mau mengajak saya dalam berkarya dan menulis. Entah dibaca atau tidak. Partner bagi saya adalah mereka yang mau memberi tahu saya jalan yang benar serta mau ‘menyentil’ saya kala saya off track. Jadi sudahkah emak punya partner? Nggak ada salahnya loh mencari. Apalagi sehobi kayak kita #eaaa.



            Tema minggu ini yang kami angkat adalah perasaan jetlag dari wanita karir, menjadi wanita rumahan (IRT). Jadi baca tulisannya mba liefa juga disini yaa. Hayo, disini siapa yang masih jetlag? Atau berencana resign dari pekerjaan demi menjadi ibu yang full time di rumah? Tidak ada salahnya loh kalian membaca cerita kami, sebelum memutuskan untuk benar-benar menjadi FTM (Full Time Mother) atau emak yang masih jetlag karena perubahan kondisi, sini duduk bareng sama kita *sok akrab hehhehe.

            Menurut Wikipedia, Ibu rumah tangga (inggris: housewife) adalah seorang wanita yang bekerja menjalankan atau mengelola rumah keluarganya, bertanggung jawab untuk mendidik anak-anaknya, memasak dan menghidangkan makanan, membeli barang-barang kebutuhan keluarga sehari-hari, membersihkan dan memelihara rumah, menyiapkan dan menjahit pakaian untuk keluarga, dsb. Jadi sudah jelas ya, semua wanita adalah BEKERJA. Yang membedakannya hanyalah dimana wanita itu bekerja. Apakah di ranah public atau domestic. Jadi kalau ada postingan yang menyulut mom war, abaikan saja. Karena kita tahu dengan jelas apa yang menjadi prioritas kita sebagai IBU.


            Kalau kini saya menjadi FTM (Full Time Mom) adalah perjalanan panjang dari sebuah keputusan yang tidak sehari-dua hari dalam memutuskannya. Karena dulunya saya adalah seorang wanita WORKCHOLIC. Sejak semester pertama kuliah pun, saya menempa diri saya untuk tak lagi mengandalkan orang-tua dalam kehidupan saya. Saya dididik untuk mandiri secara financial sebelum umur 20 tahun. Kalau teman-teman yang lainnya asyik hangout, jalan ke mall, atau travelling saat liburan semester, maka saya adalah penghuni setia kos karena masih mempunyai tanggung jawab sebagai pengajar di sebuah lembaga bimbingan. “Gimana ya rasanya melihat dan merasakan matahari terbenam?” itulah perasaan saya sesaat setelah diwisuda. Karena selama 4 tahun di kota metropolitan-Surabaya, hari-hari yang saya lewati tidak jauh-jauh dengan pekerjaan. Tapi dari kesulitan, saya banyak belajar salah satunya adalah menghargai bagaimana membelanjakan uang yang kita punya. Tak hanya hura-hura, main blanja-blanji.

saat masih bekerja dan bisa traveling, yeay!



            Dan saat bertemu belahan jiwa yang insyalloh sehidup-sesurga (amin), pertanyaan pertama dan terakhir yang saya ajukan adalah “Dimanapun saya berpijak, izinkan saya untuk bekerja.” Dan ia pun menyetujuinya. Keadaan berbeda saat Labib lahir. Dengan keadaan rumah tangga yang masih merangkak, suami masih menjadi Dosen honorer di kampus swasta, dan masih belum mandiri. “Makan seadanya di dapur, urus anak saja. Biar salah satu yang bekerja. “  ucap ibu mertua. Itulah moment pertama saya untuk memutuskan menjadi FTM. Jangan tanya bagaimana galaunya saya waktu itu. tinggal di PMI (Pondok Mertua Indah) dengan posisi tidak bekerja merupakan keadaan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Tapi Live must goon. Hidup harus berjalan, apalagi ada bayi kecil, amanah dari Alloh SWT yang harus saya jaga dan rawat.


            Dan benarlah bahwa anak menjadi pelipur lara saat melihat tetangga yang berbaju rapi, memakai high heels, bau wangi hendak berangkat mengajar. Duh kebayang dulu saya pernah pada posisi itu. menjadi wanita karier yang bebas membelanjakan uang kapan saja dan dimana saja. Menjadi wanita karier yang kastanya lebih tinggi dari wanita rumahan (pandangan orang desa). Jangan tanya seberapa sering saya merajuk ke suami untuk mengizinkan saya bekerja lagi. jenuh dan bosan adalah alasan dibalik semuanya. “Iya, boleh.” Jawabnya, “Tapi besok, pas Labib sudah besar, sudah bisa mandiri dan sekolah.” *pengen ngeremus boto* candaan suami untuk menghibur saya.

            Kini tepat 2 tahun usia labib, serta 2 tahun juga usia saya menjadi FTM. Adakah perasaan jetlag yang masih terpendam? Sudah jauh terkikis. Sudah jauh lebih legowo. Sudah bisa berdamai dengan kondisi saat ini. adapun tipsnya adalah sebagai berikut:

1.      Bersyukur     
“Bersyukulah atas nikmat-Ku, maka senantiasa akan kutambah” itulah janji-Nya. Jadi apapun posisi kita saat ini, tetap bersyukur dalam hati dan lisan. Meski kerap kali berontak sisi yang lain. Bukan hanya detik ini, tapi juga detik-detik yang akan datang. Karena kita nggak tahu rencana Alloh sehari kemudian, sebulan, bahkan setahun kemudian. Mungkin kini saatnya kita berikhtiar untuk menyempurnakan amanah Alloh, dan kelak kita bisa kembali beraktivitas seperti sedia kala. Who knows?


2.      Ikutlah komunitas
Berkumpul dengan orang-orang yang mempunyai energy posistif, maka kita juga akan kecipratan energinya. Dan saya bersyukur menjadi bagian dari keluarga besar Institute Ibu Profesional karena di dalamnya ada banyak srikandi-srikandi hebat yang pantas jadi rujukan selain sang founder sendiri “Ibu Septi dan Pak Dodik”. Jadi jangan ragu untuk berkomunitas ya emak. Niatkan menjalin silaturrahmi. Tak harus ke luar rumah kok, karena zaman udah canggih. Kita bisa berkomunitas by phone. Tinggal mainkan aja jemarinya.
Berteman adalah cara saya menekspresikan diri



3.      Buat to do list harian
Bingung mau kegiatan apa setelah merampungkan kegiatan domestic? Tidak ada salahnya kita buat jadwal harian, apa saja yang mau kita lakukan esok hari. Agar waktu tidak terbuang sia-sia.

4.      Gali hobi/ passion yang dulu belum pernah bisa terwujud
Hal pertama yang terlintas dalam otak saya setelah memutuskan resign adalah MENULIS. Karena menulis bagi saya seperti candu. Sehari tidak menulis, seperti ada yang kurang dan sedikit merasa bersalah *Lebay mode ON*. Inilah kesempatan emas kita untuk fakus dengan hobi/ passion yang dulu sempat terhambat karena beban kerjaan yang tiada habisnya.

main yuk, Nak!

5.      Perbanyak bermain dengan anak
Niat dari awal untuk menjadi FTM adalah agar bisa dekat dengan anak. Memnuhi semua haknya. Salah satunya adalah bermain. Jadi, gunakan sebaik-baiknya ya emak. Jangan sampai saat kita sudah menjadi FTM, malah asyik sendiri dengan gadget dan bermedsos ria *ngomong sama cermin* hahaha. Karena waktu bermain ini tidak lebih dari 5 tahun kok, setelahnya anak kita akan enggan bermain dengan kita orang taunya. Mereka akan senang jika bermain dengan teman sebaya.


6.      Hindari kondisi/ siuasi yang bikin baper (bawa perasaan)
Banyak omongan dari tetangga kanan-kiri, saudara yang mempertanyakan keinginan kita? Cuek saja. Saya udah kebal dalam tahapan ini *yaiyalah, 2 tahun bok*. Oleh karenanya kalau mental kita belum sekuat itu, lebih baik menghindar dan tidak memancinng pembicaraan ke arah sana.



Kurang lebihnya 6 tips diatas ampuh untuk saya dalam mengatasi perasaan jetlag serta jenuh-bosan dengan aktivitas di dalam rumah. Kalau cocok bagi saya, belum tentu cocok bagi emak. Maka temukan sendiri hal-hal apa saja yang membuat emak bahagia. Karena emak yang bahagia adalah KUNCI agar keluarga juga bahagia. Atau mau menambahkan tipsnya? Yuk share di kolom komentar ya. 

You May Also Like

28 comments

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.