Review Buku Montessori Play & Learn

by - January 15, 2018


Judul               : Montessori Play & Learn
Penulis             : Lesley Britton (Montessorian dan founder London Montessori Centre)
Halaman          : 277 halaman
Harga              : Rp. 64.000,-
Kategori          : parenting
ISBN               : 978-602-426-079-8  

Emak-emak yang suka bebikin mana suaranya?
            Honestly, saya emak-emak pemalas yang lebih suka scroll time line facebook atau instagram. Karena tak selamanya gadget membawa dampak burukkan? Jadilah saya mengamati aktivitas emak-emak zaman now yang kreatif-kreatif. Dah akhirnya mupeng, pengen dipraktekin ke anak sendiri. Ternyata kegiatan-kegiatan yang berseliweran di timeline itu mereka menyebutnya dengan kegiatan Montessori. Bukan hanya sekadar kegiatan yang tanpa alasan, tapi banyak hal yang bisa kita eksplore kemampuan balita kita dirumah.


            Akhirnya berburulah saya buku yang mengusung tema Montessori ini. ketemulah buku epic yang berwarna hijau. Cerah, secerah masa depan anak kita yang harus kita dampingi #eaaa. Buku terjemahan dari luar negri ini cukup membantu saya untuk mengetahui asal-usul teori Montessori dan kegiatan apa saja yang bisa dipraktekkan di rumah.
            Montessori tercetus dari seorang dokter spesialis anak, ia bernama Maria Montessori. Ia adalah anak tunggal dari seorang akuntan. Dari sini jelaslah ya, bahwa ia memang anak yang cerdas dan dari kalangan menengah ke atas. Saat ia praktekk di sebuah rumah sakit, ia merasa tidak setuju ketika mendapati anak keterbelakangan mental dijadikan satu dengan penjahat criminal tanpa stimulasi sensori apapun. Akhirnya muncullah teori Montessori, yaitu stimulasi yang mencakup semua panca indra dan gerak atau dalam bukunya disebut dengan pendidikan indra dan pendidikan gerak.
            Metode Montessori terkenal dengan periode sensitive. Diantaranya adalah: sensitive pada keteraturan, bahasa, berjalan kaki, aspek social kehidupan, benda kecil, dan belajar memalui indra (halaman: 17). Montessori mendapati bahwa anak-anak melewati fase ketika mereka mengulang aktivitas lagi dan lagi tanpa alasan yang jelas. Mereka sangat terpikat dengan apa yang mereka kerjakan, dan untuk saat itu hanya itu yang menarik bagi mereka (hal: 16). Dari sini dapatlah ditarik benang merah bahwa ada masanya anak yang selalu mengoceh, anak yang selalu berjalan mondar-mandir, anak yang loncat sana-sini. Ternyata mereka sedang dalam tahapan sensitive. Jadi buibu, mak-emak jangan omeli mereka yang sedang sensitive pada periode perkembangannya ya. asal selamat insyalloh masa itu akan terlewati.
            Dan yang paling penting adalah bagaimana sich permainan dan Activitas yang dirancang oleh Montessori hingga bisa memaksimalkan semua indra anak? Kebanyakan permainanya memang kegiatan sederhana seperti ‘menuang’ ‘mencapit’ ‘menggunting’ ‘memilah pom-pom warna dengan capitan’ ‘meremas beras/ biji-bijian’ ‘memasukkan koin ke celenagan’ dan masih banyak yang lainnya. Tapi jangan salah loh, permainan ini mempunyai manfaat besar bagi indra anak. Salah satunya adalah menguatkan otot-otot jari dan tangan yang kelak akan ia gunakan untuk menulis, atau istilahnya ‘pre-writing’.
            “anak-anak akan cepat kehilangan minat jika aktivitasnya terlalu sulit atau terlalu mudah” (hal: 51) ini adalah bagian dari filosofi Montessori. Jadi unuk merancang kegiatan, sebaiknya sesuai dengan filosofinya dan sesuai juga dengan tahapan periode sensitive anak. “Selalu perlihatkan respek terhadap anak, dan dia akan belajar menghormati anda termasuk melakukan hal-hal yang diminta untuk dikerjakan”. Tuh kan emak, sebenarnya mudah untuk menyuruh/ memerintah anak, tinggal kita hargai keberadaanya.

            Sampai saya buat rangkuman berupa mindmapp di buku catatan saya, karena ya itu tadi usefull banget. Mungkin saat ini masih belum terlihat progress dari ‘main-main’ ala montessorian, setidaknya ada kegiatan yang bermanfaat yang kami lakukan. Karena lagi-lagi diingatkan oleh Bu Septi bahwa ibu proesional adalah ibu yang mau main dengan anak. 

You May Also Like

13 comments

  1. Kayaknya saya juga perlu buku kayak gitu mba biar bisa bebikinan dan main sama anak. Ooh semoga dijauhkan dari godaan scrolling instagram :p

    ReplyDelete
  2. Selain buku ini, di rumah ada banyak buku DIY, karena dengan cara itu saya mewaraskan diri setelah memilih resign dari dosen dan fokus pada anak.

    ReplyDelete
  3. saya juga termasuk yang rada malas bikin diy diy gitu buat anak. padahal kalau ngelihatnya kayaknya asyik bisa bikin sendiri mainan buat anak. heu

    ReplyDelete
  4. Aku suka banget main dengan anak sedari kecil, yang sampe sekarang kerasa udah gede, paling senneg kalo udah explore masak2an dan uyel2an d dapur,
    Ahh, buku ini kece banget buat para ibu2 kekinian laah

    ReplyDelete
  5. jadi kepingin cari buku ini. Sejauh ini akupun suka banget main sama anak anak. Mainan anak anak di rumah apa aja, udsh aku mainin sama anak anak termasuk mainan anak laki lakiku

    ReplyDelete
  6. Seru kali ya bisa selalu main sama anak. Bisa DIY juga. Buku ini juga menarik. Boleh deh buat nambah koleksi ^^

    ReplyDelete
  7. Duh padahal saya selama ini suka ogah kalau diajak main sama Fahmi,putra saya... Hikz!

    ReplyDelete
  8. aku dari dulu mau beli buku ini tapi belum kesampaian sampai skrg

    ReplyDelete
  9. Mau hunting buku ini juga ah ke gramedia, biar bisa cepet-cepet baca..

    ReplyDelete
  10. Aku ngga suka bebikin, diem aja lah gk bersuara hehe. Tp rasa2nya tetep penting ya punya buku ini :D

    ReplyDelete
  11. Saya punya bukunya tapi belum selesai baca semua hehe.
    Dari buku yang ijo itu jd tahu sejarahnya Montessori bikin metode pendidikannya TFS :D

    ReplyDelete
  12. Mba makasih banyak review nya, aku sedang hamil 6 bulan dan lagi banyak baca buku-buku parenting dan perkembangan anak, supaya gak kagok nanti kalau beneran sudah jadi ibu hehe

    ReplyDelete
  13. Aku suka membelikan atau bikin mainan yang melatih otot,dll untuk anak-anak

    ReplyDelete

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.