Saat Mama Curhat di Sosial Media

by - January 22, 2018

mama minta piknik

            Assalamualaikum, udah nungguin kolaborasi kita saat ini? tema apa ya yang kita angkat? Emak-emak itu suka sekali sesuatu yang baru/ viral. Dan pada kesempatan kali ini, saya dan mba liefa akan membahas video viral mama minta piknik. Sejauh mana pandangan kami dalam melihat video ini. lihat juga postingan mba liefa ya. 


            Setiap harinya selalu ada yang viral. Dan saat saya amati, kebanyakan yang viral adalah aksi para emak-emak. Beberapa bulan kebelakang ada video viral seorang emak yang membubarkan tawuran bocah SMP dengan sebuah sapu (kalau begini saya acungin jempol). Lalu yang sampai sekarang masih hangat diperbicangkan adalah seorang emak yang sudah dandan cantik, nungguin suaminya yang belum pulang-pulang. Pengennya diajak jalan-jalan, walau hanya ke alf*m*rt (lumayan dech dapat voucher belanja gratis hehehe. ada juga loh jawaban dari si abang, entah ini bener atau hanya parodi. #hadehh 
Bagaimana respon pertama emak saat melihat ini? tertawa? Sedih? Atau biasa-biasa saja? Kalau saya saat melihat video ini seakan saya melihat diri saya sendiri setahun yang lalu. Saat masih berfikiran sempit, saat masih ‘rempong’ mengurus bayi sendirian, dan kerjaan IRT yang seolah tiada pernah habis. Seakan saya mau melarikan diri dari rumah. Menyepi sendiri, dan melakukan me time walau hanya 15 menit.

Tak ada yang salah terkait curhatan mbak ini. pun saya lihat sesekali air matanya berusaha keluar, ia tahan. Tapi mengunggahnya di social media adalah sebuah perilaku yang kurang bijak. Karena bagaimanapun social media adalah ruang public. Akan ada banyak orang yang akan terseret di dalamnya. Suami, anak, ibu, bapak, mertua dll. Bukankah kita tidak ingin menyangkut pautkan ‘rasa’ kita terhadap orang tersayang? Apalagi yang menjadi objeknya adalah suami. Seseorang yang seharunya kita patuhi perintahnya, kita tutup rapat-rapat aibnya, dan kita layani sepenuh hati. Memang tidak mudah mengungkapkan isi hati kepada suami. Apalagi yang rumah tangganya baru seumur jagung *tunjuk hidung sendiri*. Inilah gunakanya komunikasi produktif (kuliah bunsay pertama). Karena sejatinya pria adalah makhluk logis. Ia tidak bisa menebak isi hati istrinya jika tidak diungkapin. Makanya, please NGOMONG mak, NGOMONG. Bicarain semua yang emak rasa heart to heart bukan ke sosmed. 

“Aku pengen jalan-jalan ke mal”
“Aku pengen makan bakso di luar”
“Aku capek, pengen sesekali dipijitin.”
Dan seabrek keinginan emak yang tiada ujung itu. tapi bicaranya yang jelas (Keep it short and simple) and in the right time. Artinya aku ingin pergi, pergi kemana? Terserah. Ini yang paling nggak disukai pria. Kata TERSERAH kan ambigu banget ya? Daripada nggak ada tujuan yang jelas, si suami mending milih tidur di rumah. Hayo, siapa yang salah? Tapi jauh sebelum mengedepankan ego, yuk lihat kondisi kita sebelumnya. Mampukah suami kita memenuhi keinginan kita? Kalau mampu, It’s OK. Tapi kalau belum, hibur diri kita sendiri dengan selalu berfikir positif. Utamakan KEBUTUHAN bukan KEINGINAN. Buat skala prioritas. Bijaklah dalam manajemen keuangan. Karena tidak semua keinginan kita layak dipenuhi.

Rumah tangga memang seperti permen nano-nano. Manis, asam, asin, rame rasanya. Saat emak pingin piknik/ jalan-jalan eh si abang bilang capek karena seharian kerja. Memang sich ada benarnya, maka menurut hemat saya, tak selamanya kita bisa bergantung kepada suami. Kalau beliau bisa mengantarkan kita, alhamdulilah. Kalau tidak, cukup minta izin aja. Lalu pergi sendiri atau bersama anak. As simple as that. Tapi prakateknya? Tergantung persepsi emak. Yuk bijak mengelolah emosi, agar dami di hati.  


You May Also Like

13 comments

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.