Mengenal Gaya Komunikasi

by - February 14, 2018

pixabay

        
         Rabu yang lewat ini kami (saya dan mba liefa dalam postingan kolaborasi) membahas pertanyaan kedua dari seorang ibu yang mereskan anaknya dalam komunikasinya sehari-hari dan bagaimanakah seharusnya komunikasi produktif itu untuk anak maupun orang dewasa.


Pertanyaan: tentang tipe anak ada yang bisa ngobrol atau ngerespon pertanyaan sembari dia nonton atau main gadget (read: diajak ngobrol sebari main gadget) sedangkan ada anak yang no respon saat di tanya atau diajak berbicara sembari nontonn atau main gadget, sampai orang tua harus mengulang dengan nada tinggi untuk mengintruksi. Kadang ini juga terjadi pada orang dewasa saat istirahat semua pada pegang HP salah seorang bisa sambil cerita/ ngerespons sekitar walaupun sembari interaksi di dunia maya juga. Sementara ada yang focus hanya pada HP nya masing-masing.

Jawab: “every child are unique”(saya mengutip postingannya mba liefa) kita sepakati diawal. Menyamakan suhu bahwa semua anak adalah anugrah, apapun perbedaannya. Setelah kita samakan suhu, baru kita mencari tahu sebab-akibat yang ditimbulkana oleh adanya perbedaan mungkin juga bisa kita lejitkan potensinya, jika ada.


            Tentang gaya komunikasi ini ada 4 berdasarkan sumber disini. Yaitu
1.      Gaya komunikasi visual          : orang/ anak yang memiliki gaya komunikasi visual, mereka cenderung MELIHAT orang yang berbicara dengannya. Tidak hanya bisa mendengar, atau menyentuh. Sering kesulitan mengingat instruksi secara verbal dan mudah bosan dengan penjelasan verbal yang lama karena pikiran mereka cenderung mengembara. Mereka lebih senang membaca sendiri daripada dibacakan adalah salah satu cirri anak/ orang yang memiliki gaya komunikasi visual.

2.      Gaya komunikasi auditori       : orang/ anak yang yang memiliki gaya komunikasi auditori, mereka cenderung berlajar dari kemampuannya MENDENGARKAN.  Seorang auditory senang kalau diberitahu tentang cara mereka melakukan dan meresonnya dengan tone suara atau kalimat tertentu. Orang auditory ketika berbicara enak didengar karena menggunakan intonasi yang variatif.

3.      Gaya komunikasi kinestetik    : mereka biasanya memasukkan perasaan dan emosi mereka untuk mendapatkan rasa atas apa yang mereka lakukan. Mereka merespon dengan FISIK dan sentuhan. Bisa berdiri lebih dekat disbanding dengan orang visual dengan lawan bicara. Mereka mengingat dengan melakukan atau melewati sesuatu adalah cirri orang yang memiliki gaya komunikasi kinestetik.

4.      Gaya komunikasi auditory digital      : orang tipe Auditory digital akan menghabiskan waktu dengan berbicara pada dirinya sendiri.mereka selalu berfikir rasional dimanapun, apapun yang dia lihat, dengar dan rasakan akan di rasionalkan. Bahasa tubuhnnya cenderung sedikit gerak atau tetap adalah cirri-ciri gaya komunikasi AD.

Jadi menurut tipe gaya komunikasi anak yang bisa merespon sambil main gadget termasuk dalam kategori anak dengan gaya komunikasi AUDITORY. Dan anak yang tidak bisa multitasking (main HP sambil merespon sekitar) mereka termasuk kedalam anak dengan tipe komunikasi visual.

Nah bagaimana agar bisa membuatnya merespon intrukasi yang berikan? Materi pertama kelas bunda sayang institute ibu professional menjawab kegelisahan kita dalam memberi perintah ke anak. Hal-hal yang bisa kita lakukan adalah:

1.      Gunakan perinsip KISS (keep it short and simple). Selalu gunakan kalimat tunggal. Missal: sudah waktunya shalat, ayo shalat dulu. Ganti dengan kalaimat tunggal “Ayo shalat dulu.”
2.      Intonasi dan suara yang ramah. Jangan ada tone suara yang meninggi meski hati meredam lelah dalam pengasuhan. Tetaplah ramah kepada anak. Satu/dua kali tidak direspon, mungkin ke-empat atau bahkan kelima kalinya kita direspon, it’s OK.
3.      Focus pada masa depan. Usahakan jangan ada kalimat seperti kemarin, minggu lalu dll. Focus saja apa yang kita harapakan dari anak tanpa mengungkit masa lalu.
4.      Mengendalikan emosi. Itulah kenapa ada “Time Out” saat emosi berada di puncak, jangan sekali-kali berbicara dengan anak. Mintalah izin untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Lalu setelah ‘plong’ baru melanjutkan komunikasi yang tertunda.  
5.      Memberinya pilihan. Berikan merekan tanggung jawab atas apa yang mereka lakukan dan akan melakukan seperti kesepakatan yang telah dibuat.
6.      Menunjukkan empati. anak butuh perhatian, ksih-sayang dan sentuhan kita orang tuany. Perbanyaklah aktivitas dengan mereka sehingga perintah kita lebih didengar.
7.      Observasi. Cari tahu kenapa anak tidak mudah melakukan perintah kita, gaya komunikasi seperti apakah anak kita? Dan lakukan sesuai dengan tipenya yang telah saya singgung diatas.
8.      Refleksi pengalaman.
9.      Jelas memberikan pujian/ kritikan.
10.  Meminimalisir kata jangan
11.  Perbanyak kalimat “BISA”


Komunikasi produktif dengan orang dewasa:
1.      Clear & clarifiy
2.      Choose the right time
3.      Kaidah 7-33-55 artinya 7% kalimat verbal, 33% intonasi, 55% bahasa tubuh.
4.      Intensity of eye contac
5.      Iam responsibility of my communication

Diatas adalah cara kita merespon komunikasi dengan anak atau orang dewasa secara efektif. Tak hanya itu, perbedaan jenis kelamin juga sangat berpengaruh. Biasanya wanita bisa lebih multitasking daripada pria. Itulah kenapa wanita/ istri bisa melakukan banyak hal dalam mengerjakan aktivitas dalam rumah. Mencuci sambil memasak, menyetrika sambil balas chat grup WAG #eh (jadi ketahuan kan heheheh) karena komunikasi adalah KUNCI terbentuknya keluarga harmonis, teruslah berproses agar menjadi ibu yang meneyenangkan dan ibu yang bahagia.


You May Also Like

0 comments

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.